Website Resmi Habib Segaf Baharun

Bahaya Lidah dan Dosa-dosa yang Disebabkan olehnya

bahaya lidahBahaya Lidah Dan Dosa-Dosa Yang Disebabkan Olehnya

Lidah seorang manusia merupakan salah satu dari anggota badan yang paling banyak digunakan untuk berbuat maksiat karena banyak cabangnya. Bahaya daripada lidah yaitu sekitar 20 bahaya yang bersumber kepada lidah manusia. Dan dikatakan oleh pakarnya bahwasanya seorang manusia  laki-laki setiap hari akan berbicara dengan 20.000 kalimat, sedangkan para wanita dengan  40.000 kalimat dimana setiap kalimat tersebut pasti ada hisabnya satu demi satu dapat dibayangkan berapa banyak yang harus di pertanggung jawabkan di depan mahkamah Alloh SWT karena sebab lidah manusia. Sebagaimana Allah  berfirman:

قال الله تعالى : مَّا يَلفِظُ مِن قَولٍ إِلَّا لَدَيهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ۬ (١٨(

Tidak terucapkan satu kalimat pun kecuali pasti ditulis oleh malaikat Rokib dan Atid (Q.S. Qaf:18)

Dan tidak ada solusi daripada bahaya yang akan ditimbulkan oleh lidah itu kecuali dengan cara mengekang dan menahan lidah itu untuk tidak mudah dan banyak berbicara.

Keutamaan Orang Yang Diam Dan Tidak Banyak Berbicara

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwasanya banyak berbicara termasuk salah satu yang menjerumuskan manusia kedalam kubangan dosa. Dan banyak berbicara menjadi sebab utama banyaknya manusia yang menyesal karenanya nanti pada hari mahsyarnya. Oleh karena itu agama islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk menahan bicara dengan cara tidak berbicara kecuali seperlunya saja, alias banyak diam. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi dalam hadits-hadits berikut ini:

عن عبد الله بن عمر قال : قال رسول الله  : مَن صَمَت نَجَا . (رواه الترمذي)

Barangsiapa yang diam maka dia akan selamat. (H.R. Turmudzi)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا النَّجَاةُ ؟ قَالَ : أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ . (رواه الترمذي)

Berkata sahabat Uqbah bin Amir , “Wahai Rosul… apakah keselamatan itu?” Maka Nabi  menjawab, “Hendaknya engkau tahan lidahmu dan hendaknya engkau jadikan rumahmu itu terbuka untuk para tamu, dan menangislah terhadap kesalahan dan dosamu.” (H.R. Turmudzi)

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَنْ يَتَكَفَّلُ لِي بِمَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَ رِجْلَيْهِ ، أَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةَ ” . (رواه البخاري)

Berkata sahabat Sahl bin Sa’d As-Sa’idy bahwasanya Nabi  bersabda, “Barangsiapa yang menjamin kepadaku dengan yang ada diantara dua gerahamnya (mulut) dan diantara dua pahanya (kemaluan), maka aku jamin dia untuk masuk surga. (H.R. Bukhari)

عن أبي هريرة قال  :سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَن أَكثَرِ مَا يُدخِلُ النَّاسُ الجَنَّةَ فَقَالَ “تَقوَى اللهِ وَحُسنِ الخُلُقِ” وَسُئِلَ عَن أَكثَرِ مَا يُدخِلُ النَّاسُ النَّارَ فَقَالَ ” الأَجوَفَانِ الفَمُ وَالفَرجُ” . (رواه الترمذي)

Ditanya Rosulullah  tentang perkara yang paling banyak menyebabkan manusia masuk ke dalam surga. Maka Rosulullah   menjawab, “Bertakwa kepada Allah dan berakhlak mulia.” Kemudian ditanya juga tentang perkara-perkara yang banyak menyebabkan manusia banyak masuk ke dalam neraka. Maka beliau menjawab, “Dua hal yang lubang, yaitu mulut dan kemaluan.” (H.R. Turmudzi)

قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم : مَن سَرَّهُ أَن يَسلَمَ فَليَلزَمَ الصَّمتَ . (رواه ابن أبي الدنيا والبيهقي)

Barangsiapa yang ingin selamat, maka hendaknya ia melazimi diam. (H.R. Ibnu Abi Dunya-Baihaqi)

وقال أنس بن مالك قال صلى الله عليه وسلم لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ الْعَبْدِ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ . (رواه ابن أبي الدنيا)

Tidak akan lurus keimanan seseorang sehingga hatinya menjadi lurus. Dan tidak akan lurus hati seseorang kecuali jika lidahnya lurus. Dan tidak akan masuk ke dalam surga seseorang jika tetangganya tidak aman daripada gangguannya. (H.R. Ibn Abi Dunya)

Diriwayatkan bahwasanya sayyidina Umar  melihat sayyidina Abu bakar As-Siddiq menarik-narik  sesuatu dari mulutnya lalu memasukkan lagi benda yang dikeluarkannya dan ternyata hal itu adalah batu kerikil yang selalu diletakkannya di mulut dan setiap kali akan berbicara dia keluarkan lalu memasukkan kembali setelah usai berbicara. Maka dia bertanya kepadanya, “Apa yang kau lakukan wahai khalifah Rasulullah ?” Maka beliau menjawab, “Inilah yang menyebabkan banyak ancaman dan peringatan daripada Nabi   terkait dengannya.  Diantaranya Nabi  bersabda:

قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم : لَيسَ شَيءٌ مِن الجَسَدِ إِلَّا يَشكُو إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ اللِّسَانُ عَلَى حِدَّتِهِ . (رواه الدار قطني)

Tidak ada suatu anggota badan pun kecuali pasti mengadukan lidah kepada Allah karena saking juteknya lidah manusia.  (H.R. Ad-Dar Quthni)”

Berkata sahabat Ibn Mas’ud  ketika berada di atas bukit Shofa, “Wahai lidah… Katakanlah kebaikan maka kamu akan beruntung karenanya! Dan banyaklah diam dari segala keburukan, maka kamu akan selamat dari kejahatannya dan lakukanlah sebelum datang penyesalan pada akhirnya.” Maka seseorang berkata kepadanya setelah mendengar perkataannya, “Wahai Abu Abdurrohman… apakah perkataan itu berasal darimu atau sesuatu yang pernah engkau  dengarkan?” Maka dia berkata, “Tidak bukan perkataanku akan tetapi sesuatu yang pernah aku dengar dari Rosulullah  dimana beliau bersabda”:

قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم : إِنَّ أَكثَرَ خَطَأ ابنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ . (رواه الطبراني)

Sesungguhnya paling banyaknya dosa bani Adam itu berasal pada lidahnya. (H.R. Thobroni)

عن أبي هريرة- رضي اللّه عنه- عن رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم قال: ” مَن كَانَ يُؤمِنُ بِاللّهِ وَاليَومِ الآخِرِ فَليَقُل خَيرًا أَو لِيَصمُت “. (متفق عليه)

Barangsiapa beriman dengan Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata kebaikan atau diam. (Muttafaq alaih)”

 

Berkata sahabat Abdullah Ibn Mas’ud: Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia… Tidak ada sesuatu yang berhak untuk ditahan melebihi daripada lidah manusia.

Berkata At-Thowus: Lidahku ini bagaikan binatang buas. Jika aku lepaskan, maka dia akan menerkamku.

Berkata Imam Hasan Al-Basri: Tidaklah dianggap  seseorang cerdik dalam syariat islamnya kalau dia tidak menjaga lidahnya.

Berkata Muhammad bin Wasi’ kepada Malik bin Dinar: Wahai Abu Yahya… Ketahuilah bahwasanya menjaga Lidah itu lebih sulit daripada menjaga dinar dan dirham.

Suatu waktu berkumpul segerombolan orang di depan Mu’awiyah dan mereka sedang berbincang dan berdiskusi. Diantara mereka terdapat Ahnaf bin Qays. Hanya dia saja yang diam dan tidak berbicara. Maka Mu’awiyah berkata kepadanya, “Wahai Abu Bahr.… Kenapa engkau tidak berbicara?” Maka dia menjawab, “Aku takut kepada Allah jika berbohong dan aku takut kepadamu jika aku jujur.”

Diriwayatkan pernah suatu waktu empat raja berkumpul dan berdiskusi diantara mereka. Yaitu raja India, raja China, raja Kisra dan raja Kaisar. Berkata salah satu dari mereka yang berdiskusi tentang bahayanya ucapan, “Aku menyesal ketika aku berbicara. Dan aku tidak pernah menyesal terhadap apa yang belum aku ucapkan.” Berkata raja kedua, “Jika aku telah mengucapkan suatu ucapan, maka dia telah menguasai aku dan aku tidak dapat menguasainya. Namun jika aku belum mengucapkan suatu ucapan, maka aku mampu mengusainya dan dia tidak dapat menguasaiku.” Berkata raja yang ketiga, “Aku heran kepada orang yang banyak bicara dimana jika ucapannya itu kembali kepadanya, maka pasti akan membahayakannya karena ucapan yang telah menyinggung orang lain. Sedangkan jika tidak kembali lagi kepadanya, maka sama sekali tidak akan bermanfaat baginya.” Berkata raja keempat, “Mengulangi lagi ucapan yang tidak aku ucapkan lebih mudah bagiku daripada menarik kembali apa yang terlanjur aku ucapkan.”

Diriwayatkan bahwasanya Robi’ bin Khoitsam tidak pernah berbicara masalah dunia selama 20 tahun. Dan setiap hari selama 20 tahun itu dia membawa kertas. Apapun yang dia ucapkan, dia akan menulisnya di atas kertas. Dan pada malam harinya dia evaluasi apa saja yang tertulis dari ucapannya itu.

Kesimpulannya, alangkah besarnya keutamaan orang yang diam dan tidak banyak berbicara. Yang demikian itu disebabkan banyaknya kesalahan daripada lidah ketika berbicara. Baik itu kesalahan karena melukai perasaan orang lain, berbohong, berghibah, mengadu domba, riya’, kenifakan, berkata dengan perkataan yang keji, melakukan sebuah perdebatan yang akan menyebabkan permusuhan dan perselisihan maupun bahaya-bahaya Lidah lainnya.

 

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives