Website Resmi Habib Segaf Baharun

Betapa berharganya waktu, maka hargailah!!!

Kisah-Kisah Para Sholihin Didalam Memaksimalkan Waktu

sekelumit kisah-kisah  para sholihin dalam memaksimalkan waktu, adapun mereka tidak pernah menyianyiakan waktu mereka dalam hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat karna mereka adalah orang-orang yang sangat perhatian terhadap waktu. dan perlu kita ingat bahwa waktu yang telah berlalu itu sekali-kali tidak akan pernah kembali lagi kepada kita. marilah kita simak dan cermati kisah para sholihin terkait dengan waktu.

Pada saat Abu Yusuf, teman Imam Abi Hanifah sedang sekarat, berkata muridnya, qodhi Ibrahim bin Dzarrah Al-Kufi: Ketika aku menjenguknya, aku mendapatinya dalam keadaan pingsan. Dan tatkala dia sadar, dia berkata kepadaku, “Wahai Ibrohim… Apakah pendapatmu didalam masalah fiqih?” Maka aku katakan kepadanya, “Dalam keadaan seperti ini engkau bertanya tentang masalah fiqih wahai guru?” Dia menjawab, “Iya… Tidak mengapa kita belajar dan mutholaah, siapa tahu seseorang selamat dengan ibadah ini. Wahai Ibrohim… apakah pendapatmu? Manakah yang lebih utama ketika melempar jumroh didalam ibadah haji, melemparnya dalam keadaan berjalan kaki

  1. atau dalam keadaan berkendara?” Maka aku jawab, “Dalam keadaan mengendarai kendaraan.” Dia menjawab, “Salah.” Lalu aku katakan lagi, “Dalam keadaan berjalan kaki.” Dia juga menjawab, “Salah!” Maka aku berkata kepadanya, “Apakah pendapatmu yang benar? Semoga Allah SWT meridhoimu.” Maka dia menjawab, “Kalau misalnya dia akan berhenti untuk berdo’a, maka lebih baik dia melemparnya dalam keadaan berjalan kaki. Akan tetapi jika dia tidak ingin berhenti untuk berdo’a, maka lebih baik dia melemparnya dalam keadaan ber” Kemudian aku pergi darinya. Akan tetapi belum sampai aku keluar rumahnya, tiba-tiba dia sudah meninggal dunia. Begitulah para ulama sangat menghargai waktunya, walaupun pada detik-detik akhir hidupnya.

Dan Abu Yusuf ini ketika anaknya meninggal, maka dia mewakilkan seseorang untuk merawat jenazahnya dan menyolatinya karena dia sibuk untuk menghadiri pelajaran gurunya, Imam Abu Hanifah. Dia telah melazimi Imam Abu Hanifah selama 29 tahun.

  1. Muhammad bin Hasan adalah seorang yang sangat sedikit tidurnya. Adapun pekerjaannya di malam hari adalah membaca kitab, dimana dia meletakkan kitab-kitabnya di samping tempat tidurnnya. Ketika dia sudah bosan membaca satu kitab, maka dia akan membaca kitab yang lain, dan begitu seterusnya. Dan ketika telah datang rasa kantuk yang sulit untuk dihindarinya, maka dia percikkan air pada wajahnya. Yang demikian itu adalah usaha dan upayanya untuk memaksimalkan waktu yang dimilikinya.
  2. Seorang muhaddits yang bernama Ubaid bin Ya’isy selama 30 tahun tidak pernah makan dengan tangannya. Adiknyalah yang menyuapinya sementara dia menulis hadits. Dia merupakan salah satu guru Imam Bukhori dan Imam Muslim.
  3. Ibn Mu’in menulis sebanyak satu juta hadits, sementara setiap hadits ditulisnya sebanyak 50 kali. Sampai-sampai Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibn Mu’in, maka dia bukanlah hadits.”
  4. Diantara manaqib Imam Abi Hatim yang diriwayatkan oleh anaknya: “Dia tidak makan kecuali jika ada yang membaca suatu kitab untuknya dan dia tidak sedang berjalan kecuali jika ada yang membacakan kitab untuknya. Bahkan ketika di kamar mandi pun ada yang membacakan kitab untuknya dari luar kamar mandi. Dan hal itu dilakukannya karena perhatiannya didalam memaksimalkan waktu, sehingga dia enggan untuk melewatkan waktu dalam keadaan tanpa faedah.”
  5. Seorang ulama yang bernama Tsa’lab, dia tidak pernah berpisah dari kitabnya. Untuk memaksimalkan waktu yang dimilikinya, jika ada orang yang mengundangnya dalam suatu jamuan, maka dia memberi syarat kepadanya agar tempat duduknya nanti agak lebar untuk meletakkan buku di sana nantinya dan dia akan membaca kitab di tempat itu.
  6. Diantara manaqib Ibnu Jarir -seorang mufassir di zamannya- dia menulis tafsir Al-Qur’an dalam 30.000 kertas dan beliau termasuk ulama yang sangat menjaga waktunya dan memaksimalkan waktunya dengan belajar, mengajar, mengarang selain memaksimalkan ibadah yang lainnya. Dan diantara manaqibnya juga, setiap hari beliau menulis sebanyak 40 karangan. Dan itu beliau lakukan selama 40 tahun lamanya.
  7. Diantara manaqib Hammad bin Salamah yang diriwayatkan oleh muridnya adalah: “Demi Allah SWT… Aku tidak pernah melihat dia tertawa sama sekali karena dia sibuk dengan meriwayatkan hadits Nabi atau membaca Al-Qur’an atau bertasbih atau sholat. Dan jikalau ada seseorang yang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan meninggal besok.” Maka dia tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk ditambahnya karena memang waktu-waktunya penuh dengan amal ibadah.”
  8. Berkata Mufaddhol bin Yunus kepada Muhammad bin Nadhor yang tampak kepadanya dalam keadaan sedih, “Apa yang terjadi kepadamu?” Maka dia berkata, “Telah berlalu satu malam dari umurku dan aku tidak melakukan suatu amalan pada malam itu. Inna lillah wa inna ilayhi rooji’uun…”
  9. Suatu waktu datang Mu’awiyah bin Khodij kepada Sayyidina Umar bin Khottob yang ingin memberikan kabar gembira dengan diraihnya kemenangan dan dikuasainya Iskandaria bagi kaum muslimin. Dia datang ke madinah bertepatan dengan waktu qoilulah (waktu yang biasanya digunakan oleh para sahabat untuk tidur sejenak), sehingga dia mengira bahwasanya Sayyidina Umar dalam keadaan tidur. Tapi kemudian ada yang memberitahukan bahwasanya dia tidak tidur pada waktu itu. Bertemulah dia dengan Sayyidina Umar, maka Sayyidina Umar berkata, “Jika aku tidur di siang hari, berarti aku telah melalaikan hak rakyatku. Dan jika aku tidur pada malam hari, maka berarti aku telah mengabaikan hak-hak Allah SWT. Maka bagaimana bisa tidur diantara dua waktu itu wahai Mu’awiyah?”
  10. Berkata Fudhail Bin Iyadh kepada seseorang, “Berapa umurmu?” Maka dia berkata, “60 tahun.” Lalu dia berkata, “Engkau semenjak 60 tahun telah berjalan menuju Allah SWT dan hampir saja engkau akan sampai kepada-Nya.” Maka orang tersebut berkata, “Wahai Abu Ali… Innalillahi wa inna ilayhi rooji’un…” Maka Fudail berkata kepadanya, “Apakah kamu tahu apa yang engkau katakan?” Maka orang tersebut menjawab, “Aku katakan innalillahi wa inna ilayhi rooji’un.” Maka Fudail berkata kepadanya, “Apakah kamu tahu tafsirannya?” Maka orang itu berkata, “Jelaskan kepadaku wahai Abu Ali!” Maka dia berkata, “Perkataanmu –innalillahi- seakan-akan engkau mengatakan, “Aku ini hanyalah untuk Allah SWT, sebagai hamba-Nya dan kepada-Nya aku akan kembali.” Barangsiapa yang mengetahui bahwasanya dia adalah hamba Allah SWT dan dia akan kembali kepada-Nya, maka ketahuilah bahwasanya dia pasti akan diletakkan di atas kursi pesakitan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. Dan barangsiapa yang mengetahui bahwasanya dia akan dimintai pertanggungjawaban, maka hendaknya dia harus mempersiapkan tanggung jawab tersebut.” Kemudian orang itu menjawab, “Lalu bagaimana caranya aku keluar dari kesulitan ini?” Maka Fudhail Bin Iyadh menjawabnya, “Hendaknya engkau menutupinya.” Maka orang itu berkata lagi, “Bagaimana caranya?” Kemudian Fudail berkata kepadanya, “Hendaknya kamu berbuat baik di sisa umurmu dengan harapan semoga Allah SWT mengampuni masa-masa yang lalu. Karena jika engkau isi sisa umurmu dengan keburukan, maka Allah SWT akan membalasnya dalam keburukanmu yang telah lalu maupun yang akan datang begitu pula yang tersisa.”

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives