Karna yang tidak punya Wirid ituseperti Qird (kera)

Wirid adalah suatu amalan dari membaca Al-Qur’an atau sholawat kepada Nabi, begitu pula membaca hizb dan wirid yang diajarkan oleh Nabi maupun para sholihin.Dan tidak seharusnya kita gunakan seluruh waktu itu untuk satu wirid tertentu atau satu aktivitassaja, walaupun wiridan tersebut paling afdholnya (utamanya) wirid atau paling afdholnya pekerjaan. Karena dengan demikian, maka akan kehilangan keberkahan daripada wirid-wirid lainnya maupun amalan-amalan lainnya karena setiap wiridan mempunyai pengaruh-pengaruh tertentu di dalam hati seseorang. Lain lagi dari segi cahayanya dan anugerahnya serta kedudukannya di sisi Allah SWT yang tidak didapatkan didalam wirid yang lainnya. Begitu pula tatkala kita melakukan suatu amalan-amalan tertentu saja, jika suatu waktu berpindah kepada amalan yang lainnya dan tidak beralih kepada amalan yang lainnya, maka akan tampak selanjutnya suatu perasaan bosan dan malas, begitu pula akan merasakan amalan-amalan itu membebani dirinya.

Sehingga pantas jika Ibn Atho’illah As-SyadzilyDan ketahuilah! Penting bagi seorang muslim untuk mengisi waktu-waktunya dengan wirid-wirid yang diajarkan oleh para sholihin, karena membaca wirid maupun hizb mempunyai pengaruh yang sangat besar di dalam mencerahkan hati dan menyinarinya, serta membelenggu seluruh anggota badannya kecuali untuk kebaikan. Akan tetapi wirid itu sendiri tidak akan tampak pengaruhnya maupun khasiatnya  berkata, “Tatkala Allah SWT mengetahui seorang manusia akan menjadi bosan dengan suatu aktivitas maupun amalan, maka Allah SWT memberikan amalan kebaikan itu beraneka ragam dan bukan hanya satu macam.” kecuali ketika kita membacanya dengan kontinyu dan istiqomah, dan membaca wirid-wirid tersebut pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai dengan kebiasaannya. Maka hendaknya seseorang membagi waktunya untuk wirid-wirid tertentu maupun amalan-amalan tertentu yang dia kontinyu didalam melaksanakannya pada waktu-waktu tersebut. Yang demikian itu untuk membiasakan diri guna menjaganya dan tidak ketinggalan wiridnya seperti yang biasa dilakukan. Dengan begitu, maka hawa nafsu seseorang akan tunduk kepadanya karena sudah dibiasakan setiap hari pada waktu-waktu yang telah ditentukan untuk membaca wiridnya maupun melaksanakan amaliah-amaliah yang telah ditentukannya pada waktu-waktu tersebut sehingga dirinya enggan untuk meninggalkan wirid-wiridnya, karena dengan meninggalkan wirid-wiridnya maka dia harus mengqodhonya (menggantinya) pada waktu yang lainnya, maka akan berat baginya untuk meninggalkannya atau memindahnya pada waktu yang telah ditentukan.

Dari pentingnya seorang muslim mempunyai wirid-wirid atau hizb-hizb yang dibacanya setiap hari, sehingga Al-Habib Abdurrahman As-Segaf berkata: “Barangsiapa yang tidak mempunyai wirid-wirid tertentu yang dia baca secara kontinyu, maka ketahuilah dia sesungguhnya adalah seekor kera.” Dan berkata sebagian ‘arif billah:“Pemberian-pemberian Allah SWT tergantung kepada wirid yang dibacanya. Maka barangsiapa yang tidak mempunyai wirid yang dibiasakan untuk mengisi waktu-waktunya pada setiap harinya, maka dia tidak akan mendapatkan suatu anugerah dari Allah SWT yang Allah SWT berikan di dalam hatinya.”

Sedangkan cara-cara membagi wirid-wirid yang hendaknya dibaca bagi seorang muslim adalah sehabis sholat subuh membiasakan diri untuk membaca wirdul latif karangan Al-Habib Abdullah Al-Haddad yang semuanya dikutip daripada hadits-hadits Rasulullah Sedangkan setelah sholat Maghrib membaca rotib Haddad yang juga dikutip dari hadits-hadits Nabi. Dan setelah sholat Isya’ membaca rotib Al-Atthas. Sebelum tidur membaca surat Al-Mulk dan pada sore hari atau malam hari membaca surat Waqiah., lalu kemudian diikuti dengan wirid Sakran karya Al-Habib Abu Bakar As-Sakran, hizb Bahr karya Abu Hasan As-Syadzili, dan hizb Nashr karya Al-Habib Abdullah Al-Haddad shohibur rotib, lalu diakhiri dengan pembacaan surat Yasin.

Hendaknya dia menentukan waktu-waktu tertentu untuk membaca sholawat dengan batasan tertentu, sehingga paling sedikit kita membaca sholawat kepada Nabi setiap harinya sebanyak 313, karena ulama mengatakan, “Paling sedikitnya membaca sholawat adalah sebanyak 313, membaca istighfar paling sedikitnya sebanyak 100 kali, membaca tasbih terutama al-baqiyyah as-sholihat:

sebanyak 100 kali.”
سُبحَانَ الله وَالحَمدُ لله وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله وَالله أَكبَر

Dan begitulah seterunya seharusnya seorang muslim menentukan wirid-wiridnya setiap harinya seperti contoh-contoh yang disebutkan tadi. Memilah-milih wirid-wirid yang dia mampu untuk membacanya yang semuanya itu untuk membentengi dirinya daripada kejahatan yang akan terarah kepadanya, menolak segala macam bencana serta waba, dan juga bala’, begitu pula melindungi dirinya daripada belenggu dosa yang akan menjerumuskannya ke dalam murka Allah SWT.

Dan hendaknya ketika kita akan menentukan wirid-wirid tertentu yang hendak kita baca, tidak melampaui batas kemampuan kita. Tetap dalam batasan-batasan yang normal, yaitu tidak terlalu sedikit sehingga mengentengkan dan membuang-buang waktu, dan tidak terlalu banyak sehingga membosankan dan membebani. Oleh karenanya Nabi bersabda:

وعن عائشة رضي الله عنها قالت: سئل النبي صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الأَعمَال أَحَبُّ إِلَى الله؟ قال: أَدوَمُهَا وَإِن قَلَّ. (رواه البخاري)

Sebaik-baik amalan yang dipandang oleh Allah SWT adalah yang kontinyu didalamnya walaupun sedikit. (H.R. Bukhori)

Nabi bersabda dalam hadits lain:

خُذُوا مِن الأَعمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ الله لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا. (متفق عليه)

Hendaknya kalian melaksanakan amaliah-amaliah kebaikan yang kalian mampu melaksanakannya. Karena sesengguhnya Allah SWT tidak akan bosan sehingga kalian yang bosan. (Muttafaq Alaih)

Dan termasuk daripada tipuan syaitan adalah pada awal mulanya dia menghiasi seseorang untuk memperbanyak dzikir-dzikir tertentu atau amaliah-amaliah tertentu dengan tujuan dia terbebani dan merasa bosan setelahnya, sehingga dia tidak melakukannya kembali.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.

*