Website Resmi Habib Segaf Baharun

Kejujuran Kunci Kesuksesan

28898-berani-jujur-hebat      Sebagai seorang manusia tak asing bagi kita melaksnakan aqad muamalat atau yamg biasa kita kenal dengan jual beli, jual beli ini merupakan suatu kegiatan yang telah dilakukan dari zaman nenek moyang kita, dari mulai jual beli dengan cara barter (saling tukar menukar barang), menggunakan emas atau perak, sampai sekarang menggunakan uang, tiak cukup sampai disini jual beli yang kita lakukan harus dibarengi dengan sikap saling ridho, saling jujur antar penjual dan pembeli, berikut ada beberapa kisah mengenai jual-beli :

  1. Imam Abi Hanifah Ra. adalah seorang pedagang disamping beliau mengajar untuk memenuhi kebutuhannya serta kebutuhan keluarganya beliau juga berdagang, dan beliau dalam perdagangannya tidak mengambil keuntungan lebih dari 5% dari pokok harga, dan beliau berdagang dalam pakaian jadi yang terdiri dari dua macam yang bagus dijualnya dengan harga 1000 dirham sedangkan yang biasa dijual dengan harga 500 dirham dan pada suatu hari budaknya menjual kepada seorang penduduk desa pakaian yang berharga 500 dirham dijual dengan harga 1000 dan tatkala orang Badui itu keluar dari toko milik Imam Abi Hanifah, berpapasan dengan Imam Abi Hanifah maka beliau bertanya kepada Badui tersebut dengan harga berapa engkau membeli pakaian itu ? maka Badui tersebut menjawab dengan harga 1000, maka Imam Abi Hanifah membawanya kembali ke dalam tokonya dan menghardik hambanya dan berkata kepadanya “Kenapa engkau jual pakaian itu kepada orang Badui tersebut dengan harga 1000 padahal seharusnya dia membayarnya dengan harga 500 ?” maka badui tersebut berkata kepada Imam “Tidak apa-apa toh jual belinya sudah terlaksana dan saya rela dengan harga tersebut !” maka Imam Abi Hanifah berkata kepadanya “aku yang tidak rela dengan harga tersebut begini saja engkau memilih antara dua hal, yang pertama saya akan kembalikan uang yang 500 dirham atau engkau ambil pakaian yang seperti itu satu lagi atau saya tukar pakaian itu dengan yang berharga 1000!” maka badui itu memilih meminta satu potong lagi dari pakaian seperti yang dibelinya.
  2. Dikisahkan bahwa Imam Assirri Assiqty adalah seorang pedagang, beliau menjual kacang-kacangan, beliau selalu melaksanakan sholat sebanyak 100 rokaat atau lebih ketika membuka tokonya, pada suatu hari datang seseorang yang akan membeli kacang di tokonya melalui seseorang makelar dan menawarnya dan beliau menetapkan harganya per-kilo 60 dirham setelah itu makelar tersebut akan memberi kabar kepada si pembeli dengan harga yang telah ditentukan oleh Imam Assiri, akan tetapi tiba-tiba harga kacang di pasar tersebut naik menjadi 90 dirham maka perantara tersebut cepat-cepat kembali kepada Imam Assiqty dan memberi kabar gembira kepadanya bahwa harga dari kacang tersebut naik menjadi 90 dirham perkilonya sehingga akan bertambah keuntungan-nya, maka dijawab oleh beliau “aku tidak akan menjualnya kecuali dengan harga yang telah disepakati tadi”, kemudian makelar tersebut cepat-cepat mendatangi si pembeli untuk, memberi tahunya bahwa sebenarnya harganya naik menjadi 90 dirham di pasaran akan tetapi Sang Imam tetap dengan harga yang telah disepakati yaitu dengan harga lama, maka si pembeli tersebut berkata “aku tidak akan membelinya kecuali dengan harga pasaran karena naiknya harga itu sebuah keberuntungan untuk si penjual itu”, begitulah orang yang bertaqwa selalu mendahulukan ridlo Allah dan tidak bergeming walaupun diiming-imingi keuntungan yang besar, karena mereka benar-benar tahu bahwa Allah Swt. melihat apapun yang kita perbuat dan nantinya akan meminta pertanggung-jawaban dari kita semua sehingga hal-hal yang semacam itu merupakan suatu ujian buat kita dari Allah Swt.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives