Menolak Ajakan Suami , DOSA kah ???

menolak ajakan suami , dosa kah ?

 

 

 

 

 

Setiap pihak dalam pasangan suami-istri mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing kepada pasangannya. Di antara hak seorang suami atas istrinya adalah kewajiban seorang istri mengabulkan ajakannya untuk bersetubuh dengannya. Haram hukumnya bila seorang istri menolak ajakan suami untuk berhubungan badan, itu termasuk dosa besar. Nabi SAW bersabda mengenai hal tersebut:

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صل الله عليه وسلم إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت فبات غضبان عليها لعنها الملائكة حتى تصبح (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu istrinya menolak, sedangkan sang suami marah atasnya pada malam itu karenanya, para malaikat akan senantiasa melaknat istrinya hingga pagi hari.”

Jadi, haram hukumnya bagi seorang istri menolak ajakan suami untuk bersetubuh dengannya. Di antara keburukan yang dapat terjadi karena adanya penolakan, karena hal itu akan menyebabkan seorang suami dapat terjerumus dalam dosa, seperti perbuatan zina, onani, dan lain-lain.
Keharaman itu terjadi jika si istri tidak sedang ada udzur syar’i (halangan yang diperbolehkan dalam agama). Jika ada udzur syar’i, tidaklah mengapa. Bahkan, dalam kondisi tertentu wajib hukumnya bagi seorang istri buat melarang atau menolak pihak suami untuk melakukannya, seperti misalnya jika seorang istri sedang mengalami haidh atau nifas. Berhubungan badan dalam keadaan istri yang sedang haidh, haram hukumnya.
Begitu pula jika si istri sedang sakit, tidaklah mengapa ia menolaknya. Bahkan haram hukumnya bila seorang suami memaksakan kehendaknya kepada istrinya untuk berhubungan badan.
Adapun tentang cairan seperti sperma yang keluar lagi setelah mandi, apakah mandinya wajib diulang atau tidak, terlebih dahulu harus dipastikan, apakah cairan tersebut sperma atau bukan. Untuk memastikannya dengan melihat ciri-cirinya, baik dari bentuknya maupun dari baunya.
Dalam hal memastikan dari segi bentuknya, biasanya sperma itu berwarna putih kental seperti adonan atau lebih mirip seperti keputihan yang biasa dikeluarkan seorang wanita. Sementara untuk memastikan dari segi baunya, kalau masih basah, biasanya seperti bau kembang pohon kurma atau bau daun jamur. Sedangkan kalau sudah kering, berbau seperti bau putih telur.
Jika cairan tersebut sudah dipastikan adalah sperma, kemudian hal itu ditanyakan kepada pihak istri, apakah pada saat berhubungan ia mengalami orgasme yang menyebabkan ejakulasi atau tidak. Jika ia mengalaminya, ia wajib mengulang mandinya, karena kemungkinan itu adalah spermanya. Jika ia tidak mengalami orgasme, sperma tersebut dipastikan milik suaminya, sehingga cukup bagi sang istri untuk berwudhu ketika akan melaksanakan shalat, ia tidak wajib mengulangi mandinya.
Berkaitan dengan hal itu, Rasulullah SAW menganjurkan kepada para pasangan suami-istri, bila usai berhubungan badan, agar tidak segera mandi, menunggu sejenak. Paling tidak hingga ia kencing terlebih dahulu, sehingga dapat memperkirakan tidak ada lagi sperma yang tersisa dalam kemaluannya. Setelah itu, barulah dia mandi, supaya nanti tidak keluar lagi setelah dia mandi.
Adapun bila telah dipastikan bahwa cairan itu bukan cairan sperma, cukup cebok, untuk membersihkannya, sebab cairan yang keluar dari kemaluan dihukumi najis. Jika ia hendak mengerjakan shalat, tidak wajib mandi lagi, cukup berwudhu.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.

*