TRANSAKSI JUAL BELI DENGAN CARA SALAM (MEMESAN)

jualbeli_salam           Jual beli dengan cara salam dalam masyarakat kita memang tidak familiar atau tidak banyak orang mengetahuinya akan tetapi boleh dilakukan dalam agama Islam dan sah hukumnya sedangkan gambarannya adalah misalnya ada seseorang yang mau melaksanakan haji atau umroh ke tanah suci lalu temannya memberikan uang kepadanya guna membeli suatu barang dengan perantaranya, sedangkan seseorang yang akan melakukan perjalanan haji atau umroh tersebut sudah tahu dan memperkirakan berapa harga dari barang yang dipesannya itu, sehingga dia menentukan harga barang yang dipesannya tersebut dengan tujuan mendapatkan keuntungan dari pesanan barang itu, begitulah gambaran dari jual beli salam itu lebih jelasnya fahamilah penjelasan dibawah ini :

  •        A. Definisi Salam
    Salam menurut arti Bahasa Arab adalah berarti terburu-buru dan menyerahkan, dan dinamakan demikian karena dalam jual beli salam si penjual menyerahkan modal berupa harga dari barang yang akan dibelinya dengan cara salam / pesanan, dan dalam syari’ transaksi semacam ini disebut salam atau salaf di mana kata salam digunakan oleh penduduk Hijaz (Makkah, Madinah, Thoif) sedangkan kata salaf digunakan oleh penduduk Iraq dan sekitarnya.
    Sedangkan transaksi salam menurut arti syar’i adalah akad jual beli di mana barang yang diperjualbelikan masih belum ada dan akan diserahkan secara tangguh sementara pembayarannya dilakukan secara tunai di muka. Namun sifat dan harga barang pesanan harus telah disepakati di awal akad menggunakan lafadh salam atau salaf.Perlu diketahui bahwa akad salam menguntung-kan kedua belah pihak yang melakukan transaksi jual beli salam yaitu sebagai  berikut :
    1) Keuntungan Bagi si pembeli dengan Akad Salam
    a. Jaminan untuk mendapatkan barang sesuai dengan yang ia butuhkan dan pada waktu yang ia inginkan.
    b. Mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan pembelian kontan dan barang nya sudah ada yang biasanya lebih mahal.
    2) Keuntungan Bagi si penjual dengan Akad Salam
    Sedangkan keuntungan bagi si penjual adalah sebagai berikut :
    a. Penjual mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya dengan cara-cara yang halal, sehingga ia dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya tanpa harus membayar bunga. Dengan demikian selama belum jatuh tempo, penjual dapat menggunakan uang pembayaran tersebut untuk menjalankan usahanya dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa ada kewajiban apapun.
    b. Penjual memiliki keleluasaan dalam memenuhi permintaan pembeli, karena biasanya tenggang waktu antara transaksi dan penyerahan barang pesanan berjarak cukup lama.
  •         B. Dasar Hukum Dari Akad Salam
    Adapun dasar dan dalil diperbolehkannya melakukan akad salam adalah firman Allah Swt.:
    يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلٰى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ. (البقرة : 282)
    Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bermua’malah dengan tidak secara tunai pada waktu tertentu hendaknya kamu menuliskannya, dan hendaklah salah satu penulis di antara kalian menuliskannya dengan benar.” (QS. Al-Baqarah:281).
    Dan juga Hadits Nabi Saw. berikut ini :
    مَنْ اَسْلَفَ فِيْ شَيْءٍ فَلْيُسْلِفْ فِيْ كَيْلٍ مَعْلُوْمٍ وَوَزْنٍ مَعْلُوْمٍ اِلٰى اَجَلٍ مَّعْلُوْمٍ (متفق عليه)
    “Barang siapa membeli sesuatu dengan pesanan maka hendaknya menyebutkan ukuran yang diketahui dan timbangan yang dikenal serta diserahkan pada waktu yang sudah ditentukan”. (HR. Bukhori & Muslim).
  • C. Rukun-rukun Transaksi Jual Beli Salam
    Sedangkan rukun-rukunnya yang harus terlaksana dalam transaksi jual beli dengan cara salam ada lima perkara berikut ini :
    1. Muslam (yang membeli dengan pesanan)
    2. Muslam ilaih (penjual yang dipesani)
    3. Muslam fiih (barang yang dibeli dengan pesanan)
    4. Ro’su mal (modal/ uang harga dari barang yang dipesan)
    5. Sîghoh (akad Ijâb Qabûl).
  •  Contoh Akad Salam
    Zaid berkata pada Umar: “Saya serahkan uang 100 juta ini kepadamu untuk kamu belikan saya mobil merek Toyota tahun 2000 berwarna hitam dan kau serahkan mobil itu kepadaku di awal bulan Juni.”
    Umar menjawab: “Baik saya terima.”
    – Maka Zaid adalah Muslam (yang membeli dengan pesanan)
    – Umar adalah Muslam ilaih (penjual yang di pesani)
    – Mobil adalah Muslam fiih (barang yang di pesan)
    – Uang 100 dinar adalah Ro’su mâl (modal uang sebagai harga).
    – Perkataan “Saya menyerahkan uang 100 juta…….” adalah shîghoh (akad Ijâb Qabûl).

Menurut madzhab Imam Syafi’i Ra. transaksi jual beli salam itu sah baik barang yang dipesan itu akan diserahkan dengan tempo tertentu atau diserahkan dengan cara kontan saat itu juga, sedangkan Menurut Madzhab imam Maliki, Hanafi, dan Imam Hambali transaksi jual beli salam tidak sah kecuali jika barang yang dipesan diserahkan dengan tempo bukan kontan, sedangkan alasan Imam Syafi’i Ra. jika penyerahan barang yang dipesan dengan tempo tertentu saja hukumnya sah padahal lebih rentan penipuan ( dengan tidak diserahkan barang tersebut kepada si pembeli) apalagi jika penyerahannya langsung saat itu juga dengan cara kontan .

Leave a comment

Your email address will not be published.

*