Definisi Wakaf, Dalil dan Rukun

wakafMewakafkan sesuatu untuk Allah Swt. adalah salah satu dari amal jâriyah  yang akan terus mengalir pahalanya kepada orang yang melakukannya selama sesuatu yang diwakofkan tersebut masih berguna, dan hal itu merupakan investasi akhirat kita, karena semua harta yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita kecuali hanya kadar berupa makanan yang telah kita makan, atau pakaian yang kita selalu pakai hingga usang, atau yang kita sedekahkan dan wakafkan, sedangkan selain itu semuanya akan kita tinggalkan untuk ahli waris atau akan hilang dari kepemilikan kita suatu waktu nanti apapun sebabnya, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Nabi Saw dalam Haditsnya,  sehingga dari sini kita bisa tahu bahwa ternyata harta kita adalah sebuah modal yang Allah berikan untuk kita gunakan demi kebaikan akhirat kita, maka alangkah bodohnya jika kita tidak memiliki sesuatu yang akan menguntungkan dan menyelamatkan kita di akhirat nanti berupa amal jâriyah dengan mewakafkan sebagian dari harta kita, oleh karena itu penting kiranya kita faham bab wakaf ini supaya harta yang kita wakafkan sesuai dengan aturan syari’ sehingga benar-benar mengalirkan pahala buat kita kelak di akhirat.

 

A.    Definisi Wakaf

Wakaf  dalam Bahasa Arab berarti Menahan, dikatakan demikian karena jika suatu harta telah diwakafkan maka harta tersebut tertahan untuk dilakukan segala transaksi apapun karena kepemilikan-nya kini berpindah menjadi milik Allah Swt.

Sedangkan wakaf menurut arti syar’i  adalah menahan suatu harta tertentu yang dimiliki oleh wâkif (orang yang mewakafkan) dan dapat berpindah  kepemilikannya yang memungkinkan untuk dimanfaat-kan tanpa mengurangi komponennya/bendanya dengan memutuskan segala macam transaksi yang berkaitan dengan harta yang telah diwakafkan itu di dalam penggunaan yang dibolehkan untuk orang atau golongan tertentu  dan nyata kehidupannya yang dilakukan  karena mengharap pahala dari Allah Swt.

 

  • Penjelasan Definisi

Menahan  suatu harta yang ditentukan, maka harta yang akan diwakafkan haruslah ditentukan, bentuk harta yang akan diwakafkan itu apa ? misalnya mobil, tanah, gelas dan lain-lain, maka tidak sah jika harta yang akan diwakafkan tidak jelas seperti dua hal di bawah ini :

  1. Harta yang samar tidak jelas, seperti jika seseorang berkata : “Saya wakafkan salah satu dari dua rumahku ini” maka tidak sah wakafnya karena tidak jelas rumah yang mana?.
  2. Mewakafkan harta yang masih akan dibeli dalam tanggungannya, maka tidak sah mewakafkan suatu harta yang masih akan dibelinya dalam tanggungannya karena tidak jelas bentuk harta itu, seperti misalnya seseorang berkata “saya wakafkan rumah yang sifatnya begini dan begitu dalam tanggunganku”.

Yang dimiliki wâkif, maka disyaratkan di sini harta yang akan diwakafkan adalah milik si wâkif (orang yang mewakafkan) maka tidak sah mewakafkan harta milik orang lain.

Dan dapat berpindah kepemilikannya, maka disyaratkan  harta yang akan diwakafkan harus berupa harta yang masih dapat dilakukan transaksi yang akan mengakibatkan pindahnya kepemilikan dari seorang pemilik kepada pemilik lain, lain halnya kalau kepemilikannya permanen tidak  berubah dan berpindah maka tidak sah diwakafkan, seperti tiga macam harta dibawah ini :

  • Harta yang sudah diwakafkan
  • Ummul walad
  • Budak mukatab.

Yang memungkinkan untuk dimanfaatkan, adapun harta yang sudah tidak berguna lagi  maka tidak sah untuk diwakafkan seperti budak dan kuda yang sudah tua dan sakit-sakitan sehingga tidak lagi berguna untuk apapun juga, begitu pula jika harta tersebut tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan karena syari’ telah mengharamkannya seperti alat musik yang diharamkan maka tidak sah diwakafkan .

Tanpa mengurangi benda/komponennya, maka tidak sah mewakafkan sesuatu yang akan berkurang bendanya dengan digunakan seperti sabun,makanan dan lain-lain sedangkan solusinya jika ingin mendapatkan pahala dengan harta yang semacam itu adalah dengan disedekahkan seperti sedekah biasa dan bukan dengan cara mewakafkannya.

Dengan memutuskan segala macam transaksi yang berkaitan dengan harta wakaf itu: maksud dari wakaf itu adalah menahan suatu harta dengan kata lain harta tersebut setelah diwakafkan, maka si wâkif maupun si mawqûf lahu (orang yang diwakafkan untuknya) tidak dapat melakukan transaksi apapun terkait dengan kepemilikan harta itu karena kini kepemilikannya telah berpindah menjadi milik Allah Swt., adapun manfaat dari harta yang diwakafkan atau hasilnya adalah milik orang yang diwakafkan kepadanya .

Di dalam penggunaan yang dibolehkan : maka tidak sah mewakafkan sesuatu untuk   para perampok, para penyembah patung dan lain-lain yang termasuk suatu penggunaan yang dilarang dalam syariat Islam.

Untuk orang atau golongan tertentu  yang keberadaannya jelas : maka harus ditentukan siapa yang akan menerima wakaf tersebut, baik orang tertentu seperti “Saya wakafkan mobil ini untuk anak-anak Zaid” atau golongan tertentu seperti “Saya wakafkan mobil ini untuk para fakir miskin” dan keberadaan dari penerima wakaf jelas dan nyata keberadaannya maka tidak sah jika misalnya seseorang berkata “Saya wakafkan mobil ini untuk seseorang “ karena tidak jelas siapa orangnya

B.     Dasar Hukum Wakaf

Sedangkan dalil dari bolehnya mewakafkan suatu harta adalah sebagai berikut :

Firman Allah Swt. :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ (اٰل عمران : 92)

Artinya : “dan kalian tidaklah akan dianggap telah melakukan suatu kebaikan kecuali dengan menginfakkan harta yang paling kalian sukai” (SR. Al-Imron : 92)

Setelah turun ayat ini dan didengar oleh sahabat Abu Thalhah maka dia langsung datang kepada Nabi Saw untuk mewakafkan kebun yang bernama  Bayroha’ miliknya padahal  kebun tersebut adalah harta yang paling disukainya.

Hadits Nabi Saw :

اِذَا مَاتَ ابْنُ اٰدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، اَوْعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ (رواه مسلم)

Artinya : “Jika seseorang bani adam telah meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu shodaqoh jâriyah,atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shaleh”. (HR. Muslim)

Para ulama berkata mengomentari Hadits tersebut bahwasanya yang dimaksudkan dengan shodaqoh jâriyah adalah harta yang diwakafkan.

C.    Rukun-rukun Wakaf

Rukun-rukun wakaf ada empat :

  1. Wâkif, yaitu orang yang mewakafkan hartanya.
  2. Mawkûf alaihi, yaitu pihak yang menerima wakaf
  3. Mawkuuf, yaitu harta yang diwakafkan
  4. Shîghoh, yaitu lafadz/ ikrar serah terima wakaf

Ø  Contoh Dari Akad Wakaf

Misalnya Zaid berkata “Saya wakafkan mobil ini kepada ponpes dalwa” maka Zaid dalam contoh ini sebagai wâkif dan ponpes dalwa sebagai mawkuf alaihi dan mobilnya sebagai mawkuf sedangkan ucapan Zaid “Saya wakafkan…” adalah shîghoh iqrôrnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*