Website Resmi Habib Segaf Baharun

Tahukah Anda? – Adab Amar Ma’ruf fan Nahi Munkar

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah suatu ibarat dari berseru kepada kebaikan dan melarang untuk melakukan kemungkaran. Ia menjadi sebuah barometer dari tegaknya syari’at agama, maupun tidak tegaknya. Karena amar ma’ruf dan nahi mungkar, Allah SWT menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Rasul dan Nabi, begitu pula Allah SWT mengutus para Rasul untuk melaksanakannya. Telah sepakat semua umat akan walaupun kewajiban disini dalam batasan fardhu kifayah. Bahkan amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan sifat yang tidak terpisahkan dari sifat umat Nabi Muhammad  berikut ini : sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT

وَلتَكُن مِّنكُم أُمَّةٌ يَدعُونَ إِلَى ٱلخَيرِ وَيَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ‌ۚ وَأُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلمُفلِحُونَ أل عمران: ١٠٤

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imron :104)

Adab Ber-Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

Amar ma’ruf dan nahi mungkar menjadi sarana dan prasarana memberikan nasehat serta melarang kemungkaran kepada manusia. Sedangkan jiwa manusia bermacam-macam sifatnya, sehingga memerlukan kepada siasat dan hikmah. Oleh karenanya, untuk keberhasilan amar ma’ruf dan nahi mungkar tersebut diperlukan cara dan adab-adab didalam ber-amar ma’ruf, yaitu sebagai berikut:

  1. Mendasari amar ma’ruf dan nahi mungkarnya dengan ilmu. Bagaimana seseorang berseru dengan kebaikan atau melarang dari sebuah kemungkaran kalau dia sendiri tidak tahu apakah ma’ruf dan kemungkaran itu? Apalagi jika seseorang ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan dasar kebodohan tanpa ilmu, maka bisa jadi apa yang dipandangnya dari kemungkaran dianggapnya sebuah kebaikan. Dan bisa jadi apa yang dianggapnya kebaikan, itu merupakan sebuah kemungkaran. Sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang berdakwah kepada masyarakat tanpa dasar ilmu, hanya ter-obsesi dengan keluar untuk dakwah.

Yang benar, silahkan kita keluar untuk berdakwah dan itu merupakan sebuah kemuliaan, akan tapi harus dilandasi dengan ilmu. Dan ilmu itu tidak cukup dipelajari selama satu sampai lima tahun, tapi lebih daripada itu. Maka jika ingin melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, hendaknya dia berusaha mengetahui dengan ma’ruf yang ingin diperintahkannya dan kemungkaran yang ingin dilarangnya, barulah kemudian dia melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam hal tersebut. Yang demikian itu tidak membutuhkan kepada belajar dalam waktu yang lama. Sesuatu yang pasti haram, silahkan kita ingkari. Dan sesuatu yang pasti wajib, silahkan kita perintahkan orang lain untuk melaksanakannya.

  1. Melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan lemah lembut dan hikmah, karena amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan kekerasan dan tanpa hikmah (siasat yang baik dalam berdakwah) akan menjadikan sasarannya tidak menerimanya serta melaksanakannya, bahkan justru dia akan memusuhi kita. Dengan begitu berarti kita telah menambah kemungkaran di atas kemungkaran karena salah caranya. Jadi, amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan kekerasan adalah tugas pemerintah dan orang-orang yang mempunyai kekuatan terhadap masyarakat dan bawahannya.
  2. Ber-amar ma’ruf dengan kepintaran dan professional. Dengan kata lain hendaknya seseorang yang memungkari amar ma’ruf atau nahi mungkar tidak melupakan kebaikan daripada sasarannya, begitu pula tidak membesar-besarkan kemungkaran yang dilakukannya. Misalnya dengan kita berkata kepadanya, “Wahai saudaraku… Engkau adalah seseorang yang baik, apalagi akhlaqmu. Tidak pernah aku melihat engkau meninggalkan suatu kewajiban. Maka alangkah baiknya jika engkau meninggalkan pekerjaan ini dan itu.” Pasti dengan cara seperti itu, dia akan menerimanya. Lain halnya jika dia menyudutkannya dengan melupakan kebaikannya dan membesar-besarkan kemungkarannya, maka kemungkinan besar dia tidak akan menerimanya.

Kesimpulannya, amar ma’ruf dan nahi mungkar membutuhkan kepada sebuah kepintaran dan siasat yang baik dalam berdakwah. Karena maksud dan tujuan utama amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah menyadarkan pelaku kemaksiatan supaya kembali ke jalan yang benar, dan tidak ada tujuan lainnya. Dengan cara apapun, yang penting tujuannya akan berhasil. Dan tentunya tidak mungkin akan berhasil, kecuali dengan cara-cara yang baik yang bisa diterima oleh akalnya.

  1. Melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan dasar kesabaran. Pekerjaan amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan sasaran utama untuk mendapatkan gangguan. Maka hendaknya seorang pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak perlu kaget atau terkejut ketika dia diganggu, ditolak maupun dihujat. Karena semua para Nabi, para Rasul, para Da’i dan semua para Alim pasti mereka telah mengalami cercaan, gangguan, hinaan dan lain sebagainya. Sebagaimana dikatakan oleh Luqman Al-Hakim kepada putranya yang diabadikan di dalam Al-Qur’an:

يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأمُر بِٱلمَعرُوفِ وَٱنهَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَٱصبِر عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ‌ۖ إِنَّ ذَالِكَ مِن عَزمِ ٱلأُمُورِ  لقمان: ١٧

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah SWT). (Q.S. Luqman :17)

  1. Hendaknya seorang pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar mempunyai sifat kesabaran yang sangat mendalam, sehingga dia tidak putus asa untuk memberikan nasehat kepada saudaranya sesama Lihat bagaimana kesabaran Nabi NuhHendaknya seseorang pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah seorang yang wara’, dengan kata lain dia tidak melakukan sesuatu yang dilarang-Nya dan dia telah melaksanakan sesuatu yang diperintahkan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:dimana dia berdakwah kepada kaumnya selama 050 tahun. Sedangkan yang ikut dengannya dan menerima dakwahnya hanya 80 sekian daripada ummatnya. Akan tetapi tidak ada bosan-bosannya dia memberikan wejangan, nasehat serta dakwahnya kepada mereka semua.

يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفعَلُونَ (٢) كَبُرَ مَقتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفعَلُونَ (3) (الصف:2-٣)

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu berkata sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah SWT bahwa kamu berkata apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S. As-Shaff: 3)

أَتَأمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلبِرِّ وَتَنسَونَ أَنفُسَكُم وَأَنتُم تَتلُونَ ٱلكِتَـٰبَ‌ۚ أَفَلَا تَعقِلُونَ (البقرة: ٤٤)

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Q.S. Al-Baqoroh)

  1. Pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar hendaknya berakhlaqul karimah, dan itu dasar utama menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Karena ketika seseorang melihat orang lain yang memberikan wejangan dan nasehat berakhlaqul karimah, maka setiap orang akan mudah dan lunak untuk mendapatkan nasehatnya. Sebagaimana hal itu diperintahkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an:

وَأمُر بِٱلمَعرُوفِ وَٱنهَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَٱصبِر عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ‌ۖ إِنَّ ذَالِكَ مِن عَزمِ ٱلأُمُورِ  لقمان: ١٧

Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah SWT). (Q.S. Luqman: 17)

  1. Pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak memata-matai pelaku maksiat dengan mencari-cari kemungkaran yang dilakukannya. Misalnya dengan memeriksa isi rumah mereka, membuka baju mereka untuk menyingkap apa yang ada di baliknya, atau membuka tas mereka, dan lain sebagainya. Yang semacam itu dilarang, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَجَسَّسُواْ  الحجرات: 12

Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. (Q.S. Al-Hujurot:12)

Dan sebagaimana hadits Rasulullah


عن مسلمة  بن مُخَلِّد قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَن سَتَرَ مُسلِمًا سَتَرَهُ الله فِي الدُّنيَا وَالآخِرَةِ. رواه الطبراني

Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah SWT akan menutupi aib-aibnya kelak di hari kiamat. (H.R. Thobroni)

  1. Hendaknya pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar pasrah kepada Allah SWT dan berdo’a ketika tidak mampu melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan doa berikut ini:

رَبِّ إِنِّى مَغلُوبٌ فَانتَصِر فَارحَم القَلبَ المُنكَسِر

Ya Allah… aku kalah dalam hal ini, maka menangkanlah aku. Dan rahmatilah hati yang terluka ini karena tidak berhasil meraih keinginannya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives