Website Resmi Habib Segaf Baharun

Sejarah Akidah Madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah

img-20161204-wa0088Ahlussunnah wal jama’ah secara etimologis artinya adalah golongan yang selalu mengikuti jejak hidup Rasulullah dan para sahabat-Nya, atau golongan yang berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan sunnah para sahabat-sahabatnya, terkhusus sahabat-sahabat khulafaur rosyidin, yaitu Sayyidina Abu Bakr As-Shiddiq, Umar bin Khottob, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib. Dengan kata lain mereka yang memeluk sebuah akidah yang benar yang ditetapkan dengan dasar nash dan ijma’ para ulama yang merupakan kelanjutan daripada apa yang telah dikerjakan oleh Nabi dan para sahabatnya. Adapun penamaan ahlussunnah wal jama’ah itu sendiri munculnya adalah setelah terjadinya fitnah adanya golongan-golongan yang keluar dari Islam seperti Mu’tazilah, Jabbariyah dan lain sebagainya.
Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani Al-Ghanni dalam kitabnya Al-Kunyah mendefinisikan madzhab Ahlussunnah sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan sunnah adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah baik ucapan, perilaku, maupun yang diakuinya. Sedangkan yang dimaksudkan dengan jama’ah adalah sesuatu yang telah disepakati oleh para sahabat Nabi pada masa khulafa’ur rosyidin, yaitu sahabat Nabi yang 4 (Sayyidina Abu Bakr As-Shiddiq, Umar bin Khottob, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib ). Sedangkan madzhab Ahlussunnah wal jamaah yang paling menonjol kala itu adalah pemahaman bahwasanya Al-Qur’an bersifat qodim. Dan madzhab Ahlussunnah wal jama’ah pertama dimunculkan oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Oleh karenanya, madzhab Ahlussunnah wal jama’ah tidak terlepas dari pengaruh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan juga Imam Abul Manshur Al-Maturidi.
Sedangkan pandangan-pandangan madzhab Ahlussunnah wal jama’ah yang berbeda dengan Mu’tazilah dan juga golongan sesat yang lainnya diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Allah SWT mempunyai sifat dan mustahil Allah SWT tidak mempunyai sifat, seperti mendengar dan melihat. Akan tetapi sifat-sifat tersebut tidak sama dengan sifat yang melekat pada makhluk-Nya. Dan jika ada ayat-ayat yang terkait dengan sifat itu, maka harus ditakwil.
2. Al-Qur’an itu qodim, bukan hadits (yang dahulunya tidak ada kemudian diadakan oleh Allah SWT). Karena Al-Qur’an terkait dengan kalam-Nya, dan kalam-Nya itu qodim.
3. Allah SWT dapat dilihat kelak di surga oleh kaum muslimin yang beruntung untuk mendapatkan kemuliaan itu, yaitu penghuni surga. Dan yang demikian itu tidak berarti bahwasanya Allah SWT adanya karena diciptakan.
4. Perbuatan manusia baik tindakan maupun ucapan itu dengan izin dari Allah SWT dan merupakan ciptaan-Nya.
5. Keadilan Allah SWT bersumber kepada keyakinan bahwasanya Allah SWT berkuasa dengan kekuasaan yang mutlak dan berkehendak dengan kehendak yang mutlak. Apapun yang dilakukan oleh Allah SWT merupakan sebuah keadilan, dan tidak ada sesuatu apapun yang diwajibkan atas-Nya.
6. Mengenai atropomorfisme, yaitu memiliki atau melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh makhluk. Maka madzhab ahlussunnah wal Jama’ah tidak membayangkan dan menggambarkan bagaimana bentuknya dan caranya, akan tetapi diserahkan kepada Allah . Yang pasti tidak sama dengan makhluk-Nya.
7. Madzhab Ahlussunnah wal jama’ah menolak konsep tentang posisi tengah (al-manzilah bayna al-manzilatain). Sebab tidak mungkin pada diri seseorang tidak ada iman sekaligus tidak ada kekafiran. Harus dibedakan antara iman, kafir dan perbuatan.

( dikutip dari buku karya Al Habib Segaf Baharun “Syari’at Islam Solusi Kehidupan Dunia”)

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives