Website Resmi Habib Segaf Baharun

Esensi Niat

Perlu diketahui bahwasanya niat dapat diartikan dengan dua arti:
1. Bahwasanya niat itu merupakan sebuah ibarat atau ungkapan dari suatu tujuan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan dan berucap dengan suatu ucapan. Maka niat dengan ungkapan ini lebih banyak terimplementasi didalam sebuah kebaikan, juga di dalam perbuatan keburukan. Jika tindakan yang dilakukannya termasuk amal kebaikan, maka akan bertambah pahalanya. Dan jika tindakan yang dilakukannya termasuk amal keburukan, maka akan menambah dosanya, sesuai dengan sabda Nabi kita :
نِيَّةُ المُؤمِنِ خَيرٌ مِن عَمَلِهِ (رواه البيهقي)
Niat seorang mukmin lebih baik daripada amal perbuatannya. (H.R. Baihaqi)
Coba kita renungkan! Didalam hadits tersebut Nabi mengkaitkan niat dengan seorang mukmin, yang berarti hanya seorang mukmin yang berniat dengan niat baik di dalam segala tindakannya.
2. Niat itu merupakan sebuah ibarat dari suatu keinginan dan kehendak seseorang untuk melakukan suatu tindakan bersamaan dengan tindakannya tersebut. Maka niat dengan arti itu tidak lebih baik daripada perbuatannya, akan tetapi perbuatan seseorang terkait dengan niatnya tidak akan terlepas dari salah satu tiga keadaan berikut ini:
• Yang pertama, dia berniat melakukan suatu tindakan dan dia telah melaksanakannya.
• Yang kedua, dia berniat untuk melaksanakan suatu tindakan tapi tidak melaksanakannya padahal dia mampu untuk melaksanakannya.
Maka dalam dua keadaan tersebut hukumnya dijelaskan oleh Nabi dalam hadits berikut ini:
إِنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، فَمَن هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَم يَعمَلهَا كَتَبَهَا اللهُ عِندَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِن هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِندَهُ عَشرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبعِمِئَةِ ضِعفٍ ، وَإِن هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَم يَعمَلهَا كَتَبَهَا اللهُ عِندَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِن هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً. (متفق عليه)
Sesungguhnya Allah SWT akan mencatat niat kebaikan dan niat keburukan. Maka barangsiapa berniat melakukan suatu kebaikan tapi dia tidak melaksanakannya, maka Allah SWT akan mencatat untuknya satu kebaikan sempurna. Dan barangsiapa berniat untuk melakukan suatu kebaikan lalu kemudian dia mengamalkannya, maka Allah SWT akan menuliskan untuknya sepuluh kebaikan hingga dilipatgandakan menjadi tujuh ratus lipat ganda bahkan lebih. Dan barang siapa yang berniat melakukan suatu kejelekan atau keburukan akan tetapi dia tidak melaksanakannya, maka Allah SWT akan menulis untuknya sebuah kebaikan sempurna. Dan barangsiapa yang terlintas melakukan sesuatu perbuatan dosa lalu dia melakukannya, maka Allah SWT akan menulis baginya hanya satu keburukan.
• Keadan ketiga, dia berniat untuk melakukan suatu tindakan tetapi dia tidak mampu untuk melaksanakannya hanya saja dia berangan-angan dengan berkata, “Andaikan aku mampu untuk melakukannya, aku akan melaksanakannya.“ Maka niat yang semacam ini akan menyampaikannya kepada derajat orang-orang yang mampu untuk melaksanakannya. Jika kebaikan, dia akan mendapatkan pahala karenanya seperti jika dia benar-benar melakukannya. Dan jika keburukan, dia akan mendapatkan dosa seperti jika dia benar-benar melakukannya. Dengan dalil sabda Nabi Muhammad :
النَّاسُ أَربَعَةٌ : رَجُلٌ آتَاهُ الله عز و جل عِلمًا وَمَالًا فَهُوَ يَعمَلُ بِعِلمِهِ فِي مَالِهِ فَيَقُولُ رَجُلٌ “لَو آتَانِي الله تعالى مِثلَ مَا آتَاهُ لَعَمِلتُ كَمَا يَعمَل” فَهُمَا فِي الأَجرِ سَوَاء، وَرَجُلٌ آتَاهُ الله تعالى مَالًا وَلَم يُؤتِهِ عِلمًا فَهُوَ يَتَخَبَّطُ بِجَهلِهِ فِي مَالِهِ فَيَقُولُ رَجُلٌ “لَو آتَانِي الله مِثلَ مَا آتَاهُ عَمِلتُ كَمَا يَعمَل” فَهُمَا فِي الوِزرِ سَوَاء. (رواه ابن ماجه)
Manusia itu ada empat macam: Yang pertama, seseorang yang Allah SWT berikan ilmu dan juga harta kemudian dia menggunakan hartanya dengan dasar ilmunya. Orang yang kedua yang melihatnya berangan-angan serta berniat di dalam dirinya, “Andaikata aku mendapatkan harta sepertinya, aku juga akan beramal seperti orang itu.” Maka kedua orang itu didalam pahalanya sama, setingkat, sederajat dan tidak berkurang sedikitpun. Yang ketiga seseorang yang Allah SWT berikan harta tapi tidak diberikan ilmu, sehingga dia menggunakan hartanya dengan kebodohannya. Yang keempat, orang yang melihatnya berkata, “Andaikata aku diberikan Allah SWT harta sepertinya, maka aku akan melaksanakan seperti apa yang dilakukannya.” Maka keduanya itu tergolong sama-sama mendapatkan dosanya dan setingkat didalamnya. (H.R. Ibnu Majah)
Kesimpulannya, niat itu merupakan sebuah perantara atau senjata yang kita gunakan untuk memperbanyak pahala dan ridho-Nya. Maka hendaknya seorang manusia yang mukmin dan bertaqwa tidak melakukan suatu amal kebaikan kecuali diiringi dengan niat-niat yang baik dan banyak, supaya dia juga mendapatkan pahala yang banyak.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives