Hari Yang Menjadikan “Harom Berpuasa”

79a982264608572

Di antara syarat sahnya ibadah puasa adalah hari yang kita ingin berpuasa pada hari itu bukan hari-hari yang haram kita berpuasa.

Oleh karenanya penting kiranya diketahui hari-hari yang haram kita berpuasa. Adapun hari-hari tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha

Hari raya Idul Fitri yaitu tanggal 1 Syawwal dan Idul Adha pada tanggal 10 Dzul Hijjah adalah dua hari raya yang haram kita berpuasa pada dua hari tersebut, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمَ فِطْرٍ وَيَوْمَ أَضْحَى (متفق عليه)

Artinya : “Bahwasanya Rasulullah SAW melarang untuk berpuasa pada dua hari yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha”. [ Muttafaq ‘Alaih ]

Sedangkan hikmahnya adalah karena pada dua hari itu kita berada dalam jamuan Allah, maka tidak pantas jika kita berpuasa. Pada dua hari tersebut adalah hari-hari dimana orang bersilaturrahmi kepada kerabat mereka yang biasanya ada jamuan makanan yang disuguhkan oleh kerabat tersebut, sehingga akan menyinggung perasaan mereka jika kita berpuasa.

Pada dua hari itu, biasanya disunahkan untuk bersenang-senang dan bermain-main bersama keluarga, maka akan tidak menyenangkan jika melalui hari tersebut dengan puasa. Apalagi pada hari raya Idul Fitri dimana hari-hari sebelumnya dilalui dengan puasa. Jika dia berpuasa pada hari raya tersebut, seakan keterusan dari puasa sebelumnya.

Itulah di antara hikmah mengapa agama mengharamkan kita berpuasa pada dua hari tersebut.

  1. Hari-hari Tasyriq

Hari-hari Tasyrik adalah tanggal 11, 12, 13 bulan Dzul Hijjah. Diharamkan puasa pada hari itu berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

أَنَّ النَّبِيَّ  قَالَ: ”أَيَّامَ مِنَى أَيَّامَ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ تَعَالَى“ (رواه مسلم)

Artinya: “Bahwasanya Rasulullah SAW Bersabda  Hari-hari Mina adalah hari-hari untuk makan dan minum dan hari-hari untuk berdzikir kepada Allah”. [HR. Muslim]

Sedangkan hari-hari tersebut dinamakan hari-hari Tasyrik dikarenakan pada hari-hari tersebut banyak sekali daging sembelihan korban dan fidyah, sehingga untuk menjaga agar daging-daging tersebut tidak rusak, maka mereka menjemur daging-daging tersebut untuk dijadikan dendeng. Jadi arti tasyrik adalah menjemur.

  1. Hari Syak

Yang dimaksud dengan hari syak adalah tanggal 30 Sya’ban, di mana pada hari itu tidak ada pengumuman dari pemerintah bahwa hari itu tanggal satu Ramadlan, akan tetapi ada yang menyaksikan bulan. Akan tetapi tidak diterima kesaksiannya, karena tidak memenuhi syarat ‘adl syahadah, misalnya yang menyak­sikan seorang wanita, anak kecil atau orang fasik, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

”مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمْ“

(رواه أصحاب الأربعة)

Artinya : “Barang siapa berpuasa pada hari syak, maka dia telah melanggar perintah Abal Qasim SAW”.

  1. Paruh Kedua Dari Bulan Sya’ban

Berpuasa pada paruh kedua dari bulan Sya’ban hukumnya haram berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

”إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُوْمُوْا“

Artinya: “Jika sudah masuk paruh kedua dari bulan Sya ‘ban, maka janganlah kalian berpuasa”.

Dan yang dimaksud paruh kedua adalah tanggal 16, 17, 18 sampai akhir bulan. Akan tetapi jika berpuasa pada hari-hari itu, begitu pula hari syak, untuk mengerjakan puasa wajib, misalnya qodlo’ puasa Ramadlan, kaffarah dan lain-lain, atau sudah terbiasa setiap senin kamis berpuasa, atau berpuasa Daud, atau juga jika disambung dengan hari sebelumnya, misalnya puasa hari 15, maka boleh puasa hari keenam belas dan seterusnya. Maka puasa-puasa tersebut di atas tidak haram pada hari-hari itu.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*