Hukum Orang Yang Meninggal Sebelum Membayar Qodlo’ Puasa Ramadlan

meninggal

Apabila seseorang meninggal sebelum membayar hutang puasa Ramadlan, hukumnya dapat diperinci sebagai berikut:

“Jika orang itu tidak berpuasa pada bulan Ramadlan dengan tanpa udzur, maka wajib atas keluarganya untuk membayar fidyah dari harta warisan sebanyak 1 mud (6,25 Ons dari beras) setiap harinya, atau berpuasa sebagai ganti puasanya. Baik meninggalnya setelah tamakkun (ada waktu dan kemampuan untuk mengqodlo’nya akan tetapi tidak dilakukannya), atau sebelum tamakkun.

Sedangkan jika tidak berpuasanya karena udzur, sakit atau haid pada waktu itu maka hukumnya adalah jika dia meninggal sebelum tamakkun, contohnya dia sakit pada bulan Ramadlan dan dia meninggal pada tanggal 2 Syawwal, maka dia berarti dia tidak ada waktu dan kemampuan untuk mengqodlo’nya (menggantinya), maka hukumnya tidak wajib atas walinya membayar fidyah atau berpuasa sebagai gantinya dan dia tidak berdosa. Yang dimaksud wali di sini adalah kerabatnya, baik ahli waris atau bukan.

Dan jika meninggal setelah tamakkun, con­tohnya dia punya hutang karena sakit selama seminggu pada bulan Ramadlan, lalu dia meninggal tanggal 20 Syawwal. Maka dia meninggal setelah tamakkun, karena mulai tanggal 2 sampai dengan tanggal 20 Syawwal dia sebetulnya mampu untuk mengqodlo’nya akan tetapi tidak dilakukannya. Adapun hukumnya wajib atas walinya untuk membayar fidyah atau berpuasa sebagai gantinya, jika hutangnya selama seminggu maka wajib berpuasa satu minggu dan boleh di bagi-bagi kepada tujuh walinya dengan berpuasa atau mereka menyewa tujuh orang untuk mengganti puasanya, baik dilakukan satu hari sekaligus atau secara terpisah.

Jika orang lain (bukan dari kerabatnya) berpuasa untuk membayar hutangnya tetapi dengan izin kerabatnya atau atas wasiat orang yang meninggal itu, maka sahlah puasa orang yang mengqodlo’ puasa si mayyit. Dan jika tidak dengan izin kerabat atau atas wasiat dari si mayyit, maka tidak cukup untuk mengqodlo’ puasa si mayyit, atau tidak sah”.

Mana yang lebih afdhol, membayar fidyah atau berpuasa sebagai ganti puasanya ?.

Jawabnya adalah yang lebih afdhol mengeluarkan fidyah, karena itu adalah menurut mazhab qodim dan jadid, sedangkan berpuasa di dalam mazhab jadid tidak diperbolehkan.

Fidyah itu dikeluarkan dari harta waris, jika dia tidak meninggalkan harta, maka tidak wajib atas ahli warisnya untuk membayar fidyah. Akan tetapi sunnah bagi ahli warisnya membayar fidyahnya dari harta mereka sebagai bakti mereka untuk si mayyit.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*