Sadarkah kita bahwa kebodohan adalah musuh terbesar???

BAHAYA DARI SEORANG YANG BODOH DALAM ILMU AGAMA

Kebodohan adalah musuh terbesar bagi umat manusia  terlebih lebih kebodohan tentang ilmu agama, perlu di ketahui bahwasanya orang yang bodoh itu akan terjerumus ke dalam dosa demi dosa, kesalahan demi kesalahan dan selalu hidup dalam kebingungan. Karena dia tidak mempunyai pedoman atau penuntun untuk menuntun hidupnya ke arah yang benar, sehingga dia selalu dalam keadaan salah, bingung, dan sengsara. Berkatalah Al-Habib Abdullah Al-Haddad shohibur rotib , “ Kebodohan dalam agama adalah pangkal dari setiap kejahatan dan sumber dari segala macam keburukan.” Orang yang bodoh itu termasuk di dalam peringatan dan ancaman hadits Nabi berikut ini:
عن أبي هريرة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: أَلَا إِنَّ الدُّنيَا مَلعُونَةٌ مَلعُونٌ مَا فِيهَا، إِلَّا ذِكر الله وَمَا وَالَاهُ، وَعَالِمٌ أَو مُتَعَلِّمٌ. رواه الترمذي
Dunia itu semuanya dilaknat. Dilaknat semua yang ada di dalamnya, kecuali orang yang dzikir kepada Allah SWT dan yang terkait dengannya, serta orang yang alim dan belajar ilmu. (H.R. Turmudzi)
Berkata Sayyidina Ali karramallah wajhah, “Tidak ada suatu musuh yang lebih berbahaya melebihi daripada kebodohan seseorang, dan setiap orang adalah musuh dari kebodohannya sendiri.” Yang demikian itu dikarenakan seseorang yang bodoh akan terjerumus ke dalam keadaan meninggalkan perintah Allah SWTatau melakukan sesuatu yang dilarang-Nya, mau tidak mau pasti terjerumus ke dalamnya karena dia sendiri tidak tahu apa saja ibadah yang diperintah Allah SWT dan dia tidak tahu kemaksiatan apa yang dilarang-Nya. Sedangkan sudah menjadi suatu ketetapan dariAllah SWT bahwa seseorang tidak akan terlepas dari kebodohannya kecuali dengan cara belajar, dan seseorang tidak akan lepas dari kesesatan kecuali dengan cahaya ilmu agama.

Berkata Syaikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran di dalam syiirnya:
الجَهلُ نَارٌ لِدِينِ المَرءِ يُحرِقُهُ * وَالعِلمُ مَاءٌ لِتِلكَ النَّارِ يُطفِيهَا
Kebodohan itu bagaikan api yang akan membakar agama seseorang, sedangkan ilmu bagaikan air yang akan memadamkan api tersebut.
Berkata Al-Habib Umar bin Segaf As-Segaf syaikh wadi Ahgaf : “Ketahuilah bahwasanya ilmu akan mengangkat seseorang yang rendah dan akan merendahkan seseorang yang berpangkat atau bermartabat. Maka barangsiapa yang baik nasabnya akan tetapi dia bersifatkan dengan kebodohan, maka akan jatuh kedudukannya kepada kedudukan yang paling rendah dan akan diletakkan kedudukannya bersama orang-orang yang bodoh. Karena kehidupan sesengguhnya adalah bersama orang-orang yang berilmu, dan kematian yang sesungguhnya adalah bersama orang-orang yang bodoh.” Sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah syiir:
وَفِي الْجَهْلِ قَبْلَ الْمَوْتِ مَوْتٌ لِأَهْلِهِ * فَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُورِ قُبُورُ
وَإِنِ امْرُأٌ لَمْ يَحْيَ بِالْعِلْمِ مَيِّتٌ * فَلَيْسَ لَهُ حَتَّى النُّشُورِ نُشُورُ
Seseorang yang bodoh itu sebenarnya telah mati sebelum kematian yang sesungguhnya, dan jasad mereka merupakan sebuah kuburan baginya sebelum dikubur dalam kuburan sebenarnya. Dan sesungguhnya seseorang yang tidak hidup dengan ilmu adalah mayit dan sesungguhnya nanti walaupun di hari kebangkitan, baginya tidak ada kebangkitan.
Kesimpulannya adalah: Dengan ilmu seseorang akan hidup selamanya, sebagaimana dengan kebodohan, seseorang itu akan mati selamanya.
Berkata sebagian para sholih: “Sebaik-baiknya pemberian Allah SWT adalah akal, dan sejelek-jelek musibah adalah kebodohan.”
Berkata Sahl bin Abdullah At-Tusturi , “Tidak ada seorang pun yang berbuat maksiat kepada Allah SWT yang lebih besar dosanya melebihi dosa kebodohan dalam ilmu agama.” Maka dikatakan kepadanya, “Wahai Muhammad… Apakah engkau mengetahui sesuatu yang lebih parah daripada kebodohan?” Maka dia menjawab, “Iya… yaitu bodoh bahwasanya dirinya adalah orang yang bodoh, itu lebih parah daripada kebodohan.”
Berkata Imam Ghozali mengomentari hal itu, “Karena sesungguhnya kebodohan akan kebodohan dirinya itu akan menutup segala jalan untuk mempelajari ilmu, karena dia menyangka bahwasanya dirinya adalah seorang yang alim. Maka dia akan berfikir, “Buat apa belajar?”.”
Oleh Karena itu, berkata Kholil bin Ahmad : “Manusia itu ada empat macam. Yang pertama adalah seseorang yang tahu, dan tahu bahwa dirinya mengetahui. Maka yang demikian itu adalah seorang yang alim yang hendaknya kalian ikuti jejak, perilakudan perkataannya. Yang kedua, seseorang yang tahu, tapi dia tidak tahu bahwasanya dia tahu. Maka yang demikian itu adalah orang yang lalai, ingatkanlah dia dan bangunkan dari kelalaiannya. Yang ketiga, seseorang yang tidak tahu, dan dia tahu bahwasanya dia tidak tahu. Yang demikian itu adalah orang yang mencari petunjuk, maka berikan petunjuk kepadanya. Sedangkan yang keempat adalah seseorang yang tidak tahu, dan dia tidak tahu bahwasanya dirinya tidak tahu. Yang demikian itu adalah seorang yang bodoh, maka hendaknya jauhkanlah dia darimu.”
Kesimpulannya, hidup adalah ibadah. Dan tidak mungkin seseorang beribadah tanpa dasar ilmu. Maka barangsiapa yang tidak belajar ilmu, tidak mungkin dia melaksanakan ibadah dengan sempurna. Bahkan jika ada seseorang yang beribadah kepada Allah SWT sampai seperti ibadahnya para malaikat yang ada di atas langit sana akan tetapi tanpa didasari ilmu, maka dia termasuk orang yang rugi. Oleh karena itu, hendaknya bagi seorang muslim sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang terkait dengan keduniaan maupun yang terkait dengan keinginannya, hendaknya dia isi dahulu hatinya dengan ilmu agama dan menjauhi segala kemalasan dan kebosanan. Karena sesungguhnya belajar ilmu agama termasuk ibadah yang paling utama, sedangkan ibadah merupakan musuh daripada iblis dan kroni-kroninya. Maka hendaknya berusahalah dan berupayalah, lawanlah godaan dan bisikan-bisikan syetan untuk menjadi seseorang yang mengerti dalam agamanya sehingga dia menjadi seseorang yang berbahagia di dunia dan di akhiratnya.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.

*