Website Resmi Habib Segaf Baharun

Status Anak yang Dilahirkan dalam Keadaan Haram (Anak Zina)

Anak zina adalah, seorang anak yang dilahirkan akibat hubungan badan di luar nikah yang sah. Adapun anak yang dilahirkan setelah pernikahan tidak lepas dari 4 keadaan:

1. Anak itu dilahirkan sebelum 6 bulan dari mulainya kemungkinan bertemu atau lebih dari 4 tahun setelah adanya kemungkinan bertemu yang tera­khir, maka jelas anak tersebut adalah anak haram atau zina.

Begitu pula jika sebelum menikah terbukti sudah hamil dengan kesaksian 2 orang dokter lalu setelah itu kawin maka anak tersebut juga anak zina yang dinasabkan kepada ibunya bukan kepada suami tersebut.

2. Anak itu dilahirkan setelah 6 bulan dari aqad nikah dan sebelum 4 tahun, akan tetapi sang suami mengetahui bahwa janin itu bukan darinya atau kuat persangkaan dalam hal itu dan hal tersebut dikarenakan dia merasa tidak pernah berhubungan badan dengannya setelah aqad nikah dan sang istri tidak pernah memasukkan air sperma suami tersebut ke dalam kemaluannya.

Atau dilahirkan kurang dari 6 bulan semenjak ber­hubungan badan atau 4 tahun setelah berhubungan badan terakhir kali.

Begitu pula jika dilahirkan setelah 6 bulan dari hubungan badan akan tetapi telah melakukan istibro’ yaitu dengan diketahui bahwa istrinya mengalami menstruasi setelah itu dan tidak melakukan hubungan badan lagi, dan ada tanda istrinya berselingkuh.

Maka dalam keadaan-keadaan tersebut, status anak itu harus dinafikan dengan mengajukan tuntutan li’an terhadap istrinya kepada hakim bahwa anak itu bukan anaknya, karena kalau tidak melakukannya akan menyebabkan anak tersebut akan dinasabkan kepadanya, padahal bukan anaknya, karena keyakinannya atau kuat persangkaannya bahwa anak tersebut hasil selingkuh, misalnya tersebar di masyarakat bahwa istrinya selingkuh dan dia lihat sendiri dia melakukan hubungan badan dengan orang lain, atau dengan melihat laki-laki itu keluar dari rumahnya atau sebaliknya, atau juga dengan kelihatan berduaan di tempat yang sepi.

Dan jika tidak menafikannya, maka tetap status anak tersebut sebagai anak yang sah dan jika dia menafikannya berarti itu adalah li’an, dan harus dilakukan dengan cara dengan mendatangi hakim dan mengatakan bahwa anak itu bukanlah anak­nya, dan jika dia lambat didalam hal itu maka tidak sah dia menafikan anak tersebut walaupun melaku­kan li’an itu sendiri tidak harus cepat-cepat.

3. Jika anak tersebut lahir setelah 6 bulan dari terakhir kali dia melakukan hubungan badan dan dia telah istibro’ yaitu dengan diketahuinya telah menstruasi setelah berhubungan badan kemudian tidak melakukannya lagi, dan dia menyangka bahwa anak itu akibat perselingkuhan istrinya, akan tetapi dia tidak meyakininya atau tidak kuat persangkaannya dalam perselingkuhan tersebut, maka status anak tersebut adalah anak yang sah dan sunnah untuk tidak menafikan anak tersebut, akan tetapi tidak harus, karena kadang seorang wanita hamil juga menstruasi, akan tetapi karena dia sudah istibro’ yaitu menstruasi setelah hubungan badan yang terakhir, hal itu bisa dijadikan bukti bahwa rahimnya kosong dari janinnya kala itu, dan hal ini jika dia tidak melihat sendiri perselingkuhan itu, karena jika demikian berarti termasuk keadaan yang kedua dan wajib atasnya untuk menafikan anak itu.

4. Jika anak itu dilahirkan setelah berhubungan badan 6 bulan lebih sampai 4 tahun dan dia menduga de­ngan dugaan yang kuat atau ragu anak tersebut hasil dari benihnya, maka status anak tersebut ada­lah anak yang sah dan haram baginya menafikannya dan merupakan dosa, bahkan sebagian ulama’ berpendapat bahwa kafir hukumnya orang yang melakukannya.

Semoga kita semua, kerabat-kerabat kita, sanak saudara kita, dan seluruh kaum muslim dijauhkan dari perkara semacam ini. Aamiin Ya Rabbal’Alamiin…

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives