RIBA !!! Haram Melakukan RIBA !

downloadApapun yang disyariatkan oleh Allah Swt. dalam syariatnya pasti mengandung banyak hikmah baik yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui, di mana semua hikmahnya itu akan kembali kemanfatannya kepada kita baik di dunia maupun di akhirat kelak, dan di antara hikmah yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut :

  1. Riba adalah suatu perbuatan mengambil harta orang lain tanpa ganti, misalnya jika seseorang meminjam uang sebanyak Rp. 10 ribu lalu harus dikembalikan Rp. 20 ribu bukankah orang yang meminjamkannya mendapatkan uang imbalan karena hutangnya tersebut sebesar Rp. 10 ribu,  tanpa ganti dan imbalan apapun dari yang meminjamkannya, padahal harta orang lain itu merupakan standard hidup dan mempunyai kehormatan yang sangat besar setara dengan kehormatan darahnya, seperti apa yang disebut dalam Hadits Nabi:

قَالَ رَسُوْلُ االلهِ ﷺحُرْمَةُ مَالِ الْمُسْلِمِ كَحُرْمَةِ دَمِهِ. (رواه الدَّار القُطْنِيّ

“Kehormatan harta seorang muslim  setara dengan kehormatan darahnya.” (HR. Daru Quthniy)

Oleh karena itu mengambil harta orang lain  tanpa ganti dan imbalan apapun, sudah pasti hukumnya adalah  haram.

  1. Jika pemasukan seseorang bergantung kepada transaksi  riba, maka hal itu dapat menghalanginya  dari kesibukan bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan memperoleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan menyepelehkan persoalan mencari penghidupan, sehingga bisa jadi  dia tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang ataupun pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Hal semacam itu akan berakibat terputusnya sebab-sebab kebutuhan masyarakat karena tidak dapat disangkal lagi, bahwa kemaslahatan dunia seratus persen ditentukan oleh jalannya perdagangan, suatu pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.
  2. Transaksi Riba akan menyebabkan hilangnya sifat ma’ruf (berbuat baik) antara sesama manusia dalam bidang pinjam-meminjam. Sebab kalau riba itu dihalalkan, maka hal itu akan memberatkan si peminjam dengan misalnya mengembalikan uang Rp. 200.000 dari jumlah Rp. 100.000 yang dipinjamnya, sehingga dia seakan akan senang menikmati kenikmatan di atas kesengsaraan seseorang sehingga hilang perasaan belas kasih dan berbuat ma’ruf (kebaikan) kepada sesama.
  3. Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka jika transaksi riba itu diperbolehkan, berarti memberikan jalan kepada para orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah untuk menambah harta mereka  dengan cara semena-mena, dan hal itu sama sekali tidak mencerminkan sifat dari seorang mukmin di mana di antara sifat kaum mukmin adalah mereka saling mengasihi dan membantu di antara sesama.

Kesimpulannya jika transaksi riba dengan bentuk dan macam apapun diperbolehkan maka menimbulkan unsur pemerasan kepada orang-orang yang lemah demi kepentingan orang yang kuat dengan kata lain yang kaya akan bertambah kaya sedangkan yang miskin akan semakin miskin.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*