Obat Hati Yang Mujarrab

Ketahuilah bahwasanya suatu penyakit tidak akan sembuh kecuali setelah diobati. Begitu pula penyakit hati, tidaklah akan sembuh dari seseorang kecuali tatkala dia berusaha untuk menyingkirkannya dan mengobatinya. Sedangkan diantara obat-obat yang disyaria’tkan oleh syari’at islam adalah sebagai berikut :

  1. Berusaha mencintai Allah dengan sempurna, sehingga pada dirinya tidak ada cinta ataupun benci kecuali karena Allah. Karena paling agungnya sebab untuk mengobati hati adalah memenuhi hati dengan cinta kepada Allah. Sehingga tatkala sudah bersemayam cinta Allah dalam hati seseorang, maka hati itu akan bercahaya karenanya sehingga akan hilang segala macam noda dan dosa. Sebagaimana Allah berfirman:قال الله تعالى : وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ‌ۗ (البقرة: 168

Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Q.S. Al-Baqoroh:165)

Adapun cara untuk meningkatkan rasa cinta kepada Allah ada banyak hal, diantaranya adalah:

  • Memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan merenungi dan berusaha memahami artinya.
  • Berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan semua kewajiban-kewajiban-Nya ditambah lagi dengan melakukan perkara-perkara yang disunnahkan, baik sholat, puasa, shodaqoh maupun yang lainnya.
  • Selalu berdzikir kepada Allah pada setiap saatnya.
  • Selalu mengutamakan sesuatu yang menjadi sebab meraih ridho-Nya daripada mengikuti ajakan hawa nafsunya.
  • Berusaha mengenalkan kepada hati tentang nama-nama Allah dan sifat-Nya, dan berusaha memahami dan memaknai arti daripada nama dan sifat-sifat tersebut.
  • Menangis dan merendahkan diri dengan mengingat dosa dan keagungan Allah pada malam hari.

Itulah perkara-perkara yang dapat menumbuhkan rasa cinta kepada Allah

2. Tatkala seseorang sudah berusaha mendapatkan keikhlasan pada dirinya ketika melaksanakan segala macam ibadah, maka akan dapat mengobati dan  menghilangkan serta menghindarkannya daripada penyakit-penyakit hati. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran:

قال الله تعالى : قُل إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلعَـٰلَمِينَ (١٦٢) لَا شَرِيكَ لَهُ ۥ‌ۖ وَبِذَالِكَ أُمِرتُ وَأَنَا۟ أَوَّلُ ٱلمُسلِمِينَ (١٦٣) (الأنعام: 162-163)

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Q.S. Al An’am: 162-163)

Jadi tatkala seorang sudah berusaha untuk ikhlas dalam setiap amalnya, maka dia akan mendapatkan dadanya  lapang. Karena untuk itulah dia hidup, sesuai dengan firman-Nya:

قال الله تعالى : وَمَآ أُمِرُواْ إِلَّا لِيَعبُدُواْ ٱللَّهَ مُخلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ (البينة: 5

mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (Q.S. Al-Bayyinah)

  1. Berusaha mensinkronkan diri, baik ibadah maupun adat istiadat kita sesuai dengan yang diajarkan dan diperagakan oleh Nabi Muhammad sebagai qudwah (teladan) kita. Karena Allah memerintahkan kita untuk mengikutinya dan meneladaninya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran:

قال الله تعالى : قُل إِن كُنتُم تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحبِبكُمُ ٱللَّهُ  (آل عمران: 31

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu.” (Q.S. Ali Imran: 31)

Dan firman Allah:

قال الله تعالى : وَمَآ ءَاتَٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَٰكُم عَنهُ فَٱنتَهُواْۚ (الحشر: 7

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Q.S. Al-Hasyr: 7)

 

Untuk merealisasikan sinkronisasi ibadah maupun adat istiadat kita dengan apa yang telah digambarkan oleh Nabi dalam kehidupannya, dengan tiga hal tentunya. Yaitu sebagai berikut:

  1. Dengan banyak berzikir. Karena Nabi selalu berdzikir, dan dzikir itu dapat menghilangkan kerak-kerak hati dan mengobati penyakit-penyakitnya serta mendekatkan manusia tersebut kepada Tuhannya. Apalagi tatkala dia benar-benar merasa bahwasanya yang disebutnya dan difikirkannya (Allah) berada dekat pada dirinya, karena salafunassoleh telah  berkata, “Demi Allah… Kalau seumpama hati seseorang bersih, maka dia tidak akan merasa bosan membaca Al-Quran.”
  2. Dengan selalu merasa diawasi dan selalu mengawasi Allahdalam setiap gerak-geriknya maupun lintasan hatinya. Begitupula dengan cara bermuhasabah (mengevaluasi diri/intropeksi diri). Itu diantara obat yang mujarab dalam menyembukan penyakit hati. Pantas jika Nabi bersabda dalam haditsnya:

الكَيِّسُ مَن دَانَ نَفسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعدَ المَوتِ وَالعَاجِزُ مَن اتَّبَعَ نَفسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأَمَانِي. (رواه ابن ماجه

Orang yang cerdik itu adalah orang yang selalu menghisab dirinya dan selalu orentasi amalnya kepada akhirat yang akan terjadi setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan harapan angan-angan tanpa diiringi dengan perbuatan. (H.R. Ibnu Majah)

  1. Untuk menyinkronkan ibadah dan adat istiadat, kita membutuhkan teori dan ilmu sesuai dengan yang diajarkan nabi Muhammad dari mulai bagaimana cara melaksanakan ibadah tersebut maupun melaksanakan adat istiadat kita dalam kesehariannya. Karena ilmulah yang memberikan petunjuk kepada kita menuju arah yang benar dan menjauh daripada arah yang salah. Semoga kita semuanya dapat menjalankannya, sehingga benar-benar akan terlaksana bagi kita berjumpa dengan Allah Ta’ala dalam keadaan hati yang bersih. Aamiiin ya Mujiibassaa’iliin…

Leave a comment

Your email address will not be published.

*