Mutiara Khutbah Idul Adha

khutbah

الله اكبر ×9

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ لاَ تُحْصَى مَوَاهِبُهُ وَلاَ تُنْفَذُ عَجَائِبُهُ، وَلاَ تُحْصَرُ لَهُ مِنَنْ، وَلاَ تُخْتَصُّ بِزَمَنٍ دُوْنَ زَمَنْ. أَحْمَدُهُ حَمْدًا يَفُوْقُ وَيَفْضُلُ حَمْدَ الْحَامِدِيْنَ حَمْدًا يَكُوْنُ لَنَا ذُخْرًا وَرِضًا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِلهُ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلأَخِرِيْنَ، وَقَيُّوْمُ السَّموَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ، الَّذِىْ قَصُرَتْ عَنْ رُؤْيَتِهِ اَبْصَارُ النَّاظِرِيْنَ وَ عَجِزَتْ عَنْ نَعْتِهِ اَوْهَامُ الْوَاصِفِيْنَ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ الَّذِىْ اَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَإِمَامًا لِلْمُتَّقِيْنَ، وَحُجَّةً عَلَى الْخَلاَئِقِ اَجْمَعِيْنَ. اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ اْلأُمِّىِّ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَعَلَى أَصْحَابِهِ الْهَادِيْنَ الْمُهْتَدِيْنَ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Maha Besar Alloh dan Maha Agung Ia, Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini, tempat kita hidup dan bertanah air. Maha Besar Alloh dan Maha Suci Ia, Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu, baik di lautan maupun di daratan dengan sempurna, yang merupakan kelengkapan syarat bagi kehidupan kita ummat manusia, Maha Besar Alloh dan Maha Anggun Ia, Tuhan yang telah memanjangkan usia kita dan memberi kesehatan, sehingga dapatlah kita di pagi hari yang cerah ini, berkumpul bershof-shof guna menghadiri dan merayakan Hari Raya Idul Adha dengan aman dan tentram. Puji syukur yang tak terhingga dengan penuh perasaan gembira kita panjatkan selalu ke hadhirat Alloh Subhanahu Wata’ala.

الله اكبر ×3 ولله الحمد.

Sebagaimana kita di sini semua ummat Islam di seluruh dunia, bangkit serentak bersama-sama mengumandangkan kalimat takbir, tahmid dan tahlil sebagai tanda akan kebesaran dan keagungan Alloh SWT.

معاشر المسلمين رحمكم الله

Hari Raya Idul Adha yang kita rayakan saat ini juga dinamakan Idul Qurban, dinamakan demikian, karena kita pada hari ini dan tiga hari berikutnya, disunnahkan untuk berkurban dengan unta, sapi atau kambing. Sebagaimana sabda Rasul SAW:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ مِنْ عَمَلٍ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ مِنْ اِرَاقَةِ الدَّمِّ، وَإِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُوْنِهَا وَاظْلاَفِهَا، وَإِنَّ الدَّمَّ لَيَقعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ اَنْ يَقعَ عَلَى اْلأَرْضِ فَطِيْبُوْا بِهِ نَفْسًا

 

Yang artinya:

“Seorang Bani Adam tidak melakukan suatu pekerjaan pada Hari Nahr yaitu Hari Lebaran Idul Adha, yang lebih disukai dan dicintai oleh Alloh dari pada menyembelih kurban. Karena sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat, untuk memberi syafa’at kepada yang mengorbankannya bersama tanduk dan kukunya. Dan sesungguhnya darahnya akan ditampung oleh Alloh di suatu tempat sebelum jatuh ke bumi sehingga akan menambah pahalanya, oleh karena itu laksanakanlah dengan senang hati”.

Rasululloh SAW juga bersabda bahwa berkurban akan meleburkan dosa-dosa kita, sebagaimana hal itu dikatakan Rasululloh SAW kepada putri tercinta Beliau Sayyidatuna Fathimah Azzahra ketika berkurban:

قُوْمِىْ إِلَى أُضْحِيَتِكِ فَاشْهَدِيْهَا، فَإِنَّهَا بِأَوَّلِ قُطْرَةٍ مِنْ دَمِّهَا يُغْفَرُ لَكِ مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوْبِكِ

Yang artinya:

“Pergilah dan saksikan penyembelihan hewan kurbanmu dan ketahuilah bahwa begitu tetesan pertama dari darahnya menetes di atas bumi ini, maka saat itulah Alloh SWT akan mengampuni dosa-dosa kamu yang telah lalu”.

Oleh karena itu suatu kerugian yang besar, jika seorang mampu berkurban akan tetapi tidak melakukannya, hanya dengan mengeluarkan uang sebesar Rp. 750.000,- harga dari hewan kurban itu, akan mendapat ampunan dari Alloh atas dosa-dosanya. Oleh karenanya agama memakruhkan atas mereka yang mampu berkurban akan tetapi tidak melakukannya dengan dasar hadits Rasul SAW.

مَنْ كَانَ لَهُ سِعَةٌ فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرُبَنَّ مُصَلاَّناَ

Yang artinya:

“Barang siapa mendapat keluasan dalam hartanya lalu tidak berkurban, maka janganlah mendekati musholla kami”.

الله اكبر ×3 ولله الحمد. معاشر المسلمين رحمكم الله

Sedangkan asal muasal perintah kurban itu sendiri adalah dimulai ketika Alloh SWT ingin menguji ketaatan Nabi Ibrohim Alaihissalam kepada perintahNya. Dimana Beliau seorang yang terkenal sangat dermawan dan belas kasih terhadap orang miskin, suatu waktu Beliau berkurban untuk Alloh dengan 1000 ekor kambing dan 300 ekor sapi yang membuat kagum para malaikat akan jiwa sosialnya yang sangat tinggi dan ketaatannya kepada perintah Alloh, maka Alloh berkata kepada mereka: “Jika aku perintahkan ia untuk berkurban lebih dari itu, niscaya dia akan melakukannya untuk-Ku”.

Kemudian Alloh memerintahkan Nabi Ibrohim untuk menyembelih putra semata wayangnya dari Siti Hajar yang sangat ditunggu kelahirannya semenjak lama. Lalu setelah putra yang sangat dinantikan itu lahir oleh Alloh diperintahkan untuk disembelih.

Akan tetapi lihatlah, bagaimana ketaatan Sayyidina Ibrohim AS kepada perintah Alloh, dan lihat pula bagaimana ketaatan dan kebaktian seorang Ismail AS kepada orang tuanya.

Diceritakan setelah datang perintah Alloh tersebut, maka Nabi Ibrohim memanggil putranya Ismail yang masih berumur 13 tahun dan berkata kepadanya:

“Wahai putraku, aku diperintahkan oleh Alloh untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?”. Maka Sayyidina Ismail menjawab: “Wahai ayahku, lakukan saja apa yang diperintah oleh Alloh kepadamu. Insya Alloh engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang  yang sabar”. Maka senanglah Sayyidina Ibrohim AS mendengar jawabannya. Lalu dibaringkan beliau untuk disembelih, dan ketika Nabi Ibrohim akan melaksanakan penyembelihan tersebut Sayyidina Ismail berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, ikatlah aku dengan erat, agar aku tidak bergerak saat engkau menyembelihku, sehingga hal itu akan merepotkanmu. Dan lepaskanlah bajuku supaya tidak terkena darahku, sehingga tidak memperparah susah ibuku ketika melihatnya, dan sampaikan salamku kepadanya dan jika engkau berpendapat untuk memberikan baju ini kepada ibuku, lakukanlah, karena hal itu akan membuat senang hatinya dan menjadi kenangan untuknya dariku”.

Kemudian Sayyidina Ibrohim melepaskan bajunya dan mengikatnya lalu merebahkannya, kemudian mulailah menyembelihnya, akan tetapi herannya pisau yang ia gunakan tidak mampu merobek lehernya sampai diulang beberapa kali dan diasah pisaunya juga tidak berhasil menyembelihnya, kemudian Alloh menurunkan kambing gibasy dari surga sebagai ganti dari Sayyidina Ismail untuk disembelih.

Demikianlah kisah dari asal muasal disunnahkannya kita untuk berkurban.

الله اكبر ×3 ولله الحمد.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia….

Dari kisah di atas, Nabi Ibrohim dan Ismail AS memberi tiga pelajaran kepada kita: yang pertama adalah bagaimana ketaatan Sayyidina Ibrohim AS kepada perintah Alloh, walaupun yang demikian itu dengan menyembelih anak semata wayangnya, mengajarkan kita untuk mengedepankan perintah Alloh, walaupun berat dilakukan oleh hawa nafsu kita, karena sesungguhnya untuk itulah kehidupan kita sebenarnya. Sebagaimana firman Alloh SWT:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ (الذاريات: 56)

Yang artinya:

“Dan kami tidak ciptakan para jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.

Sedangkan arti dari ibadah itu adalah tunduk dan taat kepada perintah Alloh.

Lihatlah bagaimana hal itu tertanam dalam diri anak didik Rasululloh SAW, yang tidak lain adalah para sahabatnya. Dikatakan oleh para ulama bahwa para sahabat Rasul SAW ketika mendengar kumandang adzan, maka berhentilah mereka dari segala aktifitas keduniaan mereka, untuk cepat melaksanakan sholat. Sehingga diceritakan jika kebetulan mereka sedang mencangkul ladang ketika sudah diangkat cangkul tersebut lalu terdengar suara adzan, maka mereka melepaskan cangkul tersebut ke belakang dan tidak meneruskannya ke depan. Begitu pula diantara mereka yang berdagang, jika saat terjadi transaksi lalu terdengar suara adzan, lalu mereka membatalkannya untuk cepat-cepat datang ke masjid guna melaksanakan sholat. Oleh karena itu Alloh SWT memuji mereka dalam firmanNya yang berbunyi:

رِجَالٌ لاَ تُلْهِهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ

Yang artinya :

“Mereka adalah orang-orang yang tidak terlalaikan dengan dagangan dan jual beli dari dzikir kepada Alloh.”

Oleh karena itu saya berseru kepada kepada saya sendiri khususnya dan para hadlirin untuk mengikuti jejak mereka dalam mentaati perintah-perintah Alloh dan menjauhi larangan-laranganNya. Apalagi kita sekarang ini sedang diterpa dengan musibah demi musibah, bencana demi bencana yang seakan-akan tak ada habis-habisnya, yang tak lain penyebabnya adalah ketidak-taatan kita kepada perintah Alloh dan melanggar perintah-perintahNya. Sebagaimana firmanNya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِىْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (الروم: 41)

Yang artinya:

“Tampak kerusakan di atas daratan maupun lautan, oleh karena ulah manusia itu sendiri, supaya mereka merasakan akibat dari ulah mereka. Mungkin saja dengan cara demikian, mereka akan kembali ke jalan yang benar”.

والعياذ بالله

Mafhumnya ayat tersebut adalah jika kita tidak bertobat dan kembali ke jalan yang benar, maka bencana dan musibah tersebut terus akan mendera kita.

الله اكبر ×3 ولله الحمد.

Adapun pelajaran yang kedua dari kisah tersebut adalah bagaimana Nabi Ismail AS mengajarkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, walaupun yang demikian itu dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Dia melakukan itu karena beliau tahu bahwa ridho Alloh tergantung pada ridho kedua orang tua, begitu pula sebaliknya. Bahkan jika kita membuat murka Alloh akan tetapi membuat ridho kedua orang tua maka Allohpun ridho kepadanya. Sebagaimana firman Alloh SWT dalam hadits qudsiNya:

مَنْ أَصْبَحَ مُرْضِيًّا لِىْ مُسْخِطًا لِوَالِدَيْهِ فَأَنَا عَلَيْهِ سَاخِطٌ وَمَنْ أَصْبَحَ مُرْضِيًّا لِوَالِدَيْهِ مُسْخِطًا لِىْ فَأَنَا عَنْهُ رَاضٍ

Yang artinya:

“Barang siapa di pagi hari membuat rela Aku akan tetapi membuat murka kedua orang tuanya, maka Akupun murka kepadanya karena kemurkaan kedua orang tuanya. Dan barang siapa di pagi hari membuat rela kedua orang tuanya dan membuatKu murka terhadapnya, Akupun rela terhadapnya karena kerelaan kedua orang tuanya”.

Dalam ayat lain, Alloh SWT melarang kita untuk hanya mengucapkan kalimat “uff” kepada kedua orang tua kita, apalagi lebih dari itu misalnya sampai membantahnya, membentaknya atau menyakiti hatinya. Oleh karenanya Rasululloh SAW bersabda:

لَوْ عَلِمَ اللهُ شَيْئًا أَدْنَىْ مِنْ أُفٍّ لَنَهَى عَنْهُ، فَلِيَعْمَل الْعَاقُّ مَا شَاءَ اَنْ يَعْمَلَ فَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلِيَعْمَل الْبَارُّ مَا شَاءَ اَنْ يَعْمَلَ فَلَنْ يَدْخُلَ النَّارَ

Yang artinya:

“Andaikata Alloh SWT mengetahui dengan sesuatu yang lebih ringan dari kalimat “uff” pasti akan dilarangnya, maka kebaikan apapun yang dilakukan oleh anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya tidak akan memasukkannya ke dalam surga. Dan dosa apapun yang dilakukan oleh anak yang berbakti tidak akan memasukkannya ke dalam neraka”.

Maka barang siapa diantara kita yang durhaka kepada orang tuanya, supaya cepat-cepat meminta maaf dan ridhonya, sebelum pintu kesempatan itu ditutup dan selagi nyawa kita dan kedua orang tua kita dikandung badan.

الله اكبر ×3 ولله الحمد.

Sedangkan pelajaran yang ketiga adalah kedermawanan Nabi Ibrohim AS, sehingga beliau rela berkurban dengan ratusan ekor hewan kurban untuk para fuqoro’ dan masakin. Jiwa sosial yang demikian itulah yang kita butuhkan, apalagi masa-masa yang sulit ini, dimana untuk makan saja susah. Maka kesempatan bagi kita untuk memperbanyak sodaqoh, karena sodaqoh itu dapat meleburkan dosa-dosa kita, menaikkan derajat kita dan menjadikan Alloh cinta kepada kita.

Kita tiru salah satu anak didik Rasul SAW yaitu mantu dan sahabat terdekat beliau Sayyidina Utsman bin Affan ra. Ketika terjadi paceklik di kota Madinah, maka Sayyidina Utsman mendatangkan bahan makanan pokok sebanyak muatan tujuh puluh ekor unta ke Madinah. Setibanya di Madinah para pedagang Madinah berebut untuk membelinya bahkan dengan harga tiga kali lipatnya. Akan tetapi Sayyidina Utsman ra berkata kepada mereka: “Aku tidak akan menjualnya kecuali kepada mereka yang berani membelinya dariku dengan harga tujuh puluh kali lipatnya.” Maka mereka tertawa sambil berkata: “Siapa yang mau membeli dengan harga tersebut?”. Maka Sayyidina Utsman ra menjawab: “Ada yang akan membelinya dariku dengan harga tersebut, yaitu Alloh. Ketahuilah bahwa semua yang aku bawa ini, adalah untuk para fuqoro’ Madinah”.

Akan tetapi begitulah para syaitan tidak akan membiarkan kita berbuat baik supaya kita bersama mereka dalam neraka. Padahal jika suatu harta dikeluarkan untuk sodaqoh, justru akan menambahnya dan menjadikan hartanya barokah. Sebagaimana sabda Rasululloh SAW:

لاَ يَنْقُصُ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ بَلْ يزداد، بَلْ يزداد، بَلْ يزداد.

ang artinya:

“Tidak akan berkurang suatu harta dengan sodaqoh bahkan akan menambahnya, bahkan akan menambahnya, bahkan akan menambahnya”.

Akhirnya marilah kita bersama-sama berdoa kepada Alloh, semoga semua musibah dan bencana yang terjadi di negara kita diangkat oleh Alloh dan digantikan dengan kenikmatan dan kemudahan. Semoga semua dosa kita diganti oleh Alloh dengan hasanat dan semoga Alloh selalu memberi kita taufiq dan hidayahNya sehingga kita lebih mengedepankan urusan akhirat kita dari keduniaan.

Ya Alloh wahai Tuhan kami, berilah kami ampunan karena mulai saat ini kami akan berjanji untuk taat kepada perintah-perintahMu. Jika dulu kami durhaka kepada orang tua, kami akan memperbaikinya. Jika dulu kami meninggalkan sholat, puasa, zakat dan haji, maka sekarang kami berjanji untuk melakukannya. Jika dulu kami sering berjudi, berzina dan mencuri, maka kini kami berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tuntunlah kami untuk melakukannya ya Alloh.

Ya Alloh, berilah kedua orang tua kami ampunan, senangkan hidup mereka, dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami di masa kecil kami.

Ya Alloh wahai Pencipta langit dan bumi, panjangkanlah usia kami dalam ketaatan terhadapMu, serta sehat wal ‘afiat dan tutuplah usia kami dalam keadaan iman dan Islam. Serta bangkitkanlah kami semua dalam golongan Rasululloh SAW dan nantinya masukkan kami ke dalam surga bersama Rasululloh SAW.

رَبَّناَ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ، كَلاَمُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلاَّمِ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ (3)

بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِىْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّىْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*