Haruskah Membayar Zakat Perdagangan?

Yang dimaksud dengan perdagangan di sini adalah semua harta yang dijualbelikan untuk mendapatkan untung. Baik di dalam penjualan hewan ternak, sayur mayur, bahan bangunan, mebel dan lain-lain. Kesimpulannya jika seseorang mencari keuntungan dalam hartanya dengan cara uang itu diputarkan dengan berdagang, maka diwajibkan mengeluarkan zakat perdagangan setelah berlangsung satu tahun.

  1. Dalil Wajibnya Zakat Perdagangan
    Allah SWT berfirman:قَالَ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (البقرة : 267

    Wahai orang-orang yang beriman. nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. (Q.S. Al Baqarah: 267)
    Rasulullah SAW bersabda:
    عَنْ سَمْرَةَ بنِ جُنْدُب قَالَ ”كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِمَّا يُعَدُّ لِلْبَيْعِ“ (رواه الدارقطني)
    Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk mengeluarkan zakat barang yang kami siapkan untuk jual beli. (H.R. Dar Quthni)
    Dan ulama’ mutaqaddimin dan mutaakhkhirin sepakat akan wajibnya zakat perdagangan.

  2. Syarat Wajibnya Zakat Perdagangan
    Zakat perdagangan diwajibkan apabila sudah memenuhi beberapa persyaratan, jika syaratnya tidak terpenuhi maka tidak wajib, adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut:
    1). Barang yang diperdagangkan bukan emas dan perak. Jika yang diperdagangkan berupa emas dan perak, maka yang wajib dikeluarkan zakat emas dan peraknya, bukan zakat perdagangan.
    2). Waktu pembelian suatu barang diiringi dengan niat untuk berdagang. dengan kata lain pembeliannya untuk diputarkan guna mendapatkan keuntungan. Bukan untuk disimpan atau dipakai sendiri. maka barang siapa yang membeli mobil untuk dipakai sendiri tapi jika ada yang menawar dengan harga yang menguntungkan akan dijual, maka hal ini tidak termasuk barang dagangan. karena mobil itu dibeli dengan maksud di pakai sendiri. Lain halnya kalau pembelian mobil itu untuk diperdagangkan, sementara menunggu pembeli dipakai sendiri. maka pemakaian mobil itu tidak membebaskannya dari kewajiban zakat perdagangan. Walaupun mobil itu dipakai dalam jangka waktu yang lama. Misalnya mobil itu dipakai lebih dari satu tahun maka wajib dikeluarkan zakatnya jika sampai nishabnya karena pada waktu dibeli dengan niat untuk diperdagangkan.
    3). Niat untuk berdagang bersamaan dengan waktu pembelian barang tersebut karena dari waktu itulah akan dihitung haulnya. Lain halnya jika pembelian barang untuk dipakai sendiri lalu timbul keinginan untuk berdagang dalam barang tersebut, maka haulnya dihitung semenjak dimulainya perdagangan tersebut. Bukan mulai waktu pembelian barang itu.
    Contoh:
    Seseorang membeli barang untuk dipakai sendiri pada bulan Muharram. Sedangkan mulai diperda- gangkannya pada bulan Rajab, maka haulnya dihitung mulai bulan Rajab bukan bulan Muharram.
    4). Barang-barang diperoleh lewat pembelian, lain halnya jika didapatkan dari warisan atau hibah, maka tidak wajib zakat kecuali jika timbul keinginan untuk memperdagangkannya maka wajib zakat, dan haulnya dihitung semenjak barang tersebut diperdagangkan.
    Contoh:
    Jika harta warisan diterima pada bulan Muharram, lalu mulai diperdagangkan pada bulan Shafar, maka haulnya dihitung mulai bulan Shafar bukan bulan Muharram.
    5). Barang dagangan tidak diuangkan sebelum mencapai haul. karena jika barang dagangan ditukar dengan uang, dengan dalih apapun bukan karena laku dijual, maka jika uang yang ada mencapai nishab zakat uang tunai, maka haul uang itu diikutkan kepada haul barang tersebut.
    Contoh:
    Seseorang membeli barang dagangan pada bulan Muharram lalu diuangkan pada bulan Syawal, maka apabila uang itu masih dalam batas nishabnya sampai bulan Muharram berikutnya. maka wajib dikeluarkan zakat dari uang tersebut yaitu 2,5 persen. Akan tetapi jika diuangkan dan ternyata tidak sampai nishabnya, maka terputuslah haul barang tersebut, dan tidak wajib zakat.
    Contoh:
    Barang dagangannya diuangkan, dan uang yang didapatkan tidak sampai nishab uang tunai (Rp 8.400.000, jika harta harga emas Rp100.000, pergramnya) misalnya uang yang didapatkan cuma Rp 7.000.000, maka tidak wajib zakat.
    6). Dia tidak merubah niat berdagangnya sampai akhir tahun, lain halnya jika dirubah misalnya dia berdagang jual beli mobil lalu dia bermaksud untuk memakainya sendiri tidak untuk diperdagangkan, maka terputuslah haulnya zakat perdagangan dan tidak wajib zakat.
  3. Kapan di hitung Haul Zakat Perdagangan
    Hitungan haul zakat perdagangan dimulai semenjak si pedagang membeli barang dagangannya untuk diperdagangkan. Jika pembeliannya pada bulan Syawal maka haulnya adalah mulai dari bulan Syawal dan selesai haulnya pada bulan Syawal tahun berikutnya, kecuali seperti diuraikan tadi, jika barang tersebut didapatkan dengan cuma-cuma, baik karena warisan, hibah atau hadiah. atau pembelian barang tersebut untuk dipakai sendiri, lalu kemudian timbul keinginan untuk memperdagangkannya, maka haulnya dihitung semenjak dimulainya perdagangan tersebut.
  4. Nishab Zakat Perdagangan
    Nishab zakat perdagangan adalah seperti nishabnya zakat uang tunai yaitu harga emas logam murni seberat 84 gram, maka jika harga emas 24 karat 1 gramnya Rp. 100.000,00 maka nishabnya adalah Rp. 8.400.000,00 dan jika modal dan barang dagangannya sampai batas nishab tersebut wajib dia mengeluarkan zakat perdagangan.
    Perlu diingat, bahwa dalam perdagangan ini menghitung sampai nishabnya atau tidak dilakukan pada akhir tahun bukan setiap hari atau mulai awal tahun. Misalnya seorang pedagang kaki lima memulai perdagangannya dengan modal Rp. 500.000, selanjutnya pada akhir tahun dihitung laba yang diperoleh dan barang yang masih ada sampai nishab misalnya Rp. 10.000.000 maka wajib dia mengeluarkan zakatnya karena menghitung nishabnya zakat perdagangan itu di akhir tahun, baik dia mengalami kerugian atau memperoleh keuntungan dalam perdagangannya.
    Begitu pula sebaliknya jika dia memulai perdagangannya dengan modal Rp 10.000.000, lalu di akhir tahun dia menghitung semuanya hanya senilai Rp 6.000.000, kurang dari nishab, maka tidak wajib dikeluarkan zakat karena kurang dari nishabnya. 
  5. Cara Mengeluarkan Zakat Perdagangan
    Setiap pedagang tidak akan lepas dari salah satu hal di bawah ini:
    1). Di akhir tahun dia masih mempunyai barang dagangan yang belum laku.
    2). Di akhir tahun dia mempunyai uang yang disimpan di rumahnya atau di Bank, hasil laba dari perdagangan tersebut.
    3). Di akhir tahun dia mempunyai uang yang ada pada pelanggannya yang belum dibayar atau belum jatuh tempo.Maka bagaimana cara mengeluarkan zakatnya?
    Jawabannya adalah sebagai berikut:
    Yang pertama, harus dihitung berapa harga barang yang masih ada dengan harga pasar bukan dengan harga waktu dibeli.
    Contoh:
    jika barang-barang yang ada di pasar seharga Rp 10.000, maka dihitung Rp 10.000, walaupun waktu dia beli dengan harga Rp 5.000, harus dihitung semuanya dan dicatat.

    Yang kedua, harus didata/dihitung uang yang ada, baik di rumah maupun di Bank yang didapatkan dari perdagangan itu.

    Yang ketiga, harus dihitung berapa uang yang ada pada pelanggan. Atau harga barang yang masih di pelanggan. Dihitung semua dan dicatat, lalu dijumlahkan dan dikeluarkan 2,5 %.

    Contoh:
    Dari hal pertama di atas menghasilkan uang senilai Rp 10.000.000,
    Dari hal kedua menghasilkan uang senilai Rp 25.000.000
    Dari hal ketiga menghasilkan uang senilai Rp 15.000.000
    Jadi jumlah semuanya adalah Rp 50.000.000, dari jumlah itulah zakatnya dikeluarkan yaitu 2,5 persennya, jadi seperti contoh di atas zakatnya sebanyak Rp 1.250.000

    Dan perlu diingat bahwa barang yang tetap yang tidak untuk dijualbelikan, tidak dikenai zakat seperti etalase untuk menyimpan barang dagangan, kalkulator, meja dan macam-macam alat lainnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*