Haruskah Kita Mempunyai Amal Jariyah? – Menguak Wawasan

Amal jariyah adalah amalan-amalan tertentu yang akan terus mengalirkan pahala kepada pelakunya walaupun dia telah meninggal dunia.

Seorang muslim hanya mempunyai 2 kesempatan, yang pertama kesempatan hidupnya dan yang dimulai dari semenjak dia mencapai batas baligh, aqil hingga meninggal, maka kesempatan yang pertama ini setiap orang dapat menggunakannya, bahkan dapat memaksimalkannya tergantung dari modal keilmuan yang dimilikinya, karena dengan ilmu seseorang dapat mengamalkan kebaikan, dengan ilmu pula seseorang dapat membedakan antara yang utama dengan yang lebih utama yang terbaik diantara yang baik.

Adapun kesempatan yang kedua dimulai dari setelah kematiannya hingga hari kebangkitan (hari kiamat). bukan semua orang dapat menggunakannya, akan tetapi hanya bagi mereka yang belajar ilmu syariat agama dan dekat kepada para ulama karena dengan begitu dia tidak akan menyia-nyiakannya, sebab hal itu merupakan sebuah investasi yang sangat bermanfaat baginya kelak untuk akhiratnya karena pada kesempatan kedua itu setiap muslim tidak dapat menggunakannya kecuali pada masa hidupnya, sebab ketika seorang muslim meninggal dunia, putuslah segala macam amal-amal kebaikannya, sehingga tidak ada aliran pahala lagi untuknya yang akan tercatat dalam buku amalnya,

kecuali jika dia mempersiapkan hal itu pada masa hidupnya, yaitu berupa amal jariyah yang akan terus mengalirkan pahala baginya hingga hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

عن أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا مَاتَ إِبْنُ آدَمَ إِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَّةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ[1]

Yang artinya:

“Dari sahabat Abi Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, jika telah meninggal bani adam maka akan terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya”.

Dengan dasar hadits tersebut, ada kesempatan kedua yang perlu disiapkan pada kesempatan pertama, yaitu dengan memperbanyak shodaqoh jariyah di masa hidupnya atau menjadi seorang alim yang bermanfaat baik dengan ajarannya yang selalu diamalkan oleh para santrinya atau dengan tulisannya yang senantiasa selalu dibaca oleh setiap pembacanya, begitu pula dengan mempersiapkan seorang anak yang sholeh. Maka, 3 hal tersebut diatas adalah investasi akhirat bagi setiap muslim, jika benar-benar telah mempersiapkannya pada kesempatan yang pertama, yaitu pada masa hidupnya.

  • Contoh Shodaqoh Jariyah

Shodaqoh jariyah tidak terhitung jumlahnya, alias banyak macamnya, yang kesimpulannya setiap shodaqoh yang dapat dirasakan manfaatnya secara berkesinambungan, seperti contoh-contoh di bawah ini,

  1. Menanam pohon yang berbuah.
  2. Mewaqofkan mushaf atau buku-buku agama.
  3. Membangun masjid atau mushola.
  4. Membangun pesantren atau madrasah.
  5. Membangun tempat-tempat majlis ta’lim.
  6. Membuka jalan yang diperlukan oleh manusia.
  7. Menutup jurang atau lubang, sehingga tidak membahayakan kaum muslimin.
  8. Menggali sumur.
  9. Mengalirkan sungai.
  10. Membangun rumah untuk musafir.
  11. Mewaqofkan rumah untuk para janda.
  12. Mewaqofkan rumah untuk para yatim, dll.

Maka, selama shodaqoh jariyah tersebut diatas masih digunakan maka selama itu pula shodaqoh tersebut mengalirkan pahala bagi pelakunya.

Kesimpulannya kita sangat memerlukan kepada amal jariyah dikarenakan amal jariyah satu-satunya yang tersisa, pada kesempatan kedua yang diharapkan untuk menambah pahala dan mengurangi dosa

Leave a comment

Your email address will not be published.

*