Hal-Hal Yang Menyebabkan Harta Warisan Berkah !!!

harta-warisanHak-Hak Yang Berkaitan Dengan Harta Si Mayit

Ada lima hak yang berkaitan dengan harta waris, hak itu perlu diketahui terutama bagi mereka yang akan membagikan harta waris kepada ahli warisnya, supaya ditanyakan kepada ahli waris apakah ada salah satu dari perkara-perkara tersebut yang berkaitan dengan harta waris itu.

Sedangkan cara penerapan hak-hak yang berkaitan dengan harta tersebut terhadap harta waris itu dapat diperinci sebagai berikut.

Jika harta warisnya banyak dalam arti jika dia terapkan semua hak hak yang berkaitan dengan harta tersebut akan mencukupi untuk semua hak, maka hukumnya sunnah penerapan hak-hak tersebut sesuai dengan tertib yang akan disebutkan.

Dan jika harta warisnya sedikit maka wajib menerapkan hak hak yang berkaitan dengan harta waris itu dengan tertib, dan tidak boleh didahulukan hak yang kedua sebelum penerapan hak yang pertama. Sedangkan hak-hak itu adalah sebagai berikut.

  1. Setiap Hak Yang Berhubungan Langsung Dengan Harta Yang Ditinggalkan Mayit.

Misalnya harta warisnya berupa sapi 40 ekor lebih, maka kita tanyakan kepada ahli warisnya apakah sapi-sapi tersebut sudah dikeluarkan zakatnya? Jika belum kita keluarkan dulu zakatnya, karena hak itu berhubungan langsung dengan harta waris yang berupa sapi itu.Begitu pula harta lainnya. Misalnya lagi dalam harta waris terdapat sebuah mobil, padahal mobil itu digadaikan si mayit sebelum meninggal karena hutang, maka si ahli waris tidak boleh menjual atau membagikannya kecuali setelah dibayar hutang yang karenanya digadaikan mobil itu. Hak tersebut di tempatkan di posisi pertama, karena hak tersebut berkaitan langsung dengan harta waris, dengan kata lain di antara harta waris ada barang yang berkaitan hak tertentu dengan orang lain, maka orang lain tersebut adalah orang yang paling berhak dengan barang itu sebelum lainnya walaupun ahli waris karena haknya berkaitan langsung dengan barang peninggalan mayit tersebut. Lain halnya jika si mayit tersebut sebelum meninggal menjual sapinya semua sebelum dikeluarkan zakatnya, berarti dia berhutang zakat sapi, akan tetapi waktu meninggal, sapi-sapi itu sudah tidak ada lagi maka bukan termasuk hak pertama melainkan termasuk hak ketiga yaitu termasuk katagori hutang-hutang mayit, karena hak tersebut tidak berkaitan langsung dengan harta waris itu, dikarenakan sapi-sapi itu sudah dijual.

  1. Biaya Penguburan Si Mayit.

Maka sebelum berpindah kepada hak yang ketiga, harus disisihkan dahulu dari harta waris sejumlah uang yang cukup untuk digunakan membayar biaya penguburan si mayit dengan sewajarnya. Maksudnya dengan melihat keadaan si mayit, jika dia orang kaya maka di sediakan biaya penguburan layaknya orang kaya, begitu pula sebaliknya jika dia termasuk orang miskin maka di sediakan biaya penguburan layaknya orang miskin begitu pula jika dia termasuk orang yang sederhana disediakan biaya penguburan orang yang sederhana. Dan hal itu adalah hak si mayit yang tidak boleh bagi siapa saja termasuk ahli waris untuk mengurangi atau tidak melaksanakannya. Adapun yang dimaksud dengan biaya penguburan di sini mencakup hal-hal di bawah ini:

  1. Biaya untuk membeli kafan kapas minyak untuk mayit dan lain-lain.
  2. Biaya untuk upah orang yang memandikannya jika tidak dilakukan oleh ahli waris.
  3. Biaya untuk tanah kuburan dan upah penggalinya dan lain-lain.

Dan perlu diingat bahwa membuat tahlil untuk si mayit bukan termasuk dari biaya penguburan, jadi tidak boleh diambil dari harta waris kecuali jika ahli waris sepakat untuk itu tanpa mengurangi bagian ahli waris yang mahjur ‘alaih jika ada, seperti anak kecil, orang gila atau seorang yang idiot, itupun jika hartanya bisa mencukupi hak-hak yang lain.

Dikecualikan dari hal tersebut diatas, biaya penguburan seorang istri yang tidak durhaka kepada suaminya maka tidak diambil dari harta warisnya walaupun hartanya banyak, akan tetapi ditanggung oleh suaminya jika dia termasuk orang yang mampu untuk menyediakannya, walaupun diambil dari harta yang akan diwarisinya dari istri tersebut.

Adapun jika istri tersebut seorang istri yang durhaka terhadap suaminya atau suaminya termasuk orang yang tidak mampu, maka biaya penguburannya diambil dari harta waris istri tersebut.

Dari Mana Biaya Penguburan Disediakan

Jika seorang meninggal maka biaya penguburan diambil dari harta warisnya (kecuali biaya penguburan istri yang tidak durhaka, maka ditanggung suaminya) dan jika tidak meninggalkan harta waris, misalnya dia orang miskin atau seorang anak yang belum baligh atau belum berpenghasilan dan lain-lain, maka biaya penguburannya diambil dari orang yang wajib menafkahinya semasa hidupnya dan jika orang yang wajib menafkahinya juga tidak mampu karena dia orang miskin atau tidak ada orang yang menafkahinya maka biaya penguburannya diambil dari baitul mal jika ada atau dari instalasi yang menyediakan kafan waqof. Dan Jika diambil dari keduanya maka diambil kadar wajibnya saja, misalnya satu helai kain kafan saja begitu pula yang lainnya. Dan jika baitul mal dan yang menyediakan kain kafan tidak ada juga maka menjadi kewajiban setiap muslim yang kaya yang berada di sekitarnya untuk menyediakannya sebagai fardhu kifayah yaitu jika sudah ada yang melakukannya, gugur kewajiban tersebut atas orang muslim lainnya.

  1. Hutang si mayit

Hak ketiga yang berkaitan dengan harta waris adalah hutang-hutang mayit baik-hutang mayit kepada manusia atau kepada Allah, seperti berhutang haji, zakat, kafaroh dan lain-lain.

Dan perlu diingat disini bahwa hutang si mayit kepada Allah harus didahulukan dari hutang si mayit kepada manusia, jika harta yang ditinggalkan mayit tidak mencukupi untuk keduanya, misalnya uang yang ditinggalkan Rp. 20.000.000,- padahal dia berhutang kepada Allah berupa kewajiban haji yang tidak dilakukan dimasa hidupnya dan dia juga berhutang kepada manusia sejumlah uang yang ditinggalkan tersebut, padahal jika si ahli waris melaksanakan haji badal (haji untuk menggantikan haji si mayit) misalnya biayanya juga sebesar Rp. 20.000.000, maka jika terjadi hal tersebut sejumlah uang Rp. 20.000.000, peninggalan mayit tersebut digunakan untuk haji badal bukan dibayarkan untuk hutangnya dia, dan jika setelah dibayarkan untuk hak Allah ternyata ada sisa maka diberikan kepada orang yang mempunyai piutang dengan cara persentase, tergantung dari persentase hutang mayit kepada mereka. Lain halnya jika hal itu terjadi di masa hidupnya, maka hutang kepada manusia didahulukan dari hutang kepada Allah.

Dan hak yang ketiga ini harus didahulukan dari hak yang ke empat yaitu berupa wasiat mayit, karena hutang harus dibayarkan oleh mayit, lain halnya wasiat yang umumnya hukumnya sunnah dilakukan oleh mayit. Sedangkan jika si mayit tidak mampu membayar hutangnya, maka bukan kewajiban ahli waris untuk membayarkannya, akan tetapi termasuk kebaktian seorang anak kepada orang tuanya jika dilunasi hutang-hutang orang tuanya, dan tidak boleh atas orang yang punya piutang untuk menagih kepada ahli waris, Karena bukan kewajiban mereka membayarkan hutang si mayit.

  1. Wasiat si mayit

Wasiat si mayit berkaitan dengan harta yang ditinggalkannya, karena itu adalah hak si mayit untuk berwasiat dengan hartanya. Dan tidak boleh untuk dilanggar atau tidak dikeluarkan, asalkan memenuhi dua syarat dibawah ini.

Syarat yang pertama : wasiat itu tidak boleh lebih dari dari harta waris, dan jika lebih maka selebihnya tergantung dari kesepakatan ahli waris, jika mereka menyetujuinya maka sah hukumnya jika tidak disetujui maka sah yang saja dan yang selebihnya tidak sah, dan jika ada yang menyetujui dan ada pula yang tidak menyetujuinya, Maka yang menyetujuinya diambil haknya dari harta waris untuk melengkapi wasiat si mayit sedangkan yang tidak menyetujuinya tidak dikurangi haknya dari harta waris itu, begitupula dari bagian ahli waris yang mahjur ‘alaih. Syarat yang kedua : wasiat tersebut bukan untuk salah seorang dari ahli waris, dan Jika wasiat tersebut untuk salah satu dari ahli waris atau sebagian dari mereka maka hukumnya sama seperti syarat yang pertama, yaitu keabsahannya tergantung kesepakatan semua ahli waris jika mereka sepakat untuk menyetujui, maka sah wasiat tersebut dan jika mereka tidak sepakat atau tidak menyetujuinya maka tidak sah wasiat tersebut. Adapun jika sebagian menyetujui dan sebagian lagi tidak maka hukumnya adalah yang menyetujuinya diambil haknya dari harta waris untuk melaksanakan wasiat si mayit dan bagi yang tidak menyetujuinya tidak dikurangi haknya dari harta waris itu.

  1. Pembagian harta waris untuk ahli waris.

Jika sudah dilaksanakan hak yang pertama sampai yang ke empat oleh ahli waris, yang mana 4 hak tersebut adalah hak si mayit untuk di laksanakan pada harta yang di tinggalkannya, barulah harta waris tersebut menjadi hak ahli waris untuk dimilikinya sesuai bagian mereka masing-masing menurut hukum faroid.

Kesimpulannya adalah : seharusnya bagi mereka yang akan membagikan harta waris kepada ahli warisnya baik dia sendiri termasuk ahli waris atau bukan untuk mengeluarkan atau membayarkan 5 hak yang berkaitan dengan harta waris dengan tertib jika harta waris sedikit dan sunnah tertib jika hartanya banyak.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*