Di manakah Isteri Tinggal selama Iddah?

     Hukum Iddah

Yang di maksud iddah dalam arti syar’i adalah masa menunggu bagi wanita untuk mengetahui akan bersihnya rahim dari air sperma suaminya. Dengan beberapa kali suci atau dengan melahirkan. Dan iddah itu bermacam-macam seperti yang akan diuraikan di bawah ini:

  1. Hukum Iddah Istri Hamil

Iddahnya wanita hamil, baik yang ditinggal mati suaminya atau tidak adalah dengan melahirkan anak yang dikandungnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. (Q.S. Ath Thalaq: 4)

 

Iddahnya selesai dengan melahirkan, walaupun anak yang dilahirkannya mati jika memenuhi 2 syarat di bawah ini:           a. Jika dia telah melahirkan anaknya dengan sempurna, lain halnya itu jika dia melahirkan anak kembar, maka tidak selesai iddahnya dengan lahirnya anak pertama tetapi akan selesai dengan kelahiran anak ke dua, dengan syarat anak kedua lahir sebelum 6 bulan dari kelahiran anak pertama.

b. Anak yang dikandung sang istri adalah anak hasil hubungan dengan suaminya akan tetapi jika anak yang dikandungnya adalah anak zina atau hamil dari hubungan syubhat (seorang yang menyangka wanita itu istrinya), maka masa iddahnya dihitung setelah selesai mela­hirkan.

  1. Hukum Iddah Istri Keguguran

Iddahnya wanita yang keguguran adalah sebagai berikut: jika dia keguguran berupa segumpal darah yang beku, maka tidak selesai iddahnya dengan keguguran itu, dan jika keguguran berupa segum­pal daging, maka hukumnya diperinci sebagai be­rikut:

Jika 4 bidan mengatakan telah ada pada daging tersebut awal dari bentuk manusia, seperti ada tangannya dan lain sebagainya (sudah mulai berbentuk), maka selesai iddahnya dengan keguguran itu, tetapi kalau tidak ada tanda-tanda itu maka belum selesai iddahnya.

  1. Hukum Iddah Istri yang Mengalami Haid Kadang wanita mengalami haid dan itu menjadi kebiasaan kebanyakan wanita, dan kadang tidak mengalaminya sama sekali atau sudah monopause (berhenti dari kebiasaan mengeluarkan darah haid), maka jika wanita itu termasuk yang mengalami haid, hukumnya dapat diperinci sebagai berikut: Jika ditinggal mati suaminya maka iddahnya adalah 4 bulan 10 hari, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaknya para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) 4 bulan 10 hari. (Q.S. Al Baqarah: 234)

 

Dan jika dia tidak ditinggal mati suaminya alias diceraikan, maka iddahnya adalah 3 kali suci dari haid, jika waktu talaq dia dalam keadaan suci, ma­ka selesai iddahnya ketika mulai haid yang ketiga. Dan jika waktu ditalaq dia sedang haid maka dia harus menunggu tiga kali suci dari haidnya, berarti akan selesai iddahnya ketika mulai haid yang keempat, sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

Wanita-wanita yang ditalaq hendaknya menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (suci dari haid). (Q.S. Al Baqarah: 228)

 

  1. Hukum Iddah Istri yang Tidak Mengalami Haid Yang di maksud dengan wanita yang tidak meng­alami haid adalah wanita yang belum pernah sama sekali mengalami haid, seperti wanita yang masih kecil atau wanita monopause (wanita yang sudah berhenti dari kebiasaan haidnya). Adapun iddahnya sebagai berikut:
  2. Jika di tinggal mati suaminya, maka iddahnya adalah 4 bulan 10 hari, dan jika tidak ditinggal mati oleh suaminya, akan tetapi diceraikan, ma­ka iddahnya 3 bulan qomariyah (dalam hitungan bulan hijriyah).
  3. Jika wanita yang tidak mengalami haid men­jalankan iddahnya dengan hitungan tiga bulan, lalu tahu-tahu mengalami haid sebelum masa iddahnya selesai, maka dia berpindah dari id­dahnya ke iddah wanita yang mengalami haid. Jadi dia harus menunggu tiga kali suci dari haid­nya, dan yang lalu tidak dianggap dari masa iddahnya.
  4. Begitu pula jika seorang istri menjalankan iddah roj’iyah tahu-tahu suaminya meninggal sebelum selesai iddahnya, maka dia berpindah dari iddahnya ke iddah istri yang di tinggal mati sua­minya, yaitu 4 bulan 10 hari.
  5. Hukum Iddah Istri yang Belum Disetubuhi Iddahnya istri yang belum disetubuhi, jika karena ditinggal suaminya, maka iddahnya seperti Iainnya, yaitu 4 bulan 10 hari, dan jika tidak ditinggal mati suaminya, maka dia tidak mempunyai masa iddah, dan boleh baginya langsung kawin setelah talaq itu, sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala:

ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا

Kemudian kamu menceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas me­reka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. (Q.S. Al Ahzab: 49)

Hal-hal yang Wajib atas Suami terhadap Istri Selama Iddah

Kadang istri itu menjalankan iddah raj’iyah atau iddah karena ditinggal mati suami, dan kadang pula iddah mabtutah (yang ditalaq ba’in).

  1. Mu’tadah Raj’iyah

Yang dimaksud dengan mu’tadah raj’iyah ialah istri yang telah ditalaq yang boleh bagi suaminya untuk ruju’ (kembali), maka wajib atas suami untuk wanita ini apa saja yang diwajibkan untuk istri, seperti nafkah pakaian, tempat tinggal dan lain-lain, kecuali alat kebersihan semisal sabun dan selainnya semasa iddah.

  1. Mu’tadah yang di tinggal mati suaminya

Istri yang ditinggal mati oleh suaminya yang diwa­jibkan untuknya hanya tempat tinggal. Adapun nafkah dan lain-lain dari uangnya sendiri yang akan didapatkan dari harta waris.

  1. Mabtutah (atau yang ditalaq ba’in)

Adapun mabtutah, jika dia sedang hamil wajib atas suami menanggung hal-hal yang ditanggung oleh suami atas istri, seperti nafkah, pakaian dan lain-lain. Dan jika tidak hamil maka hanya wajib atas suami menyediakan tempat tinggal sampai selesai masa iddahnya.

 

Di manakah Isteri Tinggal selama Iddah?

Di mana istri dicerai di sana pula dia harus ting­gal. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:

Ÿلا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ

Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka diizinkan keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terlarang. (Q. S. Ath Thalaq: 1)

 

Jika rumah itu tidak layak baginya boleh minta pindah ke tempat tinggal yang layak. Dan jika tempat itu layak maka tidak boleh keluar dari rumah itu, baik rumah itu milik suami atau miliknya sendiri. Tetapi jika rumah itu milik sang istri maka dia boleh minta uang sewa dari suami. Apabila ketika jatuh talaq kepa­danya dia berada di rumah orang lain, jika orang lain tersebut bersedia menyewakannya, maka wajib atas suami menyewa untuknya sampai selesai masa iddah­nya, dan jika dia tidak bersedia, maka boleh pindah ke rumahnya atau ke rumah suami, karena bagi wanita yang menjalankan iddah itu tidak boleh keluar dari rumah yang mana dia berada di dalamnya ketika jatuh talaq kepadanya kecuali bagi istri yang tidak ditanggung nafkahnya oleh suami, seperti mabtutah, boleh keluar untuk mencari nafkah selama tidak ada yang dapat menggantikannya, untuk itu dan juga boleh keluar ke tempat-tempat yang akan disebutkan di bawah ini:

  1. Boleh keluar ke rumah tetangga pada malam hari untuk mencari hiburan jika di rumah dia merasa sumpek, dengan syarat dia menginap di rumahnya sendiri.
  2. Boleh keluar jika dia merasa terusik oleh tetangganya.
  3. Boleh keluar jika dia takut dirinya akan diperkosa dan lain-lain.
  4. Boleh keluar jika rumah itu akan roboh.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.

*