Bolehkah Mandi Besar Dengan Tayammum ???

Ada yang bertanya “jika mengalami sakit demam tinggi hingga badan menggigil. Itu terjadi di akhir masa haidh. bagaimana cara mandi besar dalam keadaan sakit ? Bolehkah bertayammum? Kalau boleh, apakah nantinya wajib mengqadha shalat selama menggunakan tayammum? apakah ada bedanya antara tayammum sebagai ganti dari mandi dan tayammum sebagai ganti dari wudhu?…

Ketahuilah, tidak ada yang luput dari perhatian syariat Islam. Semua kandungan syariat Islam ini tak lain adalah demi kemudahan bagi umatnya dan bukan sesuatu yang bersifat menyulitkan. Maka, demikian pula ketika Anda sedang sakit padahal Anda harus melaksanakan mandi besar karena suci dari haidh misalnya atau junub. Jika dipaksakan mandi dalam keadaan sedang demam tinggi, tentu akan membahayakan kesehatan bahkan keselamatan nyawa Anda. Karena itu, jika terjadi yang semacam ini, maka sebagai pengganti mandi besarnya adalah dengan bertayammum.
Masalah yang tengah kita bahas kali ini, yaitu masalah tayammum, memang tidak spesifik permasalahan fiqh kewanitaan. Namun karena memang tidak sedikit dari kaum wanita yang acap mendapat masalah di akhir masa haidh mereka, di mana kemudian tayammum menjadi alternatif yang diberikan syariat bagi mereka agar dapat melewati saat-saat yang tidak kondusif di akhir masa haidh mereka, ada baiknya bila kita membahas masalah tersebut pada forum fiqhunnisa’ kita ini.

Tatacara Bertayammum
Obyek tubuh yang hendak dibersihkan dengan bertayammum adalah wajah dan kedua tangan kita. Adapun cara bertayammum yang benar adalah: pertama, kita mengambil debu (untuk wajah, sambil berniat), kemudian kita meringankannya, yaitu menepukkan kedua tangan supaya berjatuhan tanahnya dan tidak tersisa kecuali sedikit debu yang tidak tebal, lalu kita usap kedua tangan yang ada debunya sambil terus mengingat niatnya tadi ke semua sisi dari muka kita tanpa ada yang terlewatkan, sedangkan cara berniatnya adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لاسْتِبَاحَةِ فَرْضِ الصَّلاَةِ

Nawaitut tayammuma listibahati fardhis shalah

Aku berniat melakukan tayammum agar diperbolehkan bagiku melaksanakan shalat fardhu.

Kedua, kita mengambil debu lagi (untuk kedua tangan), yaitu dengan meletakkan semua jari-jemari tangan kanan dari arah luar (punggung jari-jemari) di atas telapak tangan kiri di mana jari-jemari tangan kanan tidak keluar dari ujung jari telunjuk tangan kiri, lalu kita gerakkan telapak tangan kiri dari arah telapak tangan ke arah siku tangannya. Setelah sampai di pergelangan tangannya agak digenggamkan ujung jari tangan kiri ke tepi lengan tangan bagian bawah, kemudian dijalankan ke arah siku. Jika sudah sampai di siku diputar tangan kanannya sehingga perut lengan bawah menempel ke telapak tangannya, selain ibu jari, lalu dijalankan ke arah telapak tangan sebaliknya tadi. Jika sudah sampai pada telapak tangannya, diusapkan ibu jari kiri di atas ibu jari kanan, begitu juga caranya dilakukan untuk tangan kiri.
Bertayammum dengan cara seperti ini hukumnya sunnah, tidak harus demikian atau tidak wajib, karena dengan cara apapun boleh atau sah tayammumnya, asalkan debunya benar-benar sampai ke seluruh sisi dari muka dan kedua tangannya.

Sakit yang Membolehkan Bertayammum
Pada orang-orang yang sakit, tayammum dapat berfungsi sebagai pengganti wudhu dan mandi. Namun demikian, tidak semua orang sakit boleh bertayammum untuk mengganti wudhunya dan mandinya. Yang diperbolehkan adalah bagi mereka yang tengah mengidap penyakit tertentu yang sekiranya ia paksakan menggunakan air untuk wudhu dan mandinya dalam keadaan semacam itu, hal itu akan membawa mudharat baginya, seperti membahayakan nyawanya, membuat lama kesembuhannya, menambah parah penyakitnya, menimbulkan cacat pada anggota tubuh yang zhahir atau dapat menyebabkan sebagian anggota badannya tidak berfungsi atau lumpuh.
Oleh karenanya, penting kiranya kita mengetahui hukummya orang yang sakit dalam bertayammum, yaitu sebagai berikut:
1. Wajib, bagi orang yang sakit, yaitu jika ia takut dengan sakitnya itu bahwa dengan menggunakan air akan menyebabkan kematiannya.
2. Mubah, bagi orang yang sakit, yaitu jika ia takut kalau menggunakan air akan menyebab¬kan sakitnya tambah parah, atau tambah lama sembuhnya atau akan tampak cacat/bekas yang tidak baik pada anggota yang tampak seperti wajah leher kedua tangan dan lain-lain, atau dia takut akan lumpuh sebagian anggota badannya, maka jika dengan menggunakan air dia takut akan menyebabkan hal-hal tersebut di atas, boleh baginya untuk bertayammum dan boleh juga memaksakan dirinya untuk menggunakan air.
3. Haram, bagi orang yang sakit dengan suatu penyakit yang tidak berpengaruh apapun penggunaan air bagi badan dan penyakitnya itu jika ia menggunakan air, seperti hanya karena sakit kepala dan lain-lain. Jika ia bertayammum karena sakitnya tersebut, tayammumnya tidak sah, begitu pula shalat yang dilaksanakan dengan tayammum itu. Adapun jika ia dalam kondisi ragu, apakah dengan menggunakan air akan membahayakan sakitnya atau tidak, maka hukumnya boleh bertayammum karena sakitnya itu.

Tayammum, Pengganti Wudhu dan Mandi
Seseorang yang sedang sakit, diperbolehkan untuk bertayammum sebagai ganti dari wudhu dan mandinya, hingga ia benar-benar sembuh dari penyakitnya tersebut, sekiranya menggunakan air tak lagi membahayakan kesehatannya. Maka, ketika sakitnya sudah hilang darinya, pada saat itu juga batallah tayammumnya, sehingga ia tidak boleh menggunakannya untuk shalat apapun. Kalau ingin shalat, ia cukup berwudhu dan tak perlu mengqadha mandi besarnya tersebut, karena dengan tayammum, hadats besar maupun hadats kecilnya telah terangkat, asalkan sayarat syaratnya telah terpenuhi.

Jadi, ketika syarat-syarat tayammum sudah terpenuhi, maka tayammum itu sudah berfungsi sebagai ganti dari pekerjaan thaharah (bersuci), yaitu wudlu dan mandi. Mengenai caranya, tidak terdapat perbedaan cara antara tayammmum sebagai ganti dari wudhu dan mandi.
Bedanya hanya pada hal yang membatalkannya. Semua hal yang membatalkan wudhu akan membatalkan tayammum yang berfungsi sebagai ganti dari wudhu (karena sebab hadats kecil). Sedangkan tayammum yang berfungsi sebagai pengganti pekerjaan mandi (karena sebab hadats besar), maka segala hal yang membatalkan wudhu tidak membatalkan tayammumnya. Yang membatalkannya hanyalah adanya air setelah sebelumnya tidak ada, itupun jika tanpa adanya halangan pada dirinya untuk menggunakan air itu.
Demikianlah, semoga hal ini dapat dimengerti oleh Saudari Wahdini dan semua pembaca alKisah. Wallahu a’lam.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*