Menjadi Ibu berkualitas,, Mencetak anak-anak berkualitas

Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir dan kakaknya Al-Habib Thohir bin Husain bin Thohir merupakan dua ulama’ yang ternama di zamannya. Dimana manaqibnya sangatlah luas dan panjang untuk dicatat dan diceritakan.

Cukup sebagai bukti akan kebaikan dan kehebatan daripada kedua habib ini, dimana keduanya merupakan sebuah simbol tentang bagaimana seorang adik kepada kakaknya.

Selain daripada Al-Habib Husain bin Muhammad Al-Haddad Jombang dengan kakaknya Al-Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad yang dimakamkan di Empang Bogor. Keduanya merupakan sebuah simbol yang selalu dijadikan sebuah tauladan bagi mereka yang ingin  berakhlaq, bermoral baik.

Terutama bagaimana berbudi pekerti serta bersikap baik kepada seoarang kakak begitu pula sebaliknya,diceritakan di antara manaqibnya Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir tidak pernah berjalan beriringan. Akan tetapi Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir selalu berjalan agak mundur di belakang  kakaknya, layaknya imam dengan makmumnya. Hal itu dilakukan oleh Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir kepada kakaknya tersebut untuk memulyakan dan menghormatinya sebagai kakak.

Begitu pula tatkala kakaknya tersebut tidur di suatu ranjang, maka beliau tidak mau tidur di ranjang yang sama, akan  tetapi beliau tidur di bawah. Apabila kakaknya tersebut berada di rumah bagian bawah dalam rumah berlantai dua, maka beliau tidak mau naik ke lantai dua untuk menghormatinya.

Di antara manaqib Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, selain beliau itu menjadi raja wali pada zamannya atau kutub zamannya, beliau adalah seorang yang mujahadahnya serta wiridnya sangat luar biasa.

Di antaranya, beliau membaca kalimat tahlil (لا اله الا الله) sebanyak 25.000 kali. Membaca kalimat يا الله… يا الله… sebanyak 25.000 kali. Dan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw juga dalam bilangan tersebut.

Lain lagi beliau menghatamkan Al-Qur’an setiap hari. Dan juga itu dilakukannya ditengah-tengah aktivitasnya yang penuh dan padat dengan dakwah, mengajar serta menulis buku-buku karya ilmiyahnya.

Beliau dan kakaknya tidak menjadi seperti itu, kecuali karena didikan dari ibunya, seorang ibu yang sholihah dan pendidik luar biasa terhadap anak-anaknya. Dimana di antara pendidikan yang ditanamkan kepada keduanya disebutkan bahwasanya sejak kecil ibunya menanamkan kepada keduanya maqom muroqobah, yaitu suatu maqom yang menjadikan seorang hamba selalu merasa diawasi oleh Allah  dimanapun mereka berada).

Dengan cara setiap kali mereka pulang dari sekolahnya atau madrasahnya tempat dia belajar, tentunya dia merasa lapar dan meminta kepada ibunya untuk makan. Tapi setiap kali itu juga ibunya mengatakan, “Jangan meminta kepadaku! Karena yang memberi makan bukanlah aku. Akan tetapi yang memberikan makan adalah Allah. Dan mari kita lihat apakah Allah akan memberikanmu rizqi setelah kau berdo’a atau tidak. Jika engkau tidak melanggar perintahku atau perintah Allah, maka pasti Allah akan memberikannya untukmu. Tapi jika engkau melanggar perintahku atau perintah Allah, maka pasti Allah tidak akan memberikan kamu rizqi karena dia murka kepadamu.”

Maka diperintahlah keduanya untuk masuk ke dalam kamar yang memang digelapkan lampunya. Dan kalau memang diketahui oleh ibunya keduanya tidak melanggar perintahnya, maka diletakkan makanan di suatu tempat yang tersembunyi. Dan jika diketahui keduanya melanggar perintahnya, maka tidak diletakkan makanan seperti biasanya di tempat yang tersedia.

Maka keduanya diperintahkan untuk masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan tersebut. Kemudian berdo’a kepada Allah, “Ya Allah… Aku lapar… Aku ingin makan… maka berilah kami rizqi Ya Allah yang datang dari-Mu.”

Kemudian dihidupkan lampunya, lalu ibunya mengatakan, “Coba buka dalam kurung tersebut.” Ketika dibuka ternyata ada makanan yang memang telah disiapkan sebelumnya olehnya karena diketahui keduanya tidak melanggar.

Lalu ibunya berkata kepada keduanya, “Hari ini kalian berdua diberi rizqi oleh Allah  yang menunjukkan bahwasanya Allah ridho kepada kalian berdua karena kalian berdua tidak melanggar perintahku dan perintah-Nya.”

Dan jika pada lain waktu ibunya tersebut mengetahui keduanya atau salah satunya melanggar perintahnya, maka tidak diletakkan makanan di tempat yang tersedia. Sehingga kemudian ibunya mengatakan, “Ini karena Allah murka kepada kalian, karena kalian berdua telah melanggar perintahnya. Maka beristighfarlah! Mintalah ampun kepada-Nya!”



Semoga kita bukan termasuk hamba yang hanya bisa membaca dan menyampaikan hal seperti ini kepada orang lain. Semoga kita termasuk hamba yang mengamalkan amal kebaikan seperti ini. Aamiin Yaa Mujiibas Saa’iliin..

Leave a comment

Your email address will not be published.

*