Bagaimana Hukum Puasa dan Melaksanakan Umroh Dibulan Rojab?

Bagaimana Hukum Puasa dan Melaksanakan Ibadah Umroh Dibulan Rojab??

Hukum Berpuasa Dibulan Rojab
Mengenai kesunahan berpuasa disebagian hari pada bulan rojab, telah disepakati oleh para ulama yaitu imam madzhab empat (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafie’ dan imam Ahmad bin Hambal), adapun berpuasa satu bulan penuh pada bulan rojab, sekiranya tidak ada satu haripun yang ditinggalkan tanpa berpuasa maka jumhurul ulama (Imama Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafie’ ) bersepakat dengan kesunahannya, namun imam Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa hukumnya makruh dan tidak menjadi makruh dengan cara berbuka (tidak berpuasa) walaupun hanya satu hari dibulan rojab.

Jumhurul ulama berpendapat dengan kesunahan berpuasa sebulan penuh dibulan rojab dengan dua dalil dibawah ini :
1. Hadist-hadist yang menerangkan tentang anjuran umum dalam kesunahan berpuasa, sangatlah banyak dan luas pembahasannya.
2. Hadist-hadist yang menerangkan tentang anjuran khusus dalam kesunahan berpuasa pada bulan-bulan harom, terutama pada bulan Rojab seperti yang telah disepakati, serta tentang keutamaan berpuasa pada bulan rojab secara khusus

Dan diantara dalil-dalil yang lain adalah:
1. Hadist Abi Mujibah Albahily, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda kepadanya : ”Puasalah pada bulan harom dan tinggalkanlah!, Puasalah pada bulan harom dan tinggalkanlah!” (H.R Ahmad dan Abu Daud dengan lafadznya)

Dan lafadz dari imam Ahmad : “dan dari bulan harom maka bukalah (jangan berpuasa)”
Hadist ini telah diriwayatkan juga oleh imam Baihaqi dalam kitab As-sunan dan Assyi’ib dan Ibnu Sa’ad

2. Hadist dari sahabat Usamah bin Zeid beliau berkata : “ aku berkata kepada Rasulullah : “wahai Rasulullah aku tidak pernah melihatmu berpuasa lebih daripada engkau berpuasa pada bulan sya’ban”, beliau menjawab : “bulan sya’ban adalah bulan yang mana manusia banyak lalai dalam mengagungkannya karena dia berada antara bulan rojab dan bulan rhomadhon dan bulan sya’ban merupakan bulan dimana Allah mengangkat amal semua manusia, dan aku ingin amal ibadahku diangkat kepada Allah dalam keadaan aku sedang berpuasa” (H.R AnNasai dan Ahmad)

Imam Syauqani menjelaskan dalam kitabnya Nailil Awtar :
Dalam hadist sahabat Usamah diatas disebutkan bahwa “manusia banyak lalai dalam mengagungkannya karena dia berada antara bulan rojab dan bulan rhomadhon”
Maka diambil dua kemungkinan:

1) Rasulullah senang berpuasa pada bulan rojab, karena tersirat dalam hadist diatas, bahwa manusia banyak yang lalai dalam mengagungkan bulan sya’ban dengan berpuasa sebagaimana mereka mengagungkan bulan rojab dan rhomadhon dengan berpuasa.

2) Dan mungkin juga yang dimaksud dengan lalainya manusia dalam mengagungkan bulan sya’ban dengan berpuasa adalah sebagaimana mereka mengagungkan bulan rojab dengan menyembelih binatang-binatang kurban mereka, karena bulan rojab adalah bulan yang mulia pada masa jahiliah dimana mereka menyembelih athiroh (kambing yang disembelih dibulan rojab) pada bulan tersebut, seperti yang telah dijelaskan hadistnya.

Akan tetapi makna yang paling mendekati adalah kemungkinan pertama, dan yang dimaksud manusia adalah para sahabat, karena syariat telah menghapus semua kebiasaan masyarakat jahiliah yang puncaknya adalah memberi ketetapan kepada mereka untuk berpuasa pada bulan rojab, hal ini tidak memberikan hukum yang lebih dari hukum bolehnya berpuasa, dan telah diriwayatkan kesunnahan berpuasa pada bulan rojab baik secara umum atau khusus.

Adapun hadist yang menjelaskan secara umum adalah hadist-hadist yang diriwayatkan tentang anjuran berpuasa pada bulan-bulan harom, dan bulan rojab termasuk dari salah satu bulan harom, dan begitu pula hadist yang menjelaskan tentang anjuran untuk banyak berpuasa secara umum pada bulan-bulan selainnya.

Kemudian Imam Syauqani menyebutkan hadist-hadist tentang keutamaan berpuasa dibulan rojab yang diriwayatkan oleh Athobrani, Baihaqi, Abu Nu’im, dan Ibnu Asakir, lalu beliau berkata : “dari Ibnu Assubuki dari Muhammad bin Manshur Assam’ani beliau berkata:” tidak terdapat satu hadist pun yang menjelaskan tentang kesunnahan berpuasa pada bulan rojab secara khusus sedangkan hadist yang menyebutkan keutamaannya adalah hadist yang lemah dan tidak disukai oleh ulama hadist”

Ibin Abi Syaibah menyebutkan dalam karangannya, bahwa Sayyidina Umar r.a pernah memukul telapak tangan seseorang yang berpuasa pada bulan rojab, kemudian meletakkannya diatas tempat yang berisi makanan serya berkata: “makanlah, karena bulan rojab adalah bulan yang diagungkan masyarakat jahiliah.

Dan diriwayatkan juga dari Sahabat Zaid bin Aslam beliau berkata: Rasulullah ditanya tentang berpuasa dibulan Rojab lalu beliau bersaba: “apa pandangan kalian terhadap bulan sya’ban?”

Dan diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar r.a, hadist yang menjelaskan bahwa beliau tidak suka berpuasa dibulan rojab
Lalu Imam Syauqani melanjutkan perkataannya:
“tidak samar bagimu hukum puasa rojab, walaupun tidak ditetapkan dengan dalil yang khusus dalam kesunnahannya, telah ditetapkan dengan dalil yang umum dan tidak dapat dihukumi makruh sampai ada dalil yang menjelaskannya secara khusus”.

Adapun hadist Ibnu Majah:
“sesungguhnya Rasulullah SAW melarang berpuasa dibulan Rojab” itu adalah hadist yang dhoif karena ada dua periwayat yang dihukumi dhoif didalam hadist tersebut yaitu Zaid bin Abdul Hamid dan Daud bin Atho’

Dan Al-Iz bin Abdus Salam telah mencela sesorang yang melarang berpuasa dibulan rojab, seperti yang telah dinukil oleh Ibin Hajar AlHaitami didalam kitabnya “Alfatwa Alfiqhiyah Alkubro”
Adapun madzhab Imam Ahmad bin Hambal, berpendapat dengan makruhnya berpuasa satu bulan penuh dibulan rojab karena beliau mengambil dalil dari hadist Ibnu Abbas r.a dan larangan Sayyidina Umar kepada orang yang berpuasa dibulan rojab seperti yang dijelaskan oleh Imam Syauqani dalam perkataan sebelumnya, adapun pada bulan-bulan harom maka Imam Ahmad sependapat dengan Jumhurul ulama tentang kesunahan berpuasa didalamnya.

Berkata Imam Ibnu Qudamah Alhmbali dalam kitab Almughni: “makruh menyendirikan bulan rojab untuk berpuasa”
Imam Mawardi berkata dalam kitabnya Al-Inshof: ”hukum makruh menyendirikan bulan rojab untuk berpuasa adalah suatu madzhab yang diambil pendapatnya oleh Al-Ashab dan menyalahi pendapat tersebut sebagian besar dari kalangannya, sedangkan pendapat ini merupakan salah satu dari Mufrodatul madzhab “
Yang dimaksud dengan Mufrodatul madzhab adalah pendapat madzhab hambali yang tidak sesuai dengan pendapat tiga madzhab imam lainnya

Syaikh Taqiyuddin menyebutkan tentang hukum makruh menyendirikan bulan rojab untuk berpuasa ditinjau dari dua hal.
Ibnu Muflih berkata dalam kitab Alfuru’ : “mungkin saja dia mengambil pendapat Imam Ahmad yang mengatakan makruh menyendirikan bulan rojab untuk berpuasa”

Imam Mawardi berkata dalam kitabnya Al-inshof : ”dapat dipahami dari perkataan mushonnif bahwa tidak makruh menyendirikan bulan selain rojab untuk berpuasa, dan hal tersebut jelas tidak ada pertentangan didalamnya, Majid berkata: kami tidak menemukan pertentangan atas hal ini”
Kemudian beliau berkata: “akan hilang hukum makruh tersebut dengan cara tidak berpuasa dibulan rojab, walaupun hanya satu hari atau dengan cara berpuasa pada bulan-bulan lain ditahun tersebut, walaupun tidak bersambung dengan bulan rojab”

Dan dari artikel ini dapat dipahami dengan jelas bahwa jumhurul ulama berpendapat, berpuasa satu bulan penuh pada bulan rojab, sekiranya tidak ada satu haripun yang ditinggalkan tanpa berpuasa hukumnya sunnah, namun Imam Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa hukumnya makruh dan tidak menjadi makruh dengan cara berbuka (tidak berpuasa) walaupun hanya satu hari dibulan rojab. Adapun hukum berpuasa disebagian hari pada bulan rojab telah disepakati oleh para ulama imam madzhab empat kesunnahannya, dan bukan termasuk sesuatu yang bid’ah.
Dan hal ini tidak pantas untuk menjadi perselisihan antara kaum muslimin, karena yang unggul dalam pendapat sebelumnya adalah pendapat jumhurul ulama bukan pendapat Alhambali.

Hukum Umroh Dibulan Rojab
Adapun hukum umroh dibulan rojab tidak ada hadist yang menjelaskan bahwa beliau pernah melaksanakannya, namun sebagian ulama salaf senang melaksanakan umroh dibulan rojab.
Berkata Ibin Abi Syaibah dalam karangannya, dari Sa’id bin Almusayyib beliau berkata : Sayyidah Aisyah pernah melaksanakan umroh pada akhir bulan dzulhijjah, dan melaksanakan umroh dari kota madinah pada bulan rajab, beliau memulainya dari dzil halifah”
Dari Ya’la bin Al-Harist beliau berkata: kami pernah mendengar Abu Ishak ditanya tentang umroh dibulan rhomadhon, dan beliau berkata : “aku bertemu dengan sahabat-sahabat Abdullah dan mereka tidak menyalahkan umroh pada bulan rojab, kemudian mereka pergi melaksanakan haji”
Dari Abdurrahman Bin Hatib beliau berkata :” aku melaksanakan umroh bersama Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman pada bulan rojab”
Adapun dari perkara-perkara bid’ah yang mungkar, yang dikerjakan oleh sebagian orang dibulan rojab seperti sholat roghoib maka dilarang mengerjakan dan mengikutinya.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*