PEMAHAMAN KAFA’AH DALAM PERNIKAHAN  

  1. PENDAHULUAN

Pernikahan adalah suatu hal yang selalu didambakan oleh setiap insan baik pria maupun wanita , dimana mereka mendambakan pernikahan yang membawa kebahagiaan , dan untuk mendapatkannya tidak ada cara lain kecuali dengan menjalankan isi dari syariat agama islam ini ,yang memang alloh SWT mensyariatkan syariatnya ini  melalui nabinya SAW dengan tujuan memberikan kehidupan yang membahagiakan setiap insan baik didunia maupun diakhirat nanti , tentunya dalam pernikahan kita berharap akan membahagiakan kehidupan kita dan pastinya kebahagian tidak mungkin akan kita rasakan kecuali dengan melibatkan seluruh kerabat baik yang dekat maupun yang jauh , oleh karena itu disyariatkan syariat kafaah ini dengan tujuan kebahagiaan dalam pernikahan dirasakan oleh pasangan suami istri berikut semua kerabatnya sehingga mereka semua merasa bangga dengan pasangan pengantin tersebut, karena dalam pandangan mereka pasangan tersebut serasi serta sederajat , lain halnya jika tidak sederajat maka mungkin ada sebagian dari keluarga yang tidak suka dengan pernikahan tersebut sehingga kebahagiaan tidak dapat dirasakan oleh semua pihak kerabat.

  1. DEFINISI KAFAAH

Kafa’ah menurut bahasa berarti kesamaan atau kesetaraan. Dalam perkawinan, yang dimaksud dengan kufu’ yaitu laki-laki sebanding dengan calon istrinya, sama kedudukan, sebanding dalam tingkat sosial dan sederajat dalam akhlaq, kekayaan dan keturunannya.

Secara definitif memang yang di tujukan dalam kafa’ah adalah kesesuaian seorang lelaki terhadap calon istrinya, lelaki yang memiliki hak untuk memilih. Seperti halnya dalam madzhab Hanafi dikatakan bahwa kafa’ah hanya dipersyaratkan atas laki-laki, dan tidak atas wanita. Jadi seorang laki-laki boleh menikah dengan wanita manapun yang ia sukai, meskipun budak atau pelayan. Akan tetapi dalam implementasinya, hal ini juga berlaku kebalikan. Seorang perempuan juga dapat memilih orang yang ‘sesuai’ dengan dirinya. Dalam kedudukan, akhlaq dan hal-hal lain dalam kesetaraan.

Secara sekilas mungkin hal ini menjadikan seolah-olah seseorang ‘terlalu idealis’ atau pilih-pilih. Memang benar itu pilih-pilih, tetapi bukan terlalu idealis. Karena, seseorang memilih pendamping hidup bukan hal yang dilakukan untuk waktu sekejap saja, melainkan dilakukan untuk sepanjang hidupnya, sehingga memilah dan memilih harus dilakukan terlebih dahulu agar tidak didapatkan penyesalan dikemudian hari.

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam kafa’ah, diantaranya nasab, akhlaq, fisik dan agama. Dari hal-hal tersebut para ahli fiqih masih berselisih pendapat dalam  menjadikan kesemuanya sebagai unsur dari kafa’ah. Namun para ahli fiqih telah bersepakat bahwa agama termasuk dalam kafa’ah.

Secara rasional adalah hal yang wajar dan normal ketika seseorang mencari pendamping yang sesuai dengan dirinya — meskipun tidak dalam segala hal — begitupula dengan keluarganya. Itupun tidak boleh berlebihan sehingga terkesan memaksa. Karena Allah telah menyiapkan pada setiap manusia pasangan masing-masing yang sesuai, jika dia baik maka seseorang yang baik akan menjadi pendampingnya, dan juga sebaliknya.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ (النور : 26)

Yang perlu diingat, kafa’ah bukan syarat sahnya sebuah pernikahan, akan tetapi kafa’ah perlu menjadi pertimbangan bagi seseorang ketika dia henda melangsungkan pernikahan.

  1. DASAR HUKUM KAFA’AH

Pertimbangan kafaah dalam pernikahan disandarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh nabi berikut ini:

  1. Riwayat dari Ali ibn Abi Thalib ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepadanya,

يا علي ثلاثة لاتؤخر الصلاة اذا اتت والجنازة اذا حضرة والايم اذا وجدت كفؤا

“Hai Ali, janganlah engkau mengakhirkan (menunda-nunda) tiga hal : sholat jika telah tiba waktunya, jenazah jika telah hadir (untuk segera diurus dan dikuburkan), dan anak perempuan yang siap menikah jika telah engkau dapatkan yang sekufu dengannya”.

  1. Riwayat dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

تخيروا لنطفكم فأنكحوا الا كفاء وانكحوا اليهم

“Pilih-pilihlah untuk tempat tumpahnya nuthfah kalian (maksudnya isteri), dan nikahkanlah orang-orang yang sekufu”.

  1. Atsar dari Umar ibn Al-Khaththab ra. Beliau berkata, “Sungguh aku melarang dihalalkannya kemaluan para wanita yang terhormat nasabnya, kecuali dengan orang-orang yang sekufu”. [Fathul Qadiir J II hal. 417]
  2. Hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah An-Anshori, bersabda Rasulullah saw:

ألا لايزوج النساء إلا الأولياء ولا يزوجن من غير الأكفاء

“Janganlah engkau menikahi wanita kecuali dengan izin walinya, dan janganlah engkau menikahinya kecuali dengan yang sekufu’.

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim, Rasulullah saw bersabda:

تخيروا لنطفكم ولا تضعوها في غير الأكفاء

“Pilihlah wanita sebagai wadah untuk menumpahkan nutfahmu, janganlah letakkan nutfahmu ke (rahim) wanita yang tidak sekufu’.

  1. KESIMPULAN

Dari definisi, dasar hukum dan tujuan kafa’ah diatas dapat disimpulkan bahwa, segala yang dimaksudkan dengan adanya syariat kafa’ah adalah demi kebaikan bersama dan keutuhan sebuah jalinan pernikahan. Sehingga sudah selayaknya bagi kita untuk melaksanakan syariat tersebut, karena pada dasarnya kita semua sudah melakukannya, akan tetapi kesemuanya mayoritas bukan untuk kafa’ah, akan tetapi demi memenuhi keinginan dan hasrat pribadi.

Setiap orang ingin pendampingnya kelak adalah yang terbaik, sesuai dan cocok dengan dirinya, begitupula dengan keluarganya. Tapi dia tidak boleh lupa, bahwa dalam syariat ada kafa’ah yang menjadi tuntunan kita dalam mempersiapkan perjalanan rumah tangga.

Namun kita harus kembali meluruskan niat, bahwa pernikahan juga merupakan ibadah, jika partner kita dalam melakukan ibadah itu adalah orang yang kufu bagi kita, maka insya allah ibadah yang kita jalankan akan senantiasa mendapatkan curahan pahala dari Allah swt.

Akhirnya, semoga pilihan kita adalah pilihan terbaik Allah bagi kita, dan menjadikannya sebagai sarana ibadah kita untuk mendapatkan ridho-Nya. Karena, sebaik-baik usaha adalah usaha yang diiringi do’a dan kemudian tawakkal kepada-Nya.

— والله الموفق —

Leave a comment

Your email address will not be published.

*