Menangislah Karena Dosa kita

menangis

Marilah kita evaluasi diri kita pernahkah kita menangis karena dosa-dosa kita?Mari kita belajar kepada seseorang yang sholeh yang bernama Kahmas Bin Hasan yang mana dia menangis karena suatu dosa selama 50 tahun lamanya dengan tangisan yang selalu meneteskan air mata dan terisak sehingga tampak membekas pada pipi dan kedua matanya karena terus-menerusnya air mata mengalir. Sehingga suatu saat ada seseorang yang bertanya padanya: Mengapa engkau menangis sedemikian rupa wahai Kahmas? Maka beliau menjawab: Iya karena dosa yang pernah aku lakukan 50 tahun yang lalu sehingga dosa itu telah membuat aku tidak dapat tidur nyenyak dan selalu membuatku gundah dan gelisah pada siang hari, maka orang itu bertanya lagi: Lalu dosa besar apakah yang kamu lakukan sehingga kamu menangisinya siang dan malam selama itu? Maka beliau menjawab: Suatu ketika datang kepadaku seorang tamu, maka aku memberikan makanan yang banyak mengandung minyak kepadanya, dimana setelah kami mencucinya dengan air maka minyak itu tidak hilang juga, sehingga aku ambil sedikit dari tanah di dinding rumah tetanggaku yang kebetulan saat itu kami bersandar kepadanya untuk menghilangkan sisa minyak pada tangan kami tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada tetangga serta meminta ridhonya”. Sehingga setelah itu aku sadar ini adalah dosa yang telah aku lakukan dan aku menyesalinya hingga saat ini. Maka orang itu berkata kepadanya: Wahai Kahmas tidakkah engkau meminta maaf dan meminta ridho kapada tetangga itu?” Maka dia menjawab: Sudah aku lakukan”, maka orang itu berkata lagi: Tidakkah engkau meminta ampun kepada Allah? Maka dia menjawab: Juga sudah aku lakukan”. Lalu kenapa engkau masih menangis padahal engkau sudah mendapat ridhonya dan meminta ampun kepada Allah?” Maka Kahmas bekata: “Bukan seperti itu keadaannya wahai saudaraku, akan tetapi yang selalu aku ingat dan aku khawatirkan adalah tatkala aku berada di depan Allah nanti, di depan semua manusia ketika aku dihisab, maka apa yang akan aku jawab kepada Allah ketika dia berkata kepadaku dimanakah rasa takutmu kepadaku pada saat itu ketika kamu mengambil debu tetanggamu itu, kamu anggap aku tidak melihatnya sehingga kamu tidak merasa takut dan tidak beradab kepadaku hingga engkau mengambil debu itu?

Kalau hal ini ditangisi oleh Kahmas hanya karena mengambil sedikit debu tetangganya padahal tetangga itu telah memaafkannya, lalu bagaimana dengan kita yang selalu melakukan dosa demi dosa bahkan tanpa rasa penyesalan dan taubat, apakah kita lebih baik dari Rasulullah yang telah diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, akan tetapi beliau setiap malam selalu menangis.

Telah menangis Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq, telah menangis Sayyidina Umar Bin Khottob, telah menangis Sayyidina Utsman Bin Affan, telah menangis Sayyidina Ali telah menangis Sayyidah Fatimah, telah menangis Sayyidah Khodijah, telah menangis Sayyidah Aisyah, bahkan sepuluh sahabat Nabi yang telah dijamin masuk surga hampir setiap malam mereka selalu menangis karena mengingat kepada dosa-dosa dan takut kepada adzab Allah Swt, serta takut dengan apa yang akan mereka temui di alam kubur, padang mahsyar, dan ketika akan melewati shirot nanti?

Semoga dengan membaca kisah-kisah orang yang dekat dengan Allah dapat menggugah kita untuk dapat meniru mereka dalam Taqorrub kepada Allah SWT, Amiiinnn ya Robbal ‘Alamiiinn.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*