Website Resmi Habib Segaf Baharun

Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis

Inilah indahnya Islam, agama yang penuh rahmat dan hikmah, agama yang mengatur hal yang terbaik bagi penganutnya, baik hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, Allah SWT, maupun hubungan dengan sesama hamba.
Dalam pergaulan antar-sesama hamba Allah, ada adab dan hak-hak yang wajib untuk dilaksanakan. Seorang muslim harus menunaikan dan menjaga adab dan hak tersebut kepada saudara muslim lainnya. Akan tetapi dalam menunaikannya harus sesuai dengan ajaran agama disertai kayakinan bahwa itu bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Dengan melaksanakan hal tersebut, kita pun terhitung telah melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.
Di antara hak-hak dan adab tersebut adalah mengucapkan salam kepada saudara muslim, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

حق المسلم على المسلم ست : إذا لقيته فسلم عليه ، و إذا دعاك فأجبه ، و إذا استنصحك فانصح له ، و إذا عطس فحمد الله فشمته ، و إذا مرض فعُده ، و إذا مات فاتبعه

 

“Kewajiban seorang muslim kepada saudara muslimnya ada enam perkara: Bila kau bertemu dengannya, ucapkanlah salam kepadanya. Apabila ia mengundangmu, penuhilah undangannya. Bila ia meminta nasihat, berilah nasihat untuknya. Bila ia bersin kemudian membaca hamdalah, doakanlah ia. Bila ia sakit, jenguklah. Dan bila ia meninggal dunia, ikutlah mengantar jenazahnya ke pekuburannya (HR Muslim).

Maka, berdasarkan hadist tersebut, mengucapkan salam merupakan sesuatu yang disyari’atkan saat bertemu dan berpisah, saat hadir dalam majelis, dan saat meninggalkannya, serta beberapa kondisi lainnya.
Adapun hukum mengucapkan salam, asalnya adalah sunnah kifayah. Artinya, apabila seseorang telah mengucapkannya, tidak disunnahkan untuk yang lain mengucapkannya kembali. Sedangkan menjawab salam itu hukumnya fardlu kifayah. Yaitu, apabila salah seorang menjawab, gugur kewajiban yang lain untuk menjawabnya.
Hukum salam ini berlaku untuk semua orang Islam, baik sesama laki-laki maupun sesama perempuan, dan berlaku juga antara laki-laki dan perempuan. Hanya saja jika yang mengucapkan atau yang akan diucapkan kepadanya tidak ada kaitan mahram dengannya, alias dengan laki laki yang ajnabi (bukan mahram), disyaratkan adanya aman dari fitnah.
Jika aman dari fitnah, boleh bagi seorang perempuan mengucapkan salam kepada laki-laki yang bukan mahramnya itu, bahkan sunnah, misalnya laki-laki itu sudah tua. Sebagaimana diriwayatkan Abu Murrah, budak Ummi Hani’ binti Abu Thalib, ia mengabarkan bahwa ia pernah mendengar Ummi Hani’ mengatakan:

ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ مَنْ هَذِهِ فَقُلْتُ أَنَا أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ

 

“Aku pernah datang menemui Rasulullah SAW saat Fathu Makkah, aku mendapatinya sedang mandi sedangkan Fatimah, putri beliau, menutupinya dengan kain. Lalu aku mengucapkan salam kepada beliau.
Beliau berkata, ‘Siapa di situ?’
Aku menjawab, ‘Ummu Hani’, anak perempuan Abu Thalib.’
Beliau menyahut, ‘Selamat datang, wahai Ummu Hani’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ummu Hani’ bukanlah mahram Rasulullah SAW, karena ia saudari sepupu beliau SAW. Dia mengucapkan salam kepada Nabi SAW dan beliau tidak mengingkarinya. Itu artinya beliau SAW menyetujui salam seorang wanita kepada pria yang bukan mahramnya.
Akan tetapi apabila dengan mengucapkan salam itu menimbulkan fitnah, seperti mengundang syahwat pria dan sebagainya, salam tersebut tidak disunnahkan lagi bagi seorang wanita, bahkan bisa menjadi haram hukumnya. Seperti jika diucapkan kepada seorang yang masih muda. Haram memulai atau menjawab salam itu. Wallahu a’lam..

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives