Menaati Suami, atau Orangtua?

taat suami - Copy

Setiap orangtua dari pasangan suami-istri semestinya belajar dari pengalaman hidupnya selama sekian lama membangun rumah tangganya. Perjalanan panjang berumah tangga sarat dengan pengalaman yang berguna. Hal itu nantinya hendaknya diajarkan kembali kepada anak-anaknya saat membangun rumah tangga berikutnya, bukan malah menghancurkannya dan menjadi sebab anak serta cucu-cucunya menjadi sengsara karena berpisah dari suami dan ayah mereka.

Bukankah, setelah pernikahan, seorang menantu juga menjadi anak mertuanya? Bukankah setiap orangtua pada umumnya mau berkorban apa saja asalkan anaknya bahagia?

Menentukan pendamping hidup memang merupakan pilihan: kalau beruntung dapat suami (istri) yang baik dan mendapatkan kebahagian. Kalau tidak, sebaliknya yang akan terjadi. Tapi apa pun pilihannya, bukankah pilihan Allah SWT pasti menjadi yang terbaik? Karena memang maksud terciptanya manusia adalah untuk diuji agar menjadi yang terbaik di sisi-Nya.

Karena itu, semestinya setiap orangtua membantu anak-anaknya agar dapat melewati ujian tersebut, hingga layak mendapatkan doa Nabi SAW, “Semoga Allah SWT merahmati seorang ayah yang membantu anak-anaknya berbakti kepada-Nya.” Para ulama menjelaskan, orangtua yang dimaksud adalah mereka yang mengalah asal anaknya tidak membangkang kepadanya yang menyebakan anak-anaknya menjadi anak durhaka dan berada dalam kemurkaan Allah SWT.

                                                         

Taat kepada Suami

Bagi seorang wanita yang belum menikah, hak terbesar setelah hak Allah dan Rasul-Nya adalah hak kedua orangtuanya. Namun saat ia sudah menikah, hak suaminya lebih besar dan harus lebih didahulukan daripada hak kedua orangtua, berdasarkan ayat dan hadits berikut ini:

                                             

الرجال قوامون على النسأ بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من اموالهم (النسأ)34

 

“Laki-laki adalah pembimbing para wanita dikarenakan Allah telah memberikan karunia kepada mereka yang tidak diberikannya kepada selain mereka dan dikarenakan merekalah yang memberi nafkah mereka.”

 

Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa, bagi wanita, yang berhak untuk memimpin dan dipatuhi perintahnya adalah para suami.

Dalam hadits yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah RA diterangkan, hak yang paling besar setelah hak Allah dan Rasul-Nya adalah hak suami terhadap istrinya.

 

عن عا ئسة رضي الله عنها انها قالت  سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم  اي الناس اعظم حقا على المر أة ؟ قال زوجها قلت فأي الناس أعظم حقا على الرجل

(قال امه  (رواه الحا كم

 

Dari Sayyidah Aisyah RA, ia berkata bahwasanya ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah di antara manusia yang paling besar haknya kepada seorang wanita?”

Nabi SAW menjawab, “Suaminya.”

Lalu Sayyidah Aisyah RA bertanya lagi, “Lalu siapakah manusia yang paling besar haknya kepada seorang laki-laki?”

Nabi SAW menjawab, “Ibunya.” (HR Al-Hakim).

 

Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda:

 

(اذا صلت المر أة خمسها و صامت شهرها و حصنت فرجها و أ طاعت زوجها قيل لها ادخلي الجنة من اي ابواب شئت (رواه ابن حبان

 

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa Ramadhan-nya dan menjaga kemaluannya dari maksiat, serta dia taat kepada suaminya, akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah engkau ke dalam surga yang mana saja engkau suka’.” (HR Ibn Hibban).

 

Hadits tersebut menggambarkan bagaimana surga yang paling tinggi sekalipun perolehannya tergantung kepada ketaatan seorang istri kepada suaminya. Bahkan, surga dan neraka seorang istri ditentukan oleh ketaatannya kepada suaminya sebagaimna hadits berikut ini:

 

عن الحصين بن محصن رضي الله عنه ان عمة  له اتت النبي صل الله عليه وسلم في حاجة ففرغت من حا جتها فقال لها النبي صل الله عليه وسلم أذات زوج انت ؟ قالت نعم قال كيف انت له؟ قلت ما آلوه هلا ما عجزت عنه قال فا نظري أين انت منه فانما هو جنتك و نارك . رواه احمد

Dari sahabat Al-Husein bin Muhsin, ia berkata, telah datang kepada Nabi SAW salah satu bibinya untuk suatu keperluan dengan Nabi SAW.

Setelah selesai, Nabi SAW bertanya kepadanya, “Apakah engkau memiliki suami?”

Dijawabnya, “Iya.”

Nabi bertanya lagi, “Bagaimana pergaulanmu dengannya?”

Ia menjawab, “Aku melaksanakan apa yang aku bisa laksanakan untuknya.”

Maka Nabi SAW mengatakan, “Lihatlah nasibmu di sisi Allah SWT, yaitu dari sikapmu kepada suamimu. Karena sesungguhnya dia adalah surga dan nerakamu.” (HR Ahmad).

 

Dalam sebuah hadits lain disebutkan:

 

عن عبد الله بن ابي اوفى قال لما قدم معاذ من الشام سجد للنبي صل الله عليه وسلم قال ما هذا يا معاد ؟ قال أتيت الشام فوافقتهم يسجدون لأساقفتهم وبطارقتهم فوددت في نفسي أن نفعل ذلك بك فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فلا تفعلوا فإني لو كنت آمرا أحدا ان يسجد لغير الله لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها واللذي نفسي بيده لا تؤدي المرأة حق ربها حتى تؤدي حق زوجها ولو سألها نفسها وهي على قتب لم تمنعه .  رواه ابن ماجه

Dari sahabat Abdillah bin Abi Awfa, ia berkata, tatkala sahabat Mu’adz datang dari negeri Syam, dia langsung sujud di hadapan Nabi SAW.

Maka Nabi SAW bersabda, “Apa yang kamu lakukan, wahai Mua’dz?”

Mu’adz menjawab, “Ya Rasulullah, ketika aku berada di negeri Syam, kulihat masyarakat di sana bersujud kepada pendeta dan pembesar mereka. Lalu diriku menginginkan kami melakukannya pula terhadapmu.”

Rasulullah SAW mengatakan, “Jangan kalian lakukan hal itu; karena kalau seumpama aku (boleh) memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah SWT, niscaya kuperintahkan setiap wanita bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang nyawaku ada pada-Nya, seorang wanita tidaklah dianggap melaksanakan kewajiban Tuhannya hingga dia melaksanakan kewajiban suaminya. Jika suaminya menginginkan (pelayanan) dirinya, ia harus mematuhinya walaupun pada waktu itu ia berada di punuk seekor unta.” (HR Ibnu Majah).

 

Akan tetapi, kesemuanya itu dengan catatan, baik perintah suami maupun perintah kedua orangtua bukan pada pekerjaan yang bertentangan dengan agama atau perbuatan maksiat. Nabi SAW bersabda, “Tidak boleh taat kepada seorang makhluk jika perintahnya bertentangan dengan perintah Allah.” (HR Ahmad).

Jika perintah keduanya tidak melanggar agama, yang harus didahulukan seorang istri adalah menuruti perintah suaminya.

 

Yang namanya api tidak dapat dilawan dengan api. Ia dapat dipadamkan dengan air. Insya Allah, dengan menjalin hubungan yang lebih baik dan dengan akhlaq yang mulia, kedua orangtua  akan berubah sikap terhadap suami. Nabi SAW bersabda, “Ikutilah sifat yang tidak baik dengan akhlaq yang baik, niscaya itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah semua manusia dengan akhlaq yang baik.“ (HR At-Turmudzi).

2 Comments on Menaati Suami, atau Orangtua?

  1. Syarif syahab // April 28, 2017 at 11:03 am // Reply

    Ustad izin bertanya bagaimanakan mengingatkan istri yang suka nonton TV terus dan kurang dzikir

    • habibsegaf // May 13, 2017 at 8:43 pm // Reply

      jika setelah dinasihati istri anda tidak juga mennurut, maka coba Anda tidak memasang tv dirumah anda sambil membimbing dan mengajaknya untuk beribadah bersama.
      wanita itu memang lemah akal dan fisiknya. maka hendaknya bagi suami yang yang sholeh selalu sabar untuk membimbing isrtinya dan sabar terhadap perilaku buruknya. karena disitulah letak kesabara dan keimanan seorang suami diuji oleh Allah yang mana hakekatnya untuk meninggikan derajat suami yang sabar.
      semoga Anda diberi pertolongan dan kesabaran dalam mendidik istri Anda sehingga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah.Amiinn

Leave a comment

Your email address will not be published.

*