Website Resmi Habib Segaf Baharun

Kenapa Harus Resah Ketika Haidh ???

hijab (1)Sebab-sebab seorang wanita berubah rubah siklus haidhnya, kalau dipandang dari segi medis, di antaranya, sebagai berikut: 

  1. Karena stres.
  2. Karena turunnya berat badan secara derastis.
  3. Karena mengalami masalah kesehatan yang serius
  4. Karena mengonsumsi obat-obatan pengontrol kehamilan.
  5. Karena menggunakan alat-alat KB.

Dari segi hukum, berubahnya siklus haidh tidak berpengaruh apa pun. Islam tidak menghukumi haidh pada seorang wanita kecuali setelah mengeluarkan darah. Jika tidak mengeluarkan darah, berarti dia suci.

Adapun hukum jika seorang wanita mengeluarkan darah hingga melebihi atau berkurang dari masa kebiasaannya, berikut ini keterangannya:

Jika melebihi kebiasaannya tetapi tidak lebih dari masa paling lama haidh, yaitu 15 hari 15 malam, misalnya kebiasaan haidhnya tujuh hari lalu pada bulan berikutnya selama sepuluh hari, hari-hari itu dihukumi haidh, karena memenuhi syarat tidak lebih dari 15 hari 15 malam dan tidak kurang dari sehari semalam. Berarti, kebiasaan haidhnya pada bulan ini bertambah.

Begitu pula jika berkurang jumlah kebiasaan hari-hari haidhnya, misalnya  kebiasan haidhnya tujuh hari, pada bulan berikutnya dia mengalami haidh dan mengalaminya selama tiga hari saja lalu tidak keluar lagi darahnya, tiga hari tersebut dihukumi masa haidh juga, karena telah memenuhi syarat darah haidh. Berarti, pada bulan ini kebiasaan haidhnya berkurang.

Jika berkurangnya dari kebiasaan haidhnya hingga batas tidak sampai kurang dari masa paling singkat masa haidh, yaitu satu hari satu malam, misalnya kebiasaan haidhnya tujuh hari setiap bulannya lalu pada bulan berikutnya hanya mengeluarkan darah selama setengah hari, lalu tidak keluar lagi hingga akhir bulan, berarti dia mengalami istihadhah. Wanita yang mustahadhah dihukumi sama halnya dengan wanita yang suci pada umumnya, sehingga dia wajib mengqadha’ shalat-shalat yang ditinggalkan semasa mengeluarkan darah yang setengah hari itu dan berarti dia pada bulan itu tidak mengalami haidh.

Tapi jika melebihi kebiasaannya hingga melebihi batas masa paling lamanya masa haidh, yaitu 15 hari 15 malam, berarti dia mengalami haidh sekaligus istihadhah, karena paling lama masa haidh adalah 15 hari 15 malam, baik lebihnya hingga akhir bulan maupun lebih seperti yang Anda alami saat ini, yaitu lebih dari tiga bulan. Sedangkan hukumnya untuk menetukan hari-hari yang dihukumi haidh dan hari-hari yang dihukumi istihadhah adalah sebagai berikut:

Jika darah yang dikeluarkan lebih dari satu sifat atau warna, yang dihukumi darah haidh adalah hari-hari yang mengeluarkan darah yang lebih kuat, baik hari-hari itu melebihi masa kebiasaannya maupun berkurang dari masa kebiasaannya, dengan tiga syarat berikut ini:

  1. Darah yang kuat tidak kurang dari satu hari satu malam.
  2. Darah yang kuat tidak lebih dari 15 hari 15 malam.
  3. Antara darah yang kuat dan darah yang lemah tidak silih-berganti.

Jika tidak memenuhi persyaratan tersebut, yang dihukumi darah haidh adalah hari-hari kebiasaan haidhnya pada bulan terakhir sebelum mengalami istihadhah itu.

Tapi jika darah yang keluar hanya satu sifat atau warna, yang dihukumi haidh adalah hari-hari kebiasaannya pada bulan terakhir sebelum mengalami istihadhah. Misalnya kebiasaan haidhnya sebelum mengalami istihadhah tujuh hari lalu mengalami istihadhah selama tiga bulan, tujuh hari pertama semenjak mengeluarkan darah pada setiap bulannya adalah masa haidhnya dan selebihnya dihukumi darah istihadhah.

 

Di Balik Ketetapan Haidh

Haidh atau menstruasi adalah ketetapan Allah untuk semua wanita. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, haidh akan dialami kaum Hawa, sebagai ujian untuk mereka. Di antara hikmah dan ujian yang terdapat dalam haidh kepada kaum Hawa  adalah sebagai berikut:

 Untuk menguji kesabaran suami tatkala istrinya sedang mengalami haidh, agar tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah SWT atas hamba-hamba-Nya.

  • Untuk menguji kesabaran kaum Hawa dalam menjalankan syari’at agama, sebab masalah haidh sangat terkait dengan ibadah shalat, puasa, haji, dan lain-lain. Dapat dibayangkan, bagaimana kecewanya seorang wanita yang sudah menjalankan puasa hingga ketika dekat waktu berbuka dia mengalami haidh. Atau, ketika seorang wanita suci pada pertengahan malam saat dia diwajibkan untuk mandi suci dan melaksanakan shalat Isya serta Maghrib dan tidak boleh diakhirkan hingga waktu subuh tiba. Atau, ketika rombongan jama’ah haji telah melaksanakan thawaf ifadhah atau thawaf rukun sementara dia harus bersabar menunggu hingga dia suci dari haidhnya. Ini semua contoh-contoh ujian untuk melatih kesabaran dan kepasrahan kaum Hawa terhadap ketentuan Allah SWT. Jika bersabar, mereka akan mendapat pahala yang berlipat dari Allah SWT.
  • Untuk menguji kesabaran kaum Hawa dalam mengendalikan hawa nafsunya. Seorang wanita yang sedang haidh umumnya akan sangat sensitif, karena pengaruh hormon dalam dirinya. Sampai-sampai para ulama mengatakan, “Jika seorang wanita sedang haidh, setan yang biasanya bersamanya jumlahnya satu akan menjadi tujuh belas.” Maknanya, haidh adalah ujian tersendiri bagi kaum Hawa untuk melawan hawa nafsunya sehingga tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT, seperti mudah marah, berprasangka buruk, dan lain-lain.

 

Tentunya, masih banyak hikmah lainnya lagi yang Allah SWT berikan di balik ketetapan-Nya dalam hal haidh yang dialami kaum wanita.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives