Cara membedakan darah haid

cara membedakan darah haidYang harus kita ketahui, pertama, paling singkatnya masa haidh adalah sehari semalam, atau tepatnya 24 jam, yaitu jika keluarnya secara terus-menerus. Dengan mengetahui hal itu, kita dapat memastikan. Jika darah yang keluar ternyata kurang dari sehari semalam dan tidak keluar lagi hingga 15 hari berikutnya, berarti darah tersebut adalah darah istihadhah. Bukan darah haidh, karena tidak sampai sehari semalam.
Sedangkan jika darah tersebut keluar lagi setelah itu (setelah 15 hari berikutnya), berarti yang keluar setelah itu bisa jadi darah haidh dan yang pertama tadi adalah darah istihadhah.
Jika keluar lagi sebelum 15 hari, bisa jadi rangkaian darah-darah yang keluar seluruhnya adalah darah haidh, asalkan tidak melebihi 15 hari, baik masa keluarnya darah itu melebihi masa kebiasaannya maupun kurang.
Kedua, masa haidh terlama adalah 15 hari 15 malam. Dengan mengetahui hal itu, kita dapat memastikan. Jika darah yang keluar melebihi masa itu, darah yang keluar ada yang dihukumi darah haidh tapi ada juga yang dihukumi darah istihadhah.
Untuk membedakannya, lihatlah sifat dan warna darah yang keluar: Jika darah yang keluar satu warna, misalnya yang dikeluarkan darah merah semua, yang dihukumi darah haidh adalah masa kebiasaannya pada bulan sebelumnya. Kalau terjadi pada bulan ini, yang dihukumi masa haidh adalah kebiasaan haidh pada bulan yang lalu. Misal, bulan yang lalu haidh tujuh hari, tujuh hari pertama setelah mengeluarkan darah tersebut adalah masa haidhnya, dan selebihnya adalah istihadhah.
Jika darah yang keluar dua sifat atau dua warna, yang dihukumi darah haidh adalah darah yang kuat. Misalnya ada yang berwarna hitam dan ada yang berwarna merah, maka yang dihukumi darah haidh adalah darah yang keluar pada hari-hari yang mengeluarkan darah hitam, sedangkan selebihnya adalah istihadhah, baik hari-hari keluarnya darah kuat itu terjadi di awal, di pertengahan, maupun di akhir, dengan syarat:

1. Darah yang kuat tidak kurang dari sehari semalam. Jika darah yang kuat kurang dari batas tersebut, misalnya darah hitam keluar hanya setengah hari lalu selebihnya darah merah, masa haidhnya dikembalikan kepada masa kebiasaan bulan sebelum terjangkit istihadhah itu.
2. Darah yang kuat tidak lebih dari 15 hari 15 malam. Jika darah yang kuat melebihi masa itu, yang dihukumi darah haidh dikembalikan kepada masa kebiasaan bulan sebelum terjangkit istihadhah tersebut.
3. Antara darah yang kuat dan darah yang lemah tidak silih-berganti. Jika terjadi lima hari darah hitam lalu lima hari berikutnya darah merah dan begitu seterusnya hingga akhir bulan secara bergantian, masa haidhnya juga dikembalikan kepada masa haidnya.

Untuk pertanyaan selanjutnya, apakah yang diharamkan atas wanita yang terjangkit istihadhah, perlu diketahui, wanita yang terjangkit istihadhah dihukumi layaknya wanita yang suci pada umumnya sehingga tidak ada yang diharamkan atasnya. Berbeda dengan wanita yang sedang haidh, wanita yang sedang istihadhah tetap berkewajiban untuk melaksanakan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, dan ibadah-ibadah lainnya, serta boleh berhubungan badan dengan suaminya layaknya wanita suci pada umumnya.

Periksa saat Puasa Ramadhan
Asalkan dokter yang menanganinya adalah dokter perempuan, hukumnya tidak mengapa. Adapun hukum puasanya adalah sebagai berikut: Jika mengharuskan dokter itu memasukkan benda ke dalam organ intimnya (maupun rongga tubuh lainnya), jika bukan dalam kondisi darurat, harus diakhirkan hingga malam hari. Sebab, masuknya suatu benda ke dalam organ intimnya tersebut menyebabkan puasanya menjadi batal. Namun bila darurat, tidak mengapa, akan tetapi puasanya tetap batal dan wajib hukumnya diqadha.
Namun jika dokter tersebut hanya memeriksa tanpa memasukkan benda apa pun ke dalam organ intimnya, puasanya tidak menjadi batal.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*