Indahnya Syariat Islam Bagi Para Musafir

Syariat agama telah memberikan beberapa keringanan kepada seorang yang melakukan bepergian karena melakukan suatu bepergian itu adalah termasuk bagian dari suatu adzab dan kesulitan yang sangat menyusahkan bagi orang yang mengalaminya sebagaimana sabda nabi dalam hadits berikut ini:

قَالَ رَسُوْلُ الله I “السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ” (رواه البخاري)

Yang   artinya    ” sesungguhnya   bepergian    itu   merupakan sepotong dari adzab ” (HR. Bukhori).

Dan oleh Nabi Shollallaahu ‘Alahi Wasallam dikatakan bahwa melakukan bepergian adalah sepotong dari adzab karena dalam bepergian tersebut terdapat hal-hal yang memang benar benar melelahkan seperti lamanya suatu perjalanan. Jauhnya jarak perjalanan, tidak enaknya suatu kendaraan yang kita tumpangi atau tidak enaknya jalan yang dilalui. Begitu pula ketika bepergian kita harus berpisah dengan keluarga dan lain-lain. Oleh karena itu pantas jika agama islam yang sangat bijaksana ini memberikan beberapa keringanan kepada para musafir yaitu sebagai berikut.

  1. Keringanan-keringanan yang diperbolehkan khusus dalam perjalanan yang panjang saja (jarak jauhnya 82 kilo meter atau lebih).
  2. Boleh mengqosor sholat.
  3. Boleh menjama’ sholat.
  4. Boleh berbuka (tidak berpuasa) asalkan keluarnya dari kotanya sebelum terbitnya fajar sodik.
  5. Boleh mengusap diatas dua sepatu selama tiga hari tiga malam.
  6. Keringanan-keringanan yang diperbolehkan dalam semua perjalanan baik panjang (jarak jauhnya 82 kilo meter atau lebih) maupun pendek (kurang dari 82 kilo) yaitu sebagai berikut:
  7. Boleh memakan bangkai ketika darurat jika tidak ada makanan lainnya.
  8. Boleh melakukan sholat sunnah diatas kendaraan.
  9. Gugurnya kewajiban mengqodlo’ sholat dengan tayammum jika dilakukan ditempat yang memang biasanya tidak ada air ditempat itu.
  10. Gugurnya kewajiban melakukan sholat jum’at, asalkan keluarnya dari kota tempat dia tinggal sebelum terbitnya fajar sodik.
  11. Tidak wajib mengqodlo’ dalam menggilir istri yang tidak dibawa pergi, jika bepergiannya dengannya dilakukan dengan diundi antara istri-istrinya, lain halnya jika dilakukan tanpa diundi maka wajib mengqodlo’ giliran istri yang tidak dibawa selama dalam waktu perjalanan.
  12. Boleh bepergian dengan membawa barang titipan orang.
  13. Boleh bepergian dengan membawa barang pinjaman milik orang lain.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*