Apa Itu Nifas?

darah2
Sebagaimana yang diketahui, darah yang dikeluarkan oleh seorang wanita ada 3 macam:

  1. Darah haid
  2. Darah istihadlah, dan
  3. Darah nifas

Pada setiap jenis darah tersebut agama islam memiliki ketentuan hukum yang telah diatur oleh syariat.  Maka wajib bagi seorang muslimah untuk mempelajari ketiganya agar dapat membedakan dan mengetahui solusi pemecahan masalahnya ketika sedang mengalaminya.

Syariat memberikan perhatian khusus terhadap wanita dalam ketiga masalah tersebut karena sangat berkaitan dengan ibadah yang mereka lakukan. Maka, kali ini akan kami rangkum secara rinci pembahasan mengenai nifas.

Pengertian Nifas

Nifas menurut arti bahasa adalah melahirkan, sedangkan menurut arti syar’i adalah kumpulan darah haid selama masa mengandung yang akan keluar setelah sempurna melahirkan, baik anak yang dilahirkan itu hidup ataupun mati. Kesimpulannya, yang dihukumi darah nifas adalah yang terpenuhi di dalamnya 4 syarat di bawah ini:

  1. Keluarnya darah setelah sempurnanya melahirkan.
  2. Keluarnya darah sebelum berlalunya masa 15 hari, karena jika setelahnya, maka dihukumi darah haid jika memenuhi syarat, dan dia dihukumi tidak mengalami nifas.
  3. Antara 2 darah tidak terpisahkan masa 15 hari, dan jika dipisah masa itu, maka darah yang kedua bukan darah nifas, akan tetapi darah haid jika memenuhi syarat.
  4. Darah yang keluar semuanya dalam masa 60 hari, dan jika darah itu keluar setelah 60 hari, maka bukan darah nifas, akan tetapi darah istihadlah.

Masa Nifas

Paling singkat (cepat) masa nifas adalah sekedar setetes, dan paling lamanya adalah 60 hari, sedangkan umumnya seorang wanita mengeluarkan darah nifas selama 40 hari, semua ini berdasarkan penelitian Imam Syafi’i RA. Masa nifas dihitung mulai setelah keluar tubuh bayi secara keseluruhan, bukan dihitung mulai keluamya darah, akan tetapi hukum nifas berlaku padanya setelah mengeluarkan darah, sedangkan waktu antara lahirnya bayi dengan keluarnya darah dihukumi masa suci, maka wajib baginya shalat, boleh dijima’ (dikumpuli oleh suami) dan lain sebagainya.

Contoh:

Seorang ibu setelah melahirkan tidak mengelu­arkan darah, satu hari setelah itu dia mengeluarkan darah, maka wajib baginya melakukan shalat pada hari yang kosong dari darah dan boleh bagi suaminya untuk menggaulinya (jima’) karena pada hari itu adalah masa suci ibu tersebut.

Contoh lain:

Seorang ibu setelah melahirkan tidak mengelu­arkan darah sampai 10 hari, setelah itu dia mengeluarkan darah, maka 10 hari itu dihitung termasuk 60 hari, akan tetapi dihukumi masa suci. Hukum nifas ditetapkan setelah mengeluarkan darah, sehingga jika seumpama dia mengeluarkan darah lebih dari 50 hari maka dihukumi istihadlah karena terhitung dari melahirkan lebih dari 60 hari.

Adapun darah yang keluar bersamaan dengan keluarnya anak, maka tidak dihukumi sebagai darah nifas, tetapi dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Apabila darah tersebut bersambung dengan darah haid sebelumnya maka darah tersebut dihukumi darah haid.
  2. Apabila darah tersebut tidak bersambung dengan darah haid sebelumnya, maka darah tersebut dihukumi darah fasad (penyakit), atau yang dinamakan oleh fuqoha’ darah tolq (darah ketuban)

Contoh:
Seorang ibu dua hari sebelum melahirkan mengeluarkan darah haid karena menurut pendapat yang mu’tamad bahwa seorang wanita hamil bisa juga mengeluarkan darah haid jika memenuhi syarat, dan ketika melahirkan bersamaan dengan keluamya bayi, dia juga mengeluarkan darah, maka darah tersebut dihukumi darah haid, sebab dia belum melahirkan anak dengan sempurna, sedangkan darah nifas dimulai jika keluamya setelah lahirnya anak dari rahim ibunya dengan sempurna.

Masa Suci antara Nifas dan Haid

Sebagaimana masa suci antara dua haid adalah 15 hari 15 malam, begitu pula di antara nifas dan haid maka jika darah nifas berhenti selama 15 hari, lalu keluar lagi maka darah yang kedua adalah darah haid karena sudah dipisah masa 15 hari dan jika masa yang kosong dari darah kurang 15 hari, maka darah yang keluar masih dihukumi darah nifas.

Contoh:
Jika ada seorang wanita yang baru melahirkan mengeluarkan darah selama sehari semalam, kemudian berhenti, dan keluar lagi setelah 15 hari, maka darah pertama dihukumi darah nifas dan darah di hari ke-15 dihukumi darah haid, sedangkan hari-hari di antara keduanya adalah masa sucinya, begitu pula jika sama sekali tidak mengeluarkan darah setelah melahirkan sampai melebihi 15 hari, maka semuanya adalah masa sucinya, sedangkan darah yang keluar setelah itu dihukumi darah haid.

Apabila hal ini terjadi pada seorang wanita, maka wanita tersebut tidak mempunyai nifas.

Nifas Ibu yang Melahirkan Anak Kembar

Apabila seorang ibu melahirkan dua anak (anak kembar), maka masa nifasnya dihitung setelah kelahiran anak kedua, sedangkan darah yang keluar setelah kelahiran anak yang pertama tidak dihukumi darah nifas melainkan darah haid jika bersamaan dengan kebiasaan haidnya, atau bersambung dengan haid sebelumnya. Namun jika tidak, maka darah tersebut merupakan da­rah fasad (penyakit).

Nifas Wanita Keguguran

Bagi wanita yang keguguran, darah yang keluar setelahnya tidak dinamakan darah nifas kecuali jika janin tersebut sudah berupa segumpal darah beku atau lebih (segumpal daging atau sudah berbentuk). Adapun darah yang keluar sebelumnya maka tidak dinamakan darah nifas.

Demikian yang dapat kami rangkum, semoga bisa menjadi solusi dan bermanfaat bagi para pembaca.

1 Comment on Apa Itu Nifas?

Leave a comment

Your email address will not be published.

*