Website Resmi Habib Segaf Baharun

Bagaimanakah Hukum Sujud Sahwi bagi Ma’mum ?

     sujud 3    Hukum melakukan sujud sahwi bagi seorang ma’mum adalah wajib karena mutaba’ah (kita harus meng-ikuti imam dalam pekerjaannya baik yang wajib maupun yang sunnah) sehingga jika imam kita melakukan sujud sahwi maka wajib atas kita sebagai ma’mumnya untuk mengikutinya dalam sujud sahwi tersebut, dan jika kita tidak melakukannya padahal imamnya melakukan sujud sahwi maka batal sholat kita.

Dan perlu diketahui bahwa semua kesalahan/kekurangan yang dilakukan oleh seorang ma’mum ditanggung oleh imamnya, sehingga seorang ma’mum tidak boleh melakukan sujud sahwi karena kesalahannya sendiri kecuali jika imam­nya ternyata sholatnya tersebut dilakukan dalam keadaan berhadats bukan dalam keadaan suci, begitu pula jika sebab-sebab sujud sahwinya terjadi disaat imamnya melakukan rakaat yang lebih maka ma’mum boleh melakukan sujud sahwi karena kesalahannya sendiri yang terjadi dalam dua gambaran tersebut.

Kecuali jika kesalahan/kekurangan (sebab-sebab sujud sahwi) itu dilakukannya sebelum atau sesudah menjadi ma’mum dari imam itu maka tidak ditanggung oleh imam tersebut dan disunnahkan baginya untuk melakukan sujud sahwi karenanya seperti dua gambaran dibawah ini:

  1. Jika dia pertama kali melaksanakn sholat sendirian tidak berjama’ah dan dalam sholatnya itu dia melakukan sebab-sebab sujud sahwi, kemudian setelah itu dia berma’mum kepada seorang imam maka nanti setelah imamnya selesai salam, sunnah baginya untuk melakukan sujud sahwi karena kesalahannya yang terjadi sebelum dia menjadi ma’mum dari imam itu.
  2. Jika ma’mum tersebut adalah seorang ma’mum yang masbuk (ketinggalan beberapa rakaat dari imamnya), maka bukankah setelah imamnya mengucapkan salam, dia harus menambah rakaat yang kurang, lalu ketika dia menambah rakaat yang kurang tadi dia melakukan salah satu sebab-sebab sujud sahwi maka disunnahkan baginya untuk melakukan sujud sahwi karena kesalahan itu terjadi ketika dia tidak menjadi seorang ma’mum dari imam itu sehingga tidak ditanggung oleh imamnya tersebut. Kesimpulannya jika ma’mum melakukan sebab-sebab sujud sahwi di saat dia menjadi seorang ma’mum maka dia tidak sujud sahwi sedangkan jika sebab-sebab sujud sahwinya itu terjadi sebelum atau setelah menjadi ma’mum maka disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi karenanya.

     Dan jika ada seorang ma’mum masbuk (ketinggalan beberapa rakaat dari imamnya) yang imamnya itu melakukan salah satu sebab-sebab sujud sahwi maka jika imam-nya tersebut melakukan sujud sahwi wajib atasnya untuk sujud juga karena mutaba’ah (kita harus mengikuti imam dalam pekerjaannya baik yang wajib maupun yang sunnah) untuk mengikutinya dan nanti diakhir sholatnya disunnahkan lagi baginya untuk melakukan sujud sahwi lagi karena kesalahan imamnya itu. Dikarenakan semua kesalahan imam juga menular kepada ma’mum sehingga sunnah baginya untuk sujud lagi karena tempatnya sujud sahwi adalah setelah tasyahud akhir sedangkan yang tadi dilakukan bersama imamnya baginya bukan tasyahud akhir akan tetapi karena mutaba’ah, oleh karenanya disunnahkan baginya untuk melakukannya lagi, itupun jika imamnya melakukan sujud sahwi karena kekurangan yang dilakukannya apalagi jika dia tidak melakukannya maka disunnahkan bagi ma’mumnya untuk melakukannya diakhir sholatnya karena kesalahan imamnya itu.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives