Bertafakkur dengan Ciptaan Allah

Tafakkur merupakan ibadah qolbiyyah yang termasuk daripada ibadah yang menduduki tingkatan yang paling tinggi dan paling utamanya ibadah, sebagaimana dikatakan bahwasanya tafakkur sesaat itu lebih baik daripada ibadah selama setahun. Sesuai dengan definisinya, tafakkur secara bahasa adalah merenung dan berfikir. Sedangkan menurut arti syar’i adalah memutar akal dan menggunakannya untuk mengetahui suatu hakikat yang sebenarnya.

Dan tafakkur yang mengandung unsur ibadah dalam hal ini adalah merenungi dengan apa yang terjadi setiap saat dan setiap waktu dalam segala situasi dan posisi dengan mengambil hikmah dan pelajaran darinya, karena Allah SWT tidak menciptakan segala sesuatu kecuali dengan kandungan banyak hikmah dan tersirat banyak makna. Begitu pula tidak menentukan sesuatu kecuali ada hikmah, ibrah dan pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan manusia, baik secara kompleks dirasakan, universal, ataupun dirasakan secara individual. Oleh karena itu, memaksimalkan waktu dengan bertafakkur merupakan sebuah solusi untuk meningkatkan keimanan dan pengetahuan tentang keagungan dan kebesaran Allah SWT.

Dengan bertafakkur, kita akan mengetahui keagungan Allah dan kekuasaan-Nya serta tidak ada batasan dari kemampuan dan kekuatan Allah SWT, maupun pemberian dan anugerah-Nyaserta sifat-sifat Allah SWT yang lainnya. Maka hendaknya setiap waktu dan setiap saat kita bisa menangkap dan menggunakan waktu yang ada untuk betafakkur, baik itu terkait dengan diri kita sendiri, atau terkait dengan tindakan maupun ucapan orang lain.

Begitu pula terkait dengan ciptaan Allah SWT yang sangat luas dan sangat banyak tanpa batas yang bisa dijadikan sebagai sasaran untuk bertafakkur. Dan hendaknya menggunakan waktu-waktu tertentu untuk melakukan tafakkur, mengevaluasi diri dan introspeksi diri. Waktu yang paling cocok dan paling pas untuk kita bertafakkur untuk menghadirkan hati dan fokus terhadapnya adalah ketika di pertengahan malam atau di sepertiga malam yang terakhir.

Tafakkur merupakan sebuah sebab kita mendapati kebaikan dunia dan kebaikan agama, asalkan tafakkur itu sesuai dengan yang dianjurkan. Yang demikian itu dapat kita buktikan pada setiap orang yang bertafakkur, pasti dia mendapati dirinya sebagai orang yang bertakwa dan orang yang berhasil dalam dunia maupun akhiratnya.

A. Keutamaan Bertafakkur
Banyak ayat-ayat yang terkandung di dalamnya tuntutan dan dorongan kepada hamba-hamba-Nya untuk bertafakkur kepada Allah SWT, baik bertafakkur terhadap ciptaannya dan bertafakkur terkait dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Diantaranya adalah ayat-ayat berikut ini:

قال الله تعالى : أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلقُرءَانَ‌ۚ وَلَو كَانَ مِن عِندِ غَيرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱختِلَـٰفًا كَثِيرًا (النساء:٢ ٨)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah SWT, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.(Q.S. An-Nisa: 82)

قال الله تعالى : كِتَـٰبٌ أَنزَلنَـٰهُ إِلَيكَ مُبَـٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُواْ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلأَلبَـٰبِ (ص: ٢٩)
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(Q.S. Shaad: 29)

قال الله تعالى : إِنَّ فِى خَلقِ ٱلسَّمَـٰوَاتِ وَٱلأَرضِ وَٱختِلَـٰفِ ٱلَّيلِ وَٱلنَّهَارِ لَأَيَـٰتٍ لِّأُوْلِى ٱلأَلبَـٰبِ (آل عِمرَان: ١٩٠)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.(Q.S. Ali Imron: 190)

Hendaknya bertafakkur hanya di dalam ciptaan Allah SWT dan segala ketentuan-ketentuan-Nya, serta tidak boleh bertafakkur didalam Dzatnya Allah SWT karena yang demikian itu akan membuahkan keraguan dan sifat zindiq di dalam dirinya. Jadi tafakkur terbatas hanya didalam ciptaan Allah SWT dan ketentuan-Nya. Yang demikian itu termasuk paling bagusnya ibadah dan seharusnya bagi seorang mukmin menyibukkan diri dengannya.

Tafakkur merupakan pintu utama untuk sampai kepada pengetahuan yang hakiki terkait dengan keagungan Allah SWT dan sifat-sifat-Nya. Tafakkur merupakan sebuah siraman rohani, makanan kehidupan, darah, ruh dan juga penerangannya. Dengan tafakkur seseorang akan bertambah imannya dan akan menjadi kuat dan kokoh akar-akar keimanan dalam hatinya. Dengan tafakkur juga seseorang akan mengagungkan Allah SWT dan tahu akan kekuasaan-Nya. Maka dari itu berapa banyak Allah berfirman dan memuji di dalam firman-Nya akan hamba-hamba-Nya yang selalu bertafakkur di dalam ciptaan Allah SWT.

Tafakkur merupakan suatu ibadah yang disunnahkan dan diwariskan oleh Nabi Muhammad dan para Nabi-Nabi sebelumnya. Sebagaimana sebelum Nabi diangkat menjadi Nabi, beliau beribadah di gua hira yang dilakukannya selama itu adalah bertafakkur dalam ciptaan Allah SWT sehingga terbuka pintu ma’rifah kepada-Nya. Dan adalah para sahabat serta para tabi’in berikutnya meneladani Nabi untuk bertafakkur. Karena yang demikian itu akan menunjukkan dan menuntunnya kepada pengetahuan yang sebenarnya kepada Allah SWT di dalam hatinya.

Bahkan ulama menganggap bahwasanya tafakkur adalah sebuah tiang dan sebab utama untuk membina dan menempa keimanan dan keyakinan seseorang, karena bertafakkur dapat menjadikan seseorang beriman kepada-Nya. Dan setelah beriman pasti berbeda reaksi dan respon dalam tindakan maupun ucapannya karena berbeda seseorang yang melakukan sesuatu dengan dasar iman dengan orang yang melakukan sesuatu tidak dengan dasar iman.

Dengan tafakkur pula akan tersingkap segala sesuatu yang tadinya misetri. Maka dari itu, tafakkur merupakan ibadah yang paling utama. Ibadah yang dilalui oleh setiap Nabi, Rasul, para wali serta para sholihin. Sedangkan hadits-hadits Nabi terkait dengan tafakkur adalah sebagai berikut:
قَالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم:تَفَكُّرُ سَاعَة خَيرٌ مِن عِبَادَةِ سَنَة. (رواه البيهقي)
Bertafakkur sesaat lebih baik daripada beribadah selama satu tahun. (H.R. Baihaqi)

قَالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم:فِكْرَةُ سَاعَة خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِسِتِّينَ سَنَةً. (رواه السيوطي)
Satu jam bertafakkur itu lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun. (H.R. Suyuthi)



Maka dari itu, kita sebagai sebaik-baiknya Ummat, hendaknya kita menambah ibadah kita dengan memperbanyak tafakkur atas ciptaan Allah di mana hal itu merupakan tanda bagi orang-orang yang berakal.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*