Website Resmi Habib Segaf Baharun

Ketika Suami Enggan Membayar Pengobatan Istri

Perkawinan digambarkan sebagai sesuatu yang spekulatif, untung-untungan. Yang untung, ia akan dapat yang baik. Kalau tidak, ya itulah nasibnya. Akan tetapi perlu diingat, Allah SWT tidak menentukan sesuatu apa pun terhadap hamba-Nya kecuali yang terbaik untuknya, walaupun pertimbangannya bukan selalu yang terbaik di dunia, namun bisa jadi yang ia hadapi merupakan sesuatu yang menjadi jalan terbaik baginya kelak di akhirat, sebagaimana diriwayatkan bahwasanya ketika seseorang ditampakkan Allah SWT pada pahala dari berbagai kezhaliman dan ujian yang telah dihadapinya dengan sabar, ia pun berseru, “Andaikan dulu di dunia aku adalah orang yang selalu dizhalimi dan dirundung masalah, duhai alangkah bahagianya diriku.”

 

Biaya Pengobatan

Jika seorang istri sakit, siapakah yang menanggung biaya pengobatannya, memang ada khilaf di antara ulama tentang ini. Ada yang mengatakan, suami yang harus menanggungnya, karena itu termasuk dari nafkah dan kiswah (pakaian) istri yang harus ditanggung seorang suami. Tapi ada pula yang mengatakan, suami tidak menanggung biaya pengobatan istrinya. Dan yang terakhir inilah yang mu’tamad. Akan tetapi, walaupun pendapat tersebut adalah yang mu’tamad, bukankah setiap suami diperintahkan Allah untuk menggauli istrinya dengan baik? Dan siapakah yang paling berhak mendapatkan kebaikan seorang suami selain istri dan anak-anaknya? Sebagaimana sabda Nabi SAW:

كفى بالمرء اثما ان يضيع من يقوت (رواه ابو داود

“Cukup bagi seseorang akan terhitung berdosa jika ia menelantarkan orang-orang yang ditanggungnya.” – HR Abu Dawud.

Apalagi neraca baik-tidaknya seseorang di mata Allah SWT adalah keluarganya, sebagaimana sabda Nabi SAW:

خيركم خيركم لاهله وانا خيركم لاهلي (رواه ابن ماجه

“Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik kepada keluargnya dan aku adalah
yang terbaik bagi keluargaku.” – HR Ibnu Majah.

Kalau dalam rumah tangga setiap pihak hanya menjalankan syari’at yang diwajibkan tanpa diiringi dengan mu’asyarah bil ma’ruf (memperlakukan keluarga dengan kebajikan), akan runyam jadinya dan selalu terjadi perselisihan.

Memang, memasak, mencuci pakaian suami, membuatkan teh buat suami, secara syari’at tidak wajib bagi istri. Tapi, bagaimana kiranya kalau suaminya memerintahkan untuk melakukan pekerjaan di atas dan si istri tidak mau dengan alasan secara syari’at tidak wajib dilakukan istri? Bukankah ini juga akan menjadi sebab percekcokan di antara keduanya?

Jadi, seharusnya para suami tidak egois atau mau menangnya sendiri, sebagaimana para suami juga ingin diperlakukan dengan baik oleh istrinya. Begitu pula sebaliknya, walaupun tidak menjadi kewajiban. Masing-masing hendaklah berlandaskan hadits di atas bahwa yang paling berhak mendapat pelayanan terbaik kita adalah keluarga kita, sebelum yang lainnya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives