Kisah Romantik dari Sang Lelaki Pilihan – Rosulullah SAW.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam adalah seorang lelaki sebagaimana lelaki lainnya, namun bagi para ummahatul mukminin, beliau bukan sekedar suami yang biasa. Beliau adalah suami yang romantis dengan segenap arti yang bisa diwakili oleh kata romantis.

Diriwayatkan dari Umarah, ia berkata: Saya bertanya kepada Aisyah ra: “Bagaimana keadaan Rasulullah bila berduaan dengan isri-istrinya?“

Jawabnya: “Dia adalah seorang lelaki seperti lelaki yang lainnya. Tetapi bedanya beliau seorang yang paling mulia, paling lemah lembut, serta senang tertawa dan tersenyum.“ (HR Ibnu Asakir & Ishaq ).

Jika merasa belum lengkap dengan contoh nyata dari kehidupan rumah tangga beliau, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah menegaskan secara khusus pada umatnya untuk berlaku romantis pada pasangannya.

Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya. Dan aku adalah yang terbaik pada istri dari kamu sekalian “. (HR Tirmidzi & Ibnu Hibban)

Tidak tanggung-tanggung, bahkan Al-Quran juga telah mengisyaratkan hal yang senada:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka (bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.“ ( QS An-Nisa :19 )

Syarat untuk menjadi terbaik, harus berbuat baik terlebih dahulu kepada istri. Berbuat baik itu luas dan banyak peluangnya. Dari yang sekedar tersenyum, meremas jari tangan, bahkan hingga merawat pasangan kita saat sakit sekalipun. Subhanallah, bermesraan dengan istri itu membahagiakan hati dan menghapus segala gundah.

Dan ternyata bukan itu saja, Islam juga menjadikan kebaikan, kemesraan, dan romantisnya seseorang terhadap pasangannya sebagai ladang pahala, bahkan kunci surga di akhirat kelak. Apakah maksud kunci surga itu? Semoga dua hadits di bawah ini cukup bisa memberi jawaban bagi kita.

Dari Hushain bin Muhshan, bahwa bibinya datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau bertanya kepadanya,

“Apakah engkau mempunyai suami?”

Dia menjawab, ”Punya.”

Beliau bertanya lagi, ”Bagaimana sikapmu terhadapnya?“

Dia menjawab, “Aku tidak menghiraukannya, kecuali jika aku tidak mampu.”

Maka beliau bersabda, “Bagaimanapun engkau bersikap begitu kepadanya? Sesunggguhnya dia adalah surga dan nerakamu. (HR Ahmad).

Juga diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah bersabda, “Siapapun wanita yang meninggal dunia sedangkan suaminya dalam keadaan ridha kepadanya, maka ia masuk surga “ (HR. Hakim & Tirmidzi)


Ternyata, istri bisa masuk surga karena suami, begitu pula sebaliknya. Kalau masuk neraka? Wal ‘iyadzu billah.

Walhasil, seharusnya visi awal sebuah pernikahan adalah bagaimana menjadikan pasangan kita salah satu kunci-kunci surga bagi kita. Karena masuk surga itu penting, tapi lebih penting lagi masuk surga rame-rame dengan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita.

Apakah bisa disebut bahagia jika kita menyaksikan orang-orang yang kita cintai dalam keadaan menderita? Tidak, sekali-sekali tidak.

Wallahu’alam.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*