BERPEGANG TEGUH DENGAN AL-QUR’AN DAN HADITS MERUPAKAN SOLUSI DIDALAM MENGATASI KESESATAN, BID’AH DAN AKIDAH YANG DANGKAL

BERPEGANG TEGUH DENGAN AL-QUR’AN DAN HADITS MERUPAKAN SOLUSI DIDALAM MENGATASI KESESATAN, BID’AH DAN AKIDAH YANG DANGKAL

Hendaknya setiap muslim berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi yang mana keduanya merupakan sumber dan referensi agama Allah SWT yang lurus. Barang siapa yang berpegang teguh terhadap keduanya, dia akan selamat dan beruntung serta mendapatkan petunjuk dan dibentengi dari segala macam kesesatan. Sedangkan yang berpaling darinya atau melenceng dari ajarannya, maka dia pasti akan tersesat, menyesal, binasa, dan hancur. Maka hendaknya setiap muslim menjadikan keduanya sebagai penuntun baginya untuk melangkah dan pencegah serta benteng ketika ingin melakukan sesuatu yang dilarang-Nya serta menjadikan keduanya sebagai neraca pertimbangan untuk kita ketika berucap, bertindak, maupun terlintas di dalam hati kita. Sebagaimana firman Allah SWT: dengan cara mempelajari keduanya serta mentaati isi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tentunya yang demikian itu tidak mungkin kita lepas dari 4 madzhab, yaitu madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan madzhab Hambali. Karena semua madzhab itu bersumber dari Al-Qur’an dan hadits Nabi:

يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلأَمرِ مِنكُمۡ‌ۖ فَإِن تَنَـٰزَعتُمۡ فِى شَىءٍ۬ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ  . (النساء: 59)ا:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). (Q.S. An-Nisa’: 59)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أُوصِيكُم بما إن اعتصمتم به لن تضلوا أبدا: كتاب الله وسنتي.

Aku berwasiat kepada kalian dengan sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Al-Qur’an dan sunnahku.

Barangsiapa yang berkehendak untuk berada di jalan hidayah dan jalan taufik, maka hendaknya dia berjalan dalam rel yang diajarkan oleh Nabi yang boleh dilakukan oleh keduanya, maka kita lakukan. Sedangkan yang dilarang oleh keduanya, maka kita harus menjauhinya. berdasarkan Al-Qur’an dan haditsnya. Jalan yang lurus yang tidak ada bengkoknya, jalan yang kokoh yang tidak ada kekurangan didalamnya. Maka hendaknya jadikan keduanya sebagai neraca untuk kita bertindak, kita berniat, kita beramal, dan kita berucap, serta kita melintaskan sesuatu di dalam hati kita dengan cara yang diperintahkan dalam Al-Qur’an dan yang diperbolehkan di dalam Al-Qur’an begitu pula dalam hadits Nabi

Walaupun demikian, Al-Qur’an dan Al-Hadits pada zaman ini tidak dapat dijadikan sebuah hujjah atau referensi untuk mengeluarkan suatu hukum karena semua hukum syariat sudah diputuskan oleh para ulama dengan sumber Al-Quran, dan hadits, serta ijtihad dan qiyas sehingga yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin pada zaman ini adalah berpegang teguh dan mengikuti salah satu dari madzhab yang empat yaitu Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal atau Imam Hanafi.

Waspadalah terhadap akidah-akidah yang sesat dan ajaran-ajaran yang berbau khurafat dan kemusyikan maupun yang lainnya yang melenceng daripada jalan yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits Nabi, karena Nabi bersabda:,

(قَالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: كُلُّ مُحدَثَةٍ بِدعَةٌ، وَكُلُّ بِدعَةٍ ضَلَالَةٌ. (رواه أحمد

Semua hal yang baru itu bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat.

(عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَن أَحدَثَ فِي أَمرِنَا هَذَا مَا لَيسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري

Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan agama yang bukan termasuk agama, maka harus ditolak. (H.R. Bukhori)

Penjelasan Tentang Bid’ah

Akan tetapi bukan semua bid’ah itu tidak baik, sebagaimana akan dijelaskan setelah ini. Karena banyak macam-macam ibadah yang masuk dalam kategori perintah Nabi akan tetapi masuk ke dalam kategori sunnah Nabi. Oleh karena itu, haruslah kita memahami secara mendetail dan jelas tentang apakah bid’ah dan berapa macam bid’ah itu, yaitu sebagai berikut: akan tetapi tidak terlaksana pada zamannya, seperti pembacaan maulid, membaca dzikir bersama-sama, membuat tabligh akbar, adanya pesantren-pesantren dan lain sebagainya, yang mana semua itu merupakan suatu hal yang baru yang tidak ada dan tidak terjadi pada zaman Nabi.

Kata bid’ah merupakan sesuatu yang baru terjadi dan tidak terjadi pada zaman Nabi Bid’ah hasanah, yaitu yang dianggap oleh para ulama termasuk yang dibawah naungan kitab dan sunnah dari segi kemanfaatan, kebaikan maupun kemaslahatan. Yang demikian itu seperti yang dilakukan oleh para sahabat dalam mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushaf, sholat Terawih yang dikumpulkan Sayyidina Umar di masjid Nabi, tapi bid’ah itu sendiri menurut madzhab Ahlussunnah wal jamaah terbagi menjadi 3 macam berikut ini:

  • dengan Imam Ubay Bin Ka’ab, menertibkan mushaf seperti yang kita lihat sekarang di zaman Sayyidina Utsman Bin Affan, begitu pula menetapkan 2 adzan (adzan pertama dan adzan kedua) pada hari Jum’at sebagaimana diberlakukan pada zaman Sayyidina Utsman, penerapan hukum memerangi pemberontakan yang ditetapkan oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib sebagai warisan dan ajaran daripada para imam yang 4 yang tidak lain adalah anak didik Nabi.
  • . Itulah contoh daripada bid’ah yang dianggap bid’ah hasanah.Bid’ah yang tercela dari segi kezuhudan, kewara’an, qona’ah, dan sebagainya. Seperti memperluas rumah, membeli baju-baju yang mahal, begitu pula kendaraan dan lain sebagainya yang diperbolehkan dalam agama.Bid’ah sayyi’ah, yaitu yang bertentangan dengan nash Al-Qur’an dan hadits Nabi
  • , begitu pula bertentangan dengan ijma’ para ulama. Dan yang demikian itu di zaman sekarang sangat banyak, akan tetapi sedikit terjadi di dalam furu’ syari’ah. Kalau didalam furu’ syariah itu masih ditoleransi, tetapi dilarang didalam ushul syari’ah.

Konsekuensi Bagi Setiap Orang Yang Tidak Berpegang Teguh Dengan Al-Qur’an Dan Hadits Nabi

Setiap orang yang tidak berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi dalam artian segala tindakannya, ucapannya maupun lintasan hatinya tidak bersumber kepada Al-Qur’an, hadits Nabi , Maka dari itu, untuk menghadapi orang yang aneh-aneh atau nyeleneh yang banyak bermunculan pada zaman sekarang ini adalah dengan kita melihat bagaimana amaliahnya sehari-hari, akhlak, amanat, sholatnya dan lain sebagainya. Jika dia termasuk orang yang istiqomah didalam melaksanakan ibadah dan mengikuti sunnah-sunnah dan jejak-jejak Nabi serta ijma’ para ulama dan qiyas, maka yang demikian itu dianggap sesat. Apalagi misalnya dia mengaku mempunyai sebuah kedudukan di sisi Allah SWT, maka hendaknya orang yang semacam ini dijauhi karena dia membawa ajaran yang sesat walaupun seandainya tampak darinya suatu keajaiban, kekeramatan, maupun semua hal yang di  luar nalar manusia biasa. Misalnya dapat terbang di atas udara, dapat berjalan di atas air, dapat berjalan dalam waktu yang singkat, dan lain sebagainya. Karena yang demikian itu banyak terjadi dan syetan pun bisa melakukannya, begitu pula dukun, ahli sihir, dan lain sebagainya. Allah SWT memberikan kelebihan di atas rata-rata itu sebagai istidraj dan bukanlah karomah yang maksud Allah SWT supaya dia semakin terjerumus kedalam kemaksiatan dan kemusyrikannya sehingga dia mati dalam keadaan su’ul khotimah. Wal ‘iyadzu billah…

 

Leave a comment

Your email address will not be published.

*