Apakah Janin Mendapatkan Bagian Harta Waris?

Bukan semua janin dalam rahim seorang ibu berhak mendapatkan harta waris dari seorang mayit, akan tetapi setiap janin yang memenuhi dua syarat dibawah ini:

  1. Kita harus memastikan bahwa janinnya itu ada dalam rahim ibunya ketika si mayit meninggal, walaupun ketika itu si janin masih berupa nuthfah (sperma), baik diketahui hal itu dengan tes dari dokter ataupun dari bidan atau juga dengan alat tes hamil, begitu pula jika diketahui hal itu dengan perkiraan masa kelahiran janin, yaitu dengan melihat antara masa kelahiran si janin dan kematian si mayit dengan perincian sebagai berikut:
    jika si bayi tersebut lahir sebelum enam bulan dari kematian si mayit, maka dapat dipastikan janin tersebut sudah ada dalam rahim ibunya ketika meninggalnya si mayit baik dia kawin lagi ataupun tidak. Karena paling sedikitnya masa kehamilan sampai melahirkan dalam keadaan anak itu hidup adalah enam bulan. Jadi tidak mungkin janin itu ada setelah kematian si mayit.
    Begitupula jika lahirnya si bayi itu setelah empat tahun dari kematian si mayit, maka dapat dipastikan bahwa janin itu tidak ada dalam rahim ketika meninggal si mayit, karena paling lamanya masa kehamilan adalah empat tahun. Adapun jika lahirnya bayi tersebut setelah enam bulan atau sebelum empat tahun dari kematian si mayit, maka hukumnya diperinci sebagai berikut : jika dia kawin lagi setelah kematian si mayit, maka bayi tersebut adalah bayi untuk suami yang terakhir, dan tidak berhak mewarisi serta tidak menghajib ahli waris lainnya.
    Dan jika dia tidak kawin lagi, maka bayi tersebut termasuk ahli waris yang berhak mewarisi dan dapat menghajib ahli waris lainnya.
  2. Bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup, dan hal itu dapat diketahui dengan tanda-tanda kehidupan bayi tersebut. Misalnya lahir dalam keadaan menangis, menjerit, bersin, menguap, atau bernafas dalam waktu yang panjang, atau sudah pernah menyusu kepada ibunya atau dengan tanda- tanda lain yang menunjukkan bahwa bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. Dan bukan merupakan satu tanda kehidupan bayi tersebut jika diwaktu dilahirkan dalam keadaan menggeliat-geliat atau bergetar tanpa adanya tanda-tanda yang lain karena bisa jadi hal itu terjadi akibat terlepasnya dia dari tekanan maupun kekangan yang terjadi akibat ruangan yang sempit selama berada dalam rahim.

Dan jika tidak terpenuhi dua syarat tersebut atau salah satunya, maka dia bukan termasuk ahli waris yang berhak mewarisi atau menghajib lainnya. Misalnya jika dia lahir lebih dari empat tahun atau lahir dalam keadaan meninggal dalam rahim sebelum lahir. Begitu pula hukumnya kalau ternyata terbukti si ibu tidak hamil setelah sempat disangka hamil.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*