Website Resmi Habib Segaf Baharun

ROHEN (PERGADAIAN)

pegadaiann

Dalam kehidupan bersosial kita dituntut ikut prihatin dan toleran dengan nasib sesama dengan membantu mereka yang memerlukan uluran tangan kita, di antaranya dengan menghutangi seseorang yang memerlukan hutangan dll, akan tetapi terkadang mencari orang yang jujur dan menepati janji membayar hutangnya susah apalagi pada zaman ini, oleh karena itu disyariatkan hukum gadaian ini untuk menjaga agar uang yang dihutangkan tidak hilang, dan sebagai jaminannya adalah barang yang digadaikan tersebut, akan tetapi menggadaikan dan mengambil gadaian ada aturannya dalam syariat supaya tidak terjerumus kedalam transaksi riba atau transaksi yang fasid / rusak dan tidak sah oleh karena itu penting kiranya kita mempelajari penjelasan berikut ini :

A. Definisi Rohen (Pergadaian)

     Kalimat rohen menurut arti Bahasa Arabadalah suatu ketetapan. Sedangkan menurut arti syar’i adalah menjadikan suatu barang yang berharga sebagai jaminan dari suatu hutang untuk melunasinya ketika dia tidak mampu melunasi hutangnya tersebut.

Maka barang yang digadaikan harus berupa barang maka tidak sah jika berupa hutang, misalnya hutang seseorang kepadanya dijadikannya sebagai sesuatu yang digadaikan dari hutangnya, begitu pula suatu kemanfaatan tidak bisa dijadikan sebuah gadaian karena sebuah kemanfaatan dapat hilang dengan sendirinya sehingga tidak dapat dijadikan sebuah jaminan/gadaian dari suatu hutang .

Dan barang yang dijadikan gadaian harus berupa harta yang dapat dijual belikan dengan kata lain yang memenuhi syarat dijual belikan, maka tidak sah menjadikan anjing yang dilatih atau pupuk,alat musik yang diharamkan, begitu pula kulit bangkai yang belum disamak sebagai gadaian dari suatu hutang karena hal-hal tersebut tidak sah dijual belikan.

B. Hukum Penggadaian Konvensional

            Memang mengambil suatu gadaian itu disyariatkan oleh agamaIslam sebagai jaminan dari suatu hutang sehingga jika yang berhutang tidak dapat melunasi hutangnya maka barang yang digadaikan itu dijual dan harganya digunakan untuk pelunasan hutangnya tersebut, dan jika masih ada sisa dari harganya maka dikembalikan kepada orang yang berhutang itu, begitulah hukum yang berlaku dalam agama Islam. Sedangkan penggadaian konvensional yang ada sekarang ini dan marak di mana-mana yang berselogan “MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH” adalah batil tidak sesuai dengan anjuran agama dan merupakan suatu penindasan dan kedhâliman dan praktek riba, di manadisyaratkan dalam pengembalian hutangnya harus dengan bunganya dan jika sudah jatuh tempo lalu orang yang berhutang itu tidak dapat melunasi hutang-hutangnya tersebut, maka barang itu secara otomatis milik pegadaian tanpa dikembalikan sedikitpun dari harga barang gadaian tersebut tatkala dilelang nanti,walaupun jelas pasti lebih dari kisaran hutangnya.

C.Dasar Hukum Mengambil Gadaian

         Telah sepakat semua ulama akan bolehnya mengambil suatu gadaian dari sebuah hutang dengan dalil ayat dan Hadits berikut ini :

Firman Allah Swt.:

قَالَ اللهُ تَعَالٰى : فَرِهَانٌ مَّقْبُوْضَةٌ(البقرة 283)

Artinya : “Maka hendaknya ada barang yang diserahkan berupa jaminan”. (Al-Baqarah : 283)

Hadits Nabi Saw :

عَنْعَائِشَةَرَضِيَاللهُعَنْهَاأَنَّالنَّبِيَّﷺ اِشْتَرَىمِنْيَهُودِيٍّطَعَامًاإِلٰىاَجَلٍوَرَهَنَهُذِرْعَهُ (رواه البخاري)

Yang artinya : “Sesungguhnya Rasulullah Saw membeli gandum dari seorang Yahudi dengan hutang dan beliau menggadaikan baju perangnya”. (HR. Al-Bukhori).

D.Rukun-rukunRohen (Pergadaian)

          Rukun-rukun pergadaian yang harus ada dalam transaksi pergadaian ada 5 perkara sebagai berikut :

  1.         Marhûn (barang gadaian)
  2. Rôhin (orang yang menggadaikan / orang yang berhutang)
  3. Murtahin (orang yang diberi gadaian / yang menghutangi)
  4. Marhûn bihi (hutang)
  5. Sîghoh (akad Ijâb&Qabûl)

Contoh Dari Transaksi Rohen (Pergadaian)

Sedangkan contoh gambarannya adalah sebagai berikut :

Misalnya Amer mempunyai hutang kepada Zaid sebesar Rp. 1.000.000, kemudian Amer berkata kepada Zaid“Sayagadaikan rumahku kepadamu sebagai jaminan dari hutangku kepadamu sebesar Rp 1.000.000” maka Zaid berkata “baik saya terima”.

Maka Amerdalam contoh tersebut adalah rôhin, dan Zaidadalah murtahin, hutang berupa uang satu juta adalah marhûn bihi sedangkan rumah adalah marhûnnya dan ucapan Amer“Saya gadaikan …..” dan ucapan Zaid“baik …” adalah shîgohnya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives