Website Resmi Habib Segaf Baharun

Untuk apa menikah? Apa tujuan utama pernikahan?

tujuan menikahTujuan utama dalam menikah adalah untuk mendapatkan anugrah Allah berupa seorang anak. Dan hal itu berdasarkan firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
فَالآنَ باشِروهُنَّ وَابتَغوا ما كَتَبَ اللَّهُ لَكُم
Maka sekarang hendaknya kalian gauli istri-istri kalian dan carilah apa yang telah Allah tuliskan untuk kalian.
Banyak diantara para ulama ahli tafsir yang memaknai ayat tersebut atau yang menafsirkan ما كَتَبَ اللَّهُ لَكُم (sesuatu yang Allah akan anugerahkan untuk kalian) itu adalah anak. Diantaranya adalah Imam Mujahid, Imam Hasan Al-Basri, Imam Dhohhak, dan lain-lain. Maka ayat tersebut diatas menunjukkan bahwasanya kita diperintahkan untuk menikah dengan tujuan supaya kita mendapatkan anugrah berupa seorang anak.
Dan didalam hadis, Nabi I bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ I ” يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ ، وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا ” ، وَيَقُولُ : ” تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأَُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ”
Dari sahabat Anas RA berkata: “Adalah Rasulullah I memerintahkan kami untuk mengumpulkan bekal lalu menikah, dan melarang kami untuk tidak menikah dengan larangan yang sangat”. Bahkan Nabi I bersabda, “Kawinlah kalian dengan seorang wanita yang selalu manja kepada suaminya, yang banyak melahirkan anak untuk suaminya. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya ummatku nanti pada hari kiamat.
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رضي الله عنه قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ I فَقَالَ : إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَجَمَالٍ وَإِنَّهَا لا تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا ؟ قَالَ : لا ، ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ ، ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ : تَزَوَّجُوا الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ
Dari sahabat Ma’qil bin Yasar RA dia berkata: Datang seseorang kepada Nabi Muhammad I dan dia berkata, “Ya Rasulullah… aku mendapatkan seorang wanita dari keluarga yang mulia dan cantik parasnya akan tetapi dia seorang wanita yang mandul. Apakah aku mengawininya?” Maka Nabi I bersabda, “Tidak”. Lalu dia datang untuk kedua kalinya, maka Nabi I tetap melarangnya. Sehingga dia datang untuk ketiga kalinya, maka Nabi I bersabda kepadanya, “Hendaknya kalian mengawini seorang wanita yang dapat melahirkan. Karena aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian.”
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ I قَالَ ” أَنْكِحُوْا أُمَّهَاتَ الأَوْلاَدِ فَإِنِّيْ أُبَاهِيْ بِكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ”
Dari sahabat Abdullah bin Amr bahwasanya Rasulullah I bersabda: Kawinlah kalian dengan ibu-ibu yang melahirkan anak. Karena aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat.
رَوَى حَمَّادُ بْنُ سَلاَمَة عَنْ عَاصِم عَنْ أَبِي صَالِح عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنْ النَّبِي I قَالَ “إِنَّ العَبْدَ لَتُرْفَعُ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَيَقُوْلُ أَيْ رَبّ أَنَّ لِيْ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ مِنْ بَعْدِكَ”
Dari sahabat Abi Huroiroh dia berkata bahwasanya Rasulullah I : ٍSesungguhnya seorang hamba akan diangkat derajatnya lalu dia berkata, “Wahai Tuhanku… Dari mana aku mendapatkan kedudukan yang semacam ini?” Maka Allah menjawabnya, “Karena permintaan ampun dari anakmu untukmu setelah engkau meninggal.”
Kesimpulannya, bahwasanya kita dianjurkan dan diperintahkan untuk menikah supaya mendapatkan anak. Karena didalam kita mendapatkan seorang anak ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan sebagaimana hal itu disampaikan oleh Al-Imam Al-Ghozali di kitab Ihya’ Ulumuddin, yaitu sebagaimana berikut:
Dan di dalam kita mendapatkan anak, merupakan sebuah ibadah yang mendekatkan diri kita kepada Allah Ta’ala dari empat segi:
1. Kita mengikuti apa yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk menggapai cintanya dan kesenangannya supaya kita mempunyai anak keturunan. Dengan begitu, akan tetap adanya keturunan manusia di dunia ini.
2. Dengan kita mempunyai anak, kita akan mendapatkan cinta daripada nabi Muhammad I. Dimana dengan begitu kita menambah kebanggaannya karena umatnya lebih banyak dari umat-umat yang lainnya.
3. Dengan kita mempunyai anak, kita mengharap keberkahan dari doa anak yang sholeh tersebut.
4. Dengan kita mempunyai anak, kita harapkan syafaatnya kelak jika dia itu meninggal sebelum baligh.
Berkata Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin yang kesimpulannya adalah bahwasanya didalam kita menikah dengan tujuan mempunyai anak ada empat faedah yang akan didapatkan dengan kita mempunyai seorang anak dari pernikahan tersebut:
1. Sinergi dengan keinginan Allah dan cintanya dengan kita menikah yang kemudian menghasilkan anak yang memang itulah yang diharapkan oleh Allah SWT supaya populasi manusia tetap berlanjut sampai hari kiamat. Maka dengan begitu dan niat yang semacam itu, berarti kita berusaha mencari sela dan mendapatkan cinta dan perhatian Allah SWT karena kita melaksanakan pernikahan dengan tujuan memperoleh anak seperti yang diperintahkannya.
2. Dengan kita mempunyai anak, maka berarti kita telah mengupayakan dan mengusahakan untuk mendapatkan cinta Nabi kita Muhammad I serta ridhonya dengan memperbanyak mereka-mereka yang akan membanggakannya nanti. Sebagaimana hal itu telah disebutkan dalam haditsnya Nabi I yang disebutkan:
تَزَوَّجُوْا الوَلُوْدَ الوَدُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمْ الأُمَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ
Menikahlah kalian, maka kalian akan menjadi banyak. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya umatku kelak di hari kiamat.
Maka dengan niat itulah suatu waktu Sayyidina Umar bin Khottob RA ditanya oleh sebagian sahabatnya tatkala dia banyak sekali menikah. Maka dijawab olehnya:
اِنَّمَا أَنْكِحُ لَلْوَلَدِ
Aku menikah supaya aku mendapatkan anak.
3. Dengan kita mempunyai anak, kita berharap kepada do’a yang baik yang dikumandangkan dan dimintakan oleh anak tersebut nantinya. Sebagaimana disebutkan:
إِذَا مَاتَ اِبْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ مِنْ عَمَلِهِ اِلاَّ ثَلاَثٌ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ
Jika meninggal bani Adam, maka semua amalnya terputus kecuali tiga. Yaitu shodaqoh jariyah dan ilmu yang bermanfaat kemudian anak yang selalu mendoakan kepada orang tuanya.
4. Kita berharap syafaat dari anak yang kita lahirkan. Karena jika anak itu meninggal sebelum dia baligh, maka nanti kelak pada hari kiamat akan memberi syafaat kepada kedua orang tuanya. Sebagaimana hal itu dijelaskan dalam hadits Nabi I:
إِنَّ الطِّفْلَ يَجُرُّ بِأَبَوَيْهِ إِلَى الجَنَّةِ
Sesungguhnya anak yang meninggal di masa kecilnya (sebelum baligh) akan menarik kedua orang tuanya menuju surga.
Dalam hadits lain Nabi I bersabda:
إِنَّ المَوْلُوْدَ يُقَالُ: “اُدْخُلُوْا الجَنَّةَ.” فَيَقِفُ عَلَى بَابِ الجَنَّةِ فَيَظِلُّ مُحْبِنْطَئًا أَيْ مُمْتَلِئًا غَيْظًا وَ غَضَبًا وَ يَقُوْلُ: “لاَ أَدْخُلُ الجَنَّةَ اِلاَّ وَ أَبَوَايَ مَعِيْ. فَيُقَالُ: “أَدْخِلُوْا أَبَوَيْهِ مَعَهُ الجَنَّةَ.”
Sesungguhnya setiap anak yang meninggal sebelum dia baligh kelak akan diserukan kepadanya, “Masuklah kalian ke dalam surga!” maka dia tetap di pintu surga dalam keadaan seperti seseorang yang sedang marah, dan dia berkata, “Aku tidak akan masuk surga kecuali kedua orang tuaku bersamaku.” Lalu kemudian ada seruan yang berseru, “Masukkan kedua orang tuanya bersama anak itu ke dalam surga!”
Dan di dalam kitab Ihya’ tersebut, disebutkan sebuah kisah bahwasanya sebagian daripada orang-orang sholeh ditawarkan untuk menikah tapi dia menolaknya. Sehingga suatu waktu ketika dia terbangun dari tidurnya, maka ia berkata kepada keluarganya dan orang yang ada di sekitarnya, “Kawinkan aku! Kawinkan aku!” maka kemudian mereka mengawinkannya. Tatkala ditanya orang sholeh tersebut sebab daripada keinginannya untuk menikah setelah pernah menolaknya, maka dia menjawab, “Semoga dengan pernikahan tersebut aku mendapatkan anak kemudian anak itu meninggal sebelum dia baligh sehingga menjadi simpananku kelak di akhirat.” Lalu dia berkata, ”Bahwasanya aku pernah bermimpi seakan-akan kiamat sudah terlaksana dan aku melihat semua manusia dalam padang mahsyar. Pada waktu itu aku sangat haus sehingga seakan-akan akan memotong leherku karena kehausan. Begitu pula semua manusia, dalam keadaan haus dan kesusahan. Maka, tatkala kami merasakan yang demikian itu kami melihat anak-anak kecil yang lucu-lucu wajahnya menyeruak diantara orang-orang yang banyak yang ada di padang mahsyar. Mereka membawa sapu tangan yang terbuat dari cahaya. Dan di tangan mereka ada sebuah koci yang terbuat dari perak dan gelas-gelas yang ada di tangan mereka. Kemudian mereka memberi minum dengan air yang dibawanya, satu orang demi satu orang. Dan banyak diantara mereka yang meminum dari anak-anak tesebut. Maka kemudian aku datang kepada salah satu daripada mereka, “Berikan aku minum karena aku sangat kehausan!” Maka anak itu menjawab, “Kamu tidak mempunyai anak diantara kita. Kami ini adalah anak-anak yang memberikan minum kepada ayah-ayah kami.” Lalu aku bertanya kepada anak tersebut, “Siapa kalian?” Lalu mereka berkata, “Kami adalah anak-anak kaum muslimin yang meninggal sebelum baligh.” Oleh karena itu aku kemudian meminta kepada kalian untuk menikahkanku.”

diambil dari buku karangan Habib Segaf Baharun “Anakku Investasi Akhiratku”

1 Comment

  1. May 25, 2016    

    Artikel yang sangat menarik dan mendidik…Mudah-mudahan menjadi pegangan bagi kaum muda-mudi Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives