MEMAKSIMALKAN WAKTU SOLUSI AGAR TIDAK MENJADI INSAN YANG RUGI

16299410_606976142834874_4175552227977774630_n

Masa atau waktu bagi manusia merupakan rosmal Dan modal yang paling berharga yang tidak ternilai, bahkan tidak sebanding dengan nilai dunia dan seisinya. Sehingga pantas jika Allah SWT bersumpah dengan masa tersebut didalam surah Al-Ashr:

قال الله تعالى : وَٱلعَصرِ (١) إِنَّ ٱلإِنسَـٰنَ لَفِى خُسرٍ (٢) إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَواْ بِٱلحَقِّ وَتَوَاصَواْ بِٱلصَّبرِ …العصر: 1-٣

Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr:1-3)

Allah SWT tidak bersumpah demi masa kecuali karena memang modal utama bagi manusia untuk mendapatkan ridho dan rahmat-Nya dan menghindar daripada murka dan dosa-Nya, adalah waktu yang tersedia baginya. Maka memaksimalkan waktu yang ada merupakan solusi untuk tidak menjadi seorang manusia yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Bagi seorang muslim hendaknya meramaikan waktunya dengan tugas-tugas ibadah, sehingga tidak berlalu satu saatpun baik pada waktu malam maupun siang kecuali terisi dengan aktivitas kebaikan maupun kemanfaatan yang kembali kepadanya baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian akan tampak keberkahan daripada waktu dan dia mendapatkan faedah dan keberkahan umur, serta senantiasa terhitung sebagai seorang yang mencari ridho Allah. Selain tugas-tugas ibadah, maka hendaknya kita menentukan waktu-waktu tertentu untuk melakukan segala aktivitas yang menjadi sebuah kebutuhan biologis seorang manusia dari makan, minum, mencari penghidupan pada waktu-waktu tertentu. Karena dengan mengikat waktu dengan tugas-tugas tertentu, merupakan sebab utama keberkahan daripada waktu itu pada diri seorang manusia.

Dan ketahuilah bahwasanya waktu itu tidak akan mengalirkan keberkahan dan kebaikan kepada manusia kecuali jika dia kontinyu didalam melaksanakan dan mengisi waktu-waktu itu dengan tugas-tugas tertentu, baik ibadah maupun aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan bagi seorang manusia. Dan tidak akan tampak itu semua jika dia meremehkan dan melalaikan serta mengabaikan tugas-tugas tersebut karena tidak kontinyu didalam mengikat waktu-waktunya, sebagaimana hati manusia tidak akan menjadi baik jika kita lalai mengawasinya dan memperbaikinya.

Berkata Imam Ghazali: “Hendaknya seorang muslim membagi waktu-waktunya dengan aktivitas-aktivitas ibadah maupun adat-istiadat yang diperbolehkan dalam waktu-waktu tertentu, sehingga setiap waktu sudah ditentukan tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas tertentu terkait pada waktu itu.Dengan demikian, dia tidak akan mendahulukan aktivitas yang lainnya jika belum datang atau tiba waktunya. Sehingga dia akan mendapat keberkahan waktu. Adapun sebaliknya, jika seseorang tidak mengikat waktunya dengan aktivitas-aktivitas maupun kegiatan-kegiatan tertentu bagaikan binatang yang sangat tidak perhatian dengan waktu-waktu yang telah berlalu, dimana  mereka menyibukkan waktunya dengan apa yang tampak di pikiranya pada waktu itu secara spontan, maka tipe-tipe manusia semacam itu akan banyak menghilangkan dan membuang-buang waktunya. Padahal waktu-waktu yang disebutkan tadi adalah umur manusia, sedangkan umur manusia merupakan rosmal utama dari Allah SWT.

Dengan waktu-waktu tersebut kita menggapai ridho-Nya dan dengan waktu-waktu itu pula kita bisa mendapat murka-Nya. Berarti setiap nafas daripada nafas-nafas manusia merupakan sebuah hal yang menjadi milik manusia yang berharga tiada tara karena tidak dapat dikembalikan lagi setelah berlalu walaupun dengan harga dunia dan seisinya. Sehingga jika telah berlalu suatu waktu, tidak akan mungkin untuk selama-lamanya akan kembali lagi kepadanya. Maka dari saking pentingnya waktu itu, Nabi SAW bersabda :

(عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: نِعمَتَانِ مَغبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِن النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالفَرَاغ ُ. (رواه البخار

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu didalamnya, yaitu nikmat sehat dan nikmat luang waktu. (H.R. Bukhori)

Bisa kita bayangkan kalau kita tidak benar-benar menghargai waktu, maka jika misalnya kita tidur setiap hari selama delapan jam sedangkan umur kita enam puluh tahun, berarti kita gunakan waktu untuk tidur saja selama dua puluh tahun, yaitu sepertiga umur kita. Sehingga jika kita tidak benar-benar mengikat waktu kita dengan jadwal-jadwal dan aktivitas-aktivitas tertentu, maka jangan berharap kita akan mendapat keberkahan dari waktu tersebut.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*