Perkara Yang Dilarang Bagi Wanita Haid Dan Nifas !!!

Stop-pixabaydotcomDiantara yang diharomkan bagi wanita yang sedang haid dan nifas yaitu:
A. Shalat
Islam memberikan ketentuan hukum haram bagi wanita yang haid atau nifas untuk menunaikan shalat fardlu atau sunnah dan juga menunaikan sujud tilawah atau sujud syukur. Karena keduanya termasuk dari bagian shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ (رواه الشيخان)
Apabila wanita mengeluarkan darah haid maka tinggalkanlah shalat. (H.R. Asy Syaikhani)

Akan tetapi dia tidak wajib mengqadla’ shalat dan jika diqadla’ maka hukumnya adalah makruh atau tidak ada pahalanya. Sebagaimana perkataan Sayyidah Aisyah R.A. dalam sebuah hadits:
كُنَّا نَحِيْضُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ I ثُمَّ نَطْهُرُ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ (رواه الشيخان)
Kami pernah mengeluarkan darah Haid di masa Rasulullah lalu setelah suci kami diperintahkan mengqadla’ puasa dan tidak diperintahkan mengqadla’ shalat. (H.R. Asy Syaikhani)

B. Puasa
Apabila seorang wanita dalam keadaan haid atau nifas haram atasnya melakukan puasa fardlu atau sunnah sebagaima¬na sabda Rasulullah SAW:
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ (رواه الشيخان)
Bukankah jika perempuan sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. (H.R. Asy Syaikhani)

Akan tetapi jika tidak berniat puasa, dia melakukannya hanya untuk menahan diri dari makan dan minum (diet) maka tidak mengapa melakukan hal itu. Para Ulama berkata hikmah sebab diharamkannya puasa bagi wanita haid maupun nifas karena mengeluarkan darah itu melemahkan badan, begitu pula di dalam melaksanakan puasa, jadi apabila berpuasa pada saat dia sedang haid atau nifas maka akan terkumpullah dua hal yang melemahkan badannya, maka ditinjau dari segi ini syari’at Islam mengharamkannya dan wajib atas wanita haid atau nifas mengqadla’ puasa Ramadlan yang ditinggalkan pada hari-hari haid atau nifas. Berbeda dengan shalat maka tidak wajib mengqadla’nya. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW:
كَانَ يُصِيْبُنَا -أَيْ الْخَيْضُ- فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ (رواه الشيخان)
Menimpa kepada kita (kaum wanita) haid maka kita diperintahkan untuk mengqadla’ puasa dan tidak diperintahkan mengqadla’ shalat.
(H.R. Asy Syaikhani)
Sedangkan hikmahnya diwajibkan mengqadla’ puasa ada-lah karena puasa Ramadlan itu hanya sebulan dalam setahun jadi tidak menyulitkan bagi para wanita dalam mengqadla’nya, dan seandainya shalat fardlu itu diwajibkan diqadla’ tentu akan menyulitkan dan memberatkan bagi wanita, sebab setiap hari jumlah raka’at shalat fardlu itu 17 raka’at. Maka, bayangkan berapa raka’at yang harus dikerjakan jika dia haid selama 6 atau 7 hari? Oleh karena itu, agama tidak akan menyulitkan mereka kaum wanita, dan agama Islam itu pada prinsipnya senantiasa memberikan kemudahan pada pengikutnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
قَالَ الله تَعَالَى: وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ
(الحج : 78)
Tidaklah Allah menjadikan untuk kalian di dalam agama (Is¬lam) ini suatu kesulitan. (Q.S. Al Hajj : 78)

C. Membaca AI Qur’an
Setiap wanita apabila dalam keadaan haid atau nifas diha-ramkan atasnya membaca Al Qur’an, walaupun hanya sebagian ayat. Rasulullah SAW bersabda:
لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ مِنَ الْقُرْآنِ
(رواه أبو داود والترمذي)
Dilarang orang yang junub dan wanita haid membaca sesuatu dari Al-Qur ‘an. (H.R. Abu Dawud dan Turmudzi)

Adapun jika seorang yang junub atau wanita haid atau nifas membaca dzikir atau wirid yang diambil dari Al Qur’an bukan bermaksud membaca Al Qur’an, maka hukumnya adalah boleh (mubah). Misalnya, seorang yang dalam keadaan junub atau wanita dalam masa haid atau nifas membaca do’a di bawah ini ketika akan mengendarai kendaraan:
سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ (الزخرف : 13)
atau ketika terkena musibah dia membaca ayat di bawah ini:
إِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْن (البقرة : 152)
Dan juga boleh baginya membacanya dengan maksud membetulkan bacaan yang keliru atau menjawab pertanyaan dalam pelajaran dan lain sebagainya. Berbeda kalau dia memba¬ca ayat Al Qur’an tersebut di atas dengan maksud membaca Al Qur’an atau dengan maksud kedua-duanya yakni membaca Al Qur’an dan membaca wirid maka hukumnya adalah haram.

D. Menyentuh AI Qur’an
Bagi seseorang yang sedang junub, haid maupun nifas tidak diperkenankan (haram) menyentuh Al Qur’an sesuai dengan firman Allah SWT:
لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُوْن (الواقعة : 79)
Tidak menyentuhnya (Al Qur’an) kecuali bagi orang-orang yang dalam keadaan suci. (Q.S. Al Waqi’ah : 79)

Akan tetapi jika membawanya dengan barang lainnya (se-perti dalam koper ada Al-Qur’an dan lain-lain) maka hukumnya dapat diperinci sebagai berikut:
1. Jika bermaksud membawa Al Qur’an saja atau bermaksud membawa Al Qur’an dan barang maka hukumnya adalah haram. Begitu pula jika tidak bermaksud kedua-duanya.
2. Dan jika dengan maksud membawa barang saja, maka hu¬kumnya adalah boleh (tidak haram).

E. Berdiam di Masjid
Apabila seorang wanita dalam keadaan haid atau nifas haram baginya duduk atau berdiam (beri’tikaf) di dalam masjid. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ (رواه أبو داود)
Tidak aku perbolehkan bagi wanita haid dan orang junub memasuki masjid. (H.R. Abu Daud)

Kecuali jika hanya menyeberanginya saja dan berkeyakinan darahnya tidak akan menetes di dalam masjid tersebut maka hukumnya adalah mubah (boleh) tapi makruh. Allah SWT berfirman:
إِلاَّ عَابِرِيْ سَبِيْلٍ (النساء : 43)
Kecuali jika dia hendak menyeberanginya untuk jalan (Q.S. AnNisa’:43)

F. Thawaf
Diharamkan wanita melaksanakan thawaf fardlu atau sun-nah apabila dirinya dalam keadaan haid ataupun nifas. Sabda Rasulullah SAW:
إِفْعَلِيْ مَا فَعَلَ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوْفِيْ بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِيْ (رواه الشيخان)
Kerjakanlah seperti apa yang dikerjakan orang haji kecuali thawaf, maka kerjakanlah apabila engkau telah suci. (H.R. Asy Syaikhani)

G. Bersetubuh
Bersetubuh dengan isteri yang sedang haid haram hukum¬nya walaupun dzakarnya dibungkus (pakai kondom). Allah SWT berfirman:
فَاعْتَزِلُوْا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ وَلاَ تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ
(البقرة : 222)
Sebab itu hindarkanlah isteri-isterimu ketika dalam keadaan haid dan janganlah kamu bersetubuh dengannya sehingga mereka suci. (Q.S. Al Baqarah : 222)

Adapun hikmah Allah SWT melarang kepada laki-laki (suami) menggauli isteri pada saat haid adalah untuk melatih seorang suami agar sabar dan mampu menahan nafsu seksnya apabila pada suatu saat ia meninggalkan isterinya dalam jangka waktu yang lama. Dengan terbiasanya sang suami menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks pada saat isteri dalam keadaan haid sudah barang tentu apabila dia (suami) pergi dalam jangka waktu yang lama dia tidak mungkin akan melakukan hubungan seks dengan wanita lain, karena sudah terbiasa sebelumnya, maka larangan ini merupakan rahmat dan penahan hasratnya.
Ilmu kedokteran mengatakan bahwa: “Bersetubuh di saat isteri haid merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penyakit rahim (kandungan) dan juga menyebabkan wanita bisa mandul, jika dia terkena penyakit rahim, maka dia akan merasakan sakit yang tidak dapat ditahannya, suhu badannya akan bertambah naik, dan serta masih banyak komplikasi penyakit lainnya yang merupakan akibat dari penyakit pada rahim tadi”.
Sedangkan bahaya yang akan menimpa laki-laki yang pa¬ling pokok di antaranya adalah peradangan yang parah menimpa alat vitalnya, karena ada baksil yang menjalar ke dalam saluran kencing, dan yang paling berbahaya, apabila mengadakan hubungan kelamin di saat isteri haid dikhawatirkan anak yang akan dilahirkan terkena cacat (penyakit lepra). Apabila sang suami terlanjur menyetubuhi isterinya di saat haid atau nifas dan dia mengetahui bahwa hal itu haram hukumnya, maka dia telah melakukan dosa besar dan wajib bertaubat serta disunnahkan baginya mengeluarkan sedekah sebagai kafarahnya (hukumannya). Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا وَاقَعَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ وَهِيَ حَائِضٌ إِنْ كَانَ الدَّمُ أَحْمَرَ فَلْيَتَصَدَّقْ بِدِيْنَارٍ وَإِنْ كَانَ أَصْفَرْ فَلْيَتَصَدَّقْ بِنِصْفِ دِيْنَارٍ
(رواه أبو داود والحاكم)
Apabila sang suami mendatangi isterinya yang sedang haid maka hendaknya ia bersedekah sebanyak satu dinar, jika waktu itu darah yang keluar berwarna merah, dan setengah dinar jika darah yang keluar berwarna kuning. (H.R. Abu Daud dan Hakim)

Maksudnya adalah jika dia melakukan hubungan saat darah masih kuat (awal-awal haid), maka bersedekah dengan satu dinar (uang senilai emas 4,2 gram) dan jika melakukan hubungan saat darah mulai melemah (di akhir haid), maka sunnah ber¬sedekah 1/2 dinar (uang senilai emas 2,1 gram)

H. Bersenang-Senang Dengan Sesuatu (Bagian Badan) Yang Ada Di Antara Pusar dan Lutut
Pada saat isteri haid atau nifas, seorang suami tidak diperbolehkan bersenang-senang dengan sesuatu pada bagian badan isterinya yang ada di antara pusar dan lutut karena dikhawatirkan seorang suami tidak mampu menahan nafsu seksualnya. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ حَامَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ (الفقه الميسر)
Barang siapa berputar-putar di sekitar (mendekati) hal-hal yang terlarang maka ditakutkan akan terjerumus ke dalamnya. (Fiqhul Muyassar)

I. Menthalaq Isteri
Menthalaq isteri di waktu haid hukumnya haram, dan sun-nah baginya untuk meruju’nya sampai isterinya suci, dan setelah suci terserah suaminya mau menthalaq lagi atau tidak. Sebagaimana firman Allah SWT:
إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ (الطلاق : 1)
Apabila kamu menceraikan isteri-isteri kamu, maka hendaklah kamu menceraikan merekapada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).
(Q.S. Ath Thalaq : 1)

Adapun sebab dilarangnya menthalaq di waktu isteri haid, karena akan memperpanjang masa iddahnya, karena masa haid tidak dihitung termasuk dari masa iddahnya akan tetapi dihitung mulai setelah sucinya, kecuali di dalam 5 masalah di bawah ini, maka menthalaq istri di saat haid tidak haram:
1. Jika sang suami mengatakan padanya kamu aku talaq pada akhir haidmu atau bersamaan dengan akhir haidmu.
2. Jika istri yang dithalaq belum pernah disetubuhi, maka boleh menthalaqnya walaupun dalam keadaan haid, karena tidak mempunyai iddah.
3. Jika istri waktu terjadi thalaq sedang hamil dari suami, maka tidak haram menthalaqnya saat itu karena iddahnya akan selesai dengan melahirkan.
4. Jika thalaq sang suami thalaq khulu’, yaitu menthalaq istri dengan imbalan harta dari sang istri, misalnya istrinya mengatakan jika kamu thalaq aku, maka aku beri kamu sebuah mobil, lalu sang suami menthalaqnya, maka tidak haram jika terjadi pada waktu haid karena besarnya permintaan istri.
5. Jika terjadi perselisihan antara suami dan istri lalu berkumpullah utusan keluarga suami dan istri kemudian kedua belah pihak sepakat jalan keluarnya adalah bercerai, maka tidak haram walaupun terjadi saat istri haid.
Dan semua larangan yang telah disebutkan haram hukum¬nya atas wanita haid dan nifas sampai dia mandi besar, kecuali thalaq dan puasa maka boleh baginya walaupun sebelum mandi besar.

Hukum Wanita Haid dan Nifas dalam Haji
Wanita haid dan nifas dalam masa haji tidak terlepas dari tiga keadaan:
1. Wanita yang mengeluarkan darah haid setelah mengerjakan Thawaf Ifadlah,jika hal itu terjadi maka dianggap selesai pekerjaan hajinya, karena selain thawaf tidak disyaratkan thaharah (suci dari hadats). Adapun Thawaf Wada’ jika dia belum suci setelah melewati bangunan Makkah ketika akan pulang ke negaranya, maka gugurlah kewajiban Thawaf Wada’.
2. Wanita yang mengeluarkan darah haid sebelum mengerjakan Thawaf Ifadlah, maka yang wajib dia lakukan adalah bersabar hingga suci untuk melakukan thawaf. Jika tidak memungkinkan baginya tinggal di Makkah karena rombongannya akan berangkat, atau karena tidak ada yang menemaninya, maka hendaknya dia pergi ke suatu tempat di luar Mak¬kah yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Makkah, kemudian dia bertahallul dengan Tahallul Ihshar yaitu dengan menyembelih kambing dan bergunting dengan niat ta¬hallul. Lalu jika haji yang dilakukan adalah haji fardlu, maka wajib melakukannya di masa yang akan datang, tetapi jika hajinya adalah haji sunnah, maka tidak wajib mengulanginya.
3. Wanita yang haid yang berihram Haji Tamattu’, jika dia su¬ci sebelum wuquf, maka dia harus melakukan Umroh terlebih dahulu kemudian berihram haji, tetapi jika belum suci sampai datang waktu wuquf, maka dia masukkan ihram haji ke dalam ihram umrahnya, berarti dia melaksanakan Haji Qiran.

Hukum Puasa bagi Wanita Haid dan Nifas
Bagi wanita haid dan nifas haram hukumnya berpuasa, dan jika darahnya keluar saat berpuasa, maka batallah puasanya namun wajib mengqadla’nya sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:
كَانَ يُصِيْبُنَا -أَيْ الْخَيْضُ- فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ (رواه الشيخان)
Di zaman Rasulullah kami mengalami haid dan kami dipe-rintah untuk mengqadla’ puasa dan tidak diperintah untuk mengqadla’ shalat (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dan jika darahnya berhenti di siang Ramadlan maka sunnah baginya untuk imsak sampai maghrib. Hikmah syara’ melarang wanita haid dan nifas untuk berpuasa, karena mengeluarkan darah haid dan nifas dapat melemahkan badan, sedangkan ber¬puasa juga melemahkan badan, maka berkumpullah dua hal yang melemahkan badan, maka dilaranglah berpuasa atas wa¬nita haid dan nifas. Dan hikmah diwajibkannya mengqadla’ puasa dan tidak wajib mengqadla’ shalat karena ibadah puasa jumlahnya sedikit, lain halnya dengan shalat.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*