Website Resmi Habib Segaf Baharun

Hukum Wadi’ah (Penitipan Barang)

barang    Menitipkan barang menjadi kebiasaan kita sehari akan tetapi terkadang kita tidak mengerti akan hukumnya secara detail, karena ada kemungkinan barang titipan kita hilang atau rusak atau memang sengaja dirusakkan oleh seseorang yang kita titipi, sehingga bagaimanakah hukumnya jika terjadi hal-hal semacam itu?, begitu pula bagaimanakah hukum dari menerima barang titipan?, dan banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan hukum menitipkan suatu barang atau menerima titipan orang oleh karena itu penting kiranya kita memahami bab ini sebelum kita melakukan atau menerima sebuah titipan.

A. Definisi Wadi’ah (Penitipan Barang)

    Pengertian kalimat wadi’ah dalam Bahasa Arab berarti suatu barang yang diserahkan kepada orang lain untuk dijaga. Sedangkan menurut arti syar’i adalah suatu akad yang dilaksanakan untuk meminta penjagaan dari suatu harta

B. Dasar Hukum Wadi’ah (Penitipan Barang)

     Adapun dalil dibolehkannya melakukan transaksi wadi’ah adalah ayat dan Hadits sebagai berikut: firman Allah Swt. yang berbunyi :

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ اِلٰى أَهْلِهَا _النسأ : 58

Artinya : “Sungguh Allah memerintahkanmu untuk menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya” (QR. An-Nisa’ : 58)

 Hadits Nabi Saw yang berbunyi :

اَدِّ الْاَمَانَةَ اِلٰى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ _رواه ابو داود

Yang artinya : “Laksanakanlan amanat dari orang yang memberi amanat tersebut kepadamu dan janganlah kamu mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu” (HR. Abu Dawud

C. Rukun-rukun Wadi’ah (Penitipan Barang)

Rukun-rukun dari akad wadi’ah ada 4 yaitu sebagai berikut :

  1. wadi’ah, yaitu barang yang dititipkan
  2. shîghoh, yaitu akad serah terima
  3. mûdi’, yaitu orang yang menitipkan barang titipan
  4. wadî’, yaitu orang yang menerima titipan barang

Contoh Dari Akad Wadi’ah

     Misalnya Zaid berkata kepada Umar : “Saya titipkan kitab ini padamu” kemudian Umar menjawab: “Baik saya terima” atau Umar langsung mengambil kitab tersebut, maka Zaid disini sebagai mûdi’ dan Umar sebagai wadî’ dan buku tersebut sebagai wadi’ah sedangkan ucapan Zaid “Saya titipkan…” dan ucapan umar “Baik saya …” adalah shîghohnya.

D.  Hukum Menerima Barang Titipan

     Adapun hukum menerima barang titipan dari orang yang menitipkan kepadanya adalah sebagai berikut:

  1. Wajib, jika memenuhi dua syarat berikut :
    1. Apabila tidak didapatkan orang lain yang bersifat jujur dan dapat dipercaya selain dirinya dalam jarak masafah a’dwa (yaitu jara 84 kilo dari tempat dia berada).
    2. Apabila pemilik barang merasa takut kehilangan hartanya jika barang itu tetap ada pada dirinya.
  2. Sunnah, apabila dia bukan satu satunya yang bersifat jujur dan dapat dipercaya oleh orang yang akan menitipkan barang itu, akan tetapi dia juga menemukan orang lain yang jujur dan dapat di percaya selain dia, maka sunnah hukumnya jika dia mengambil barang titipan tersebut karena dengan begitu dia telah membantunya, dengan syarat dia harus yakin dengan kejujuran serta amanahnya dalam menjaga barang tersebut baik pada waktu itu atau di masa mendatang.
  3. Mubah, apabila orang yang menerima titipan itu tidak yakin dapat menjaga kejujuran serta amanah dirinya dalam menjaga barang yang dititipkan kepadanya dan si pemilik mengetahui akan hal itu .
  4. Makruh, apabila orang yang menerima barang titipan tersebut tidak yakin dapat menjaga amanah dirinya dalam menjaga barang yang dititipkan kepadanya di kemudian hari, sedangkan si pemilik barang titipan tidak mengetahui akan hal itu, adapun jika pemiliknya mengetahui dengan ketidakyakinan dirinya akan kejujurannya di masa mendatang maka hukum menerimanya adalah mubah sebagaimana diketahui sebelumnya.
  5. Haram, apabila orang yang menerima titipan tersebut yakin bahwa dirinya akan mengkhianatinya terkait dengan barang titipannya tersebut pada saat menerima barang titipan tersebut, sedangkan pemiliknya tidak tahu akan hal itu, maka haram atasnya menerima barang titipan tersebut, begitu pula jika dia tidak mampu menjaganya karena dalam dua hal tersebut akan menyebabkan barang titipan tersebut hilang atau rusak.

     Dan apabila dia sudah bersedia dan menerima barang titipan tersebut, maka wajib baginya untuk menyimpannya di tempat yang semestinya sebagaimana umumnya orang meletakkan barang yang semacam itu, dan antara satu benda dengan benda lainnya berbeda tempat penyimpanannya tergantung kepada barang titipan serta kekuatan pemerintahan di tempat dia berada, misalnya barang titipannya berupa uang maka harus disimpan dalam lemari atau mobil, maka dalam garasi atau dalam pagar rumah, atau makanan maka dalam kulkas dan lain-lain, dan jika di tempat yang kuat keamanannya seperti di Negara Saudi maka meletakkan mobil depan rumah atau dipinggir jalanpun sudah termasuk telah meletakkan pada tempat semestinya karena di sana aman.

Sedangkan jika tidak meletakkanya di tempat yang semestinya sebagaimana yang telah diterangkan di atas maka jika hilang atau rusak dia harus menggantinya.

E. Hukum Jika Orang yang Menerima Barang Titipan Mengaku Telah Mengembalikannya Kepada Pemiliknya

    Jika seseorang yang menerima titipan barang mengaku telah mengembalikan barang titipan tersebut kepada pemiliknya, maka pengakuannya dipercaya asalkan dia berani bersumpah bahwasanya dirinya benar-benar telah mengembalikannya, karena tanganya dalam hal itu adalah berupa tangan amanah bukan tangan dlomân sebagaimana telah disebutkan dalam qoidah fiqih :

Setiap orang yang tangannya amanah (terpercaya) mengaku bahwa dirinya telah mengembalikan barang yang dipercayakan kepadanya maka pengakuannya dipercaya asalkan dia berani bersumpah, kecuali dua orang yaitu seorang yang mengambil barang gadaian dan orang yang menyewa maka jika dia mengaku telah mengembalikan barang yang digadaikan kepadanya atau yang disewanya tidak dapat dipercaya kecuali jika dia membawa bukti akan hal itu”.

Dan jika dalam pengembalian barang titipan tersebut memerlukan biaya maka semua biaya yang diperlukan ditanggung oleh pemilik barang titipan tersebut.

F. Hukum Jika Orang yang Menerima Barang Titipan Mengaku Bahwa Barangnya Telah Hilang Atau Rusak

    Jika orang yang menerima barang titipan mengaku bahwa barang yang dititipkan kepadanya telah hilang atau rusak maka hukumnya diperinci sebagai berikut :

  • Jika dia mengaku barang itu hilang atau rusak tanpa menyebutkan sebab sama sekali atau menyebutkan sebab yang samar seperti hilang dicuri orang, maka pengakuannya tersebut dipercaya asalkan dia berani bersumpah bahwa dia tidak berbohong dalam pengakuannya.
  • Dan jika dia menyebutkan sebab hilang atau rusaknya barang titipan tersebut dengan sebab yang tampak dan dapat dibuktikan maka hukumnya diperinci sebagai berikut:
    • Jika sebab yang disebutkan tampak dan diketahui banyak orang dan bukan hanya dia yang mengalami serta dia tidak dicurigai berbohong dalam hal itu, maka pengakuannya dipercaya tanpa harus bersumpah atau membawa bukti, dan jika dia dicurigai berbohong dengan pengakuannya maka dipercaya juga asalkan dia berani bersumpah.
    • Jika sebab yang disebutkan tampak dan dapat dibuktikan tapi tidak diketahui banyak orang seperti kebakaran tapi tidak merata atau dia mengaku dirinya telah dirampok maka pengakuannya tersebut dipercaya asalkan dia berani bersumpah bahwa pengakuannya itu benar.
      1. Jika salah satu pihak meninggal dunia
      2. Jika salah satu pihak menjadi gila
      3. Jika salah satu pihak pingsanDan jika dia mengaku rusak atau hilangnya karena suatu sebab yang tampak tapi tidak diketahui sama sekali oleh orang di sekitarnya maka dia harus membuktikan bahwa pengakuannya itu benar, kemudian jika dia membawa buktinya berupa dua orang saksi atau satu orang dengan sumpahnya kemudian dia bersumpah, maka dia dipercaya dalam pengakuannya tersebut. 

        KAPANKAH AKAD WADIAH MENJADI BATAL ?

        Karena akad wadi’ah adalah akad yang boleh dibatalkan oleh dua belah pihak, maka jika salah satu dari dua belah pihak membatalkan akad wadiah tersebut dengan wâdi’ mengembalikan barang titipannya atau mûdi’ orang yang menitipkan barang titipan tersebut telah mengambilnya kembali barang miliknya tersebut dari wadî’, maka selesailah akad wadi’ahnya begitu pula akan batal akad wadi’ah jika terjadi salah satu dari tiga hal berikut ini :

      Kapankah Seorang yang Menerima Barang Titipan Menggantinya Jika Rusak Atau Hilang ?

      Sebagaimana diketahui bahwa seorang wadî’ yaitu orang yang menerima barang titipan tangannya adalah tangan amanah dengan kata lain jika hilang atau rusak asalkan bukan karena keteledorannya maka dia tidak wajib mengganti, akan tetapi dalam 10 hal dibawah ini dia wajib mengganti barang yang dititipkan kepadanya karena keteledorannya yaitu sebagai berikut:

      • Jika dia menitipkan barang titipan tersebut kepada orang lain tanpa seizin pemiliknya padahal tidak ada uzur pada dirinya, adapun jika karena adanya uzur pada dirinya misalnya dia tidak dapat menjaganya lagi karena sakit dan lain-lain jika masih tetap bersamanya maka dia tidak wajib menggantinya.
      • Jika dia melakukan bepergian dengan membawa serta barang titipan tersebut padahal dia mampu untuk mengembalikannya sebelum dia pergi, maka jika hilang karenanya, dia wajib menggantinya karena di jalanan tidak seaman kalau di rumah.
      • Jika dia memindahkan barang titipan tersebut ke suatu tempat atau rumah yang dibawah standar keamanannya dibanding di rumahnya, maka jika hilang karenanya, dia wajib menggantinya.
      • Adapun memindahkannya ke rumah atau suatu tempat yang sama tingkat keamanannya atau justru lebih tinggi tingkat keamanannya lalu hilang atau rusak maka dia tidak wajib menggantinya.
      • Menyangkal bahwa pada dirinya ada barang titipan tersebut, setelah diminta oleh pemiliknya walaupun setelah itu dia mengakuinya maka jika hilang setelah adanya penyangkalan darinya, dia wajib menggantinya.
      • Jika dia tidak berwasiat mengenai barang titipan tersebut di saat dia sakit atau bepergian, baik kepada hakim setempat atau kepada seseorang yang dapat dipercaya jika dia tidak menemukan seorang hakim, maka jika setelah itu barang titipannya hilang atau rusak karena sebab itu maka dia wajib menggantinya.
      • Jika dia teledor dalam menjaga barang titipan tersebut dari suatu hal yang akan mengakibatkan rusak atau hilangnya barang titipan tersebut misalnya membiarkan barang tersebut terkena air hujan lalu rusak karenanya, maka dia wajib menggantinya.
      • Jika dia menolak untuk menyerahkan barang titipan tersebut tanpa alasan yang dapat diterima ketika diminta kembali oleh pemiliknya, lalu kemudian menjadi hilang atau rusak maka dia wajib menggantinya.
      • Menelantarkan barang titipan tersebut seperti diletakkan di sembarang tempat sehingga menyebabkan hilang atau rusaknya barang tersebut maka dia wajib menggantinya.
      • Menggunakan barang titipan tersebut tanpa izinnya, seperti memakai baju atau mobil yang dititipkan kepadanya lalu rusak atau hilang maka dia wajib menggantinya.
      • Menyalahi pemiliknya dalam menyimpan barang tersebut atau tidak mengikuti saran dari pemiliknya dalam menunujuk tempat yang aman untuk menyimpannya, lalu ternyata benar-benar hilang karenanya maka dia wajb menggantinya, kecuali jika disimpan di tempat yang lebih aman dari tempat penyimpanan yang disarankan oleh pemiliknya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives