Website Resmi Habib Segaf Baharun

Apakah Kalian Sadar Termasuk Sasaran Setan?

Ketahuilah bahwasanya hati perumpamaannya seperti menara yang didirikan yang mempunyai pintu-pintu masuk dari berbagai macam keadaan. Dan diumpamakan juga seperti sebuah sasaran yang menjadi sasaran panah dari segala arah. Atau seperti cermin yang akan tampak gambar dalam cermin itu setiap hal yang ada di depannya. Satu gambar demi satu gambar dan sama sekali tidak akan sunyi daripada gambar-gambar yang ada dimukanya. Baik gambaran, khayalan atau lintasan semuanya bermuara daripada panca indera atau dari batinnya.

Dari panca indera misalnya, apapun yang dilihat oleh manusia, yang didengar oleh manusia, yang dirasakan oleh manusia, ataupun yang dicium oleh manusia begitu pula yang diraba oleh manusia pasti akan terlintas dalam hatinya. Dan lintasan -lintasan itu menjadi sebab atau menjadi pintu terbuka untuk syaitan menggoda orang itu. Atau dari batin seperti hayalan, hawa nafsu, marah, maupun tabiat akhlak yang tersusun pada diri manusia. Maka kapan hal itu terlintas pada hati manusia, menjadi sebuah pintu jalan syaitan menuju masuk untuk membisiki dan menggoda manusia itu.

Kesimpulannya, bahwasanya hati itu akan selalu menjadi sasaran daripada lintasan-lintasan yang diciptakan oleh syaitan, dengan sebab-sebab dzohir yang bermuara kepada panca indera atau dengan sebab-sebab batin yang bermuara pada hawa nafsu serta tabiat manusia.

Dan hal itu terus menerus berlaku pada diri manusia sehingga dia mati nanti. Karena lintasan-lintasan hati itulah yang menggerakkan kemauan dan niat serta azzam, begitu pula kemauan itu akan terlaksana setelah terlintas di dalam hati. Maka semua tindakan serta ucapan bermuara dan berasal daripada lintasan, dan lintasan itu akan menggerakkan kemauan, dan kemauan akan menggerakan keinginan, dan keinginan itu akan menggerakkan niat seseorang dan niat itulah yang menggerakkan seluruh anggota badan untuk melakukan sebuah tindakan atau ucapan.

Yang perlu diketahui bahwasanya lintasan yang mengerakkan keinginan dari seorang manusia untuk berbuat kebaikan itu disebut dengan ilham dan itu berasal daripada malaikat yang memang Allah SWT ciptakan untuk memberikan lintasan-lintasan yang baik pada diri manusia serta memberikan wawasan kepadanya untuk menolak apa yang dibisikkan oleh syaitan. Sedangkan bisikan-bisikan ataupun lintasan-lintasan yang mengarahkan dan memerintahkan seorang manusia untuk berbuat sebuah keburukan yang berupa dosa dan noda, maka hal itu disebut dengan was-was dan itu berasal daripada syaitan. Keduanya merupakan ciptaan Allah SWT untuk menguji manusia. Dengan keduanya itulah maka Allah SWT akan menentukan hamba-hamba-Nya yang layak untuk dimasukkan ke dalam syurga-Nya dan hamba-hamba-Nya yang layak untuk dimasukkan ke dalam neraka-Nya.

Memang pada dasarnya Allah SWT menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan sesuai dengan firman-Nya:

قال الله تعالى : وَمِن كُلِّ شَىءٍ خَلَقنَا زَوجَينِ (الذاريات: ٤٩)

Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. (Q.S. Adz-Dzariyat:49)

Maksud daripada ayat itu adalah Allah SWT menciptakan lintasan baik sekaligus lintasan yang buruk. Allah SWT menciptakan malaikat yang melintaskan kebaikan dalam hati yang disebutkan dengan ilham dan Allah SWT juga menciptakan syaitan yang melintaskan pada hati manusia berupa lintasan-lintasan untuk berbuat keburukan dan itu disebutkan dengan was-was. Allah SWT menciptakan malam dan siang, Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan. Hanya Allah SWT saja yang tidak mempunyai pasangan, selainnya diciptakan berpasang-pasangan. Dialah Dzat yang Maha menentukan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan keselarasan.

Menjelaskan hal itu Nabi pernah bersabda dalam haditsnya yang berbunyi:

قال صلى الله عليه وسلم : فِي القَلبِ لُمَّتَانِ لُمَّةٌ مِن المَلَكِ ، إِيعَاذٌ بِالخَيرِ وَتَصدِيقٌ بِالحَقِّ فَمَن وَجَدَ ذَلِكَ فَليَعلَم أَنَّهُ مِن اللهِ سُبحَانَهُ وَليَحمَدِ اللهَ ، وَلُمَّةٌ مِن العَدُوِّ إِيعَاذٌ بِالشَّرِّ وَتَكذِيبٌ بِالحَقِّ وَنَهيٌ عَن الخَيرِ ، فَمَن وَجَدَ ذَلِكَ فَليَستَعِذ بِاللهِ مِن الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ ، ثُمَّ تَلَا قَولَهُ تَعَالَى : (الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاء)(البقرة/268( . (رواه الترمذي والنسائي)

Di dalam hati ada 2 lintasan, yaitu lintasan dari malaikat yang selalu memberikan janji dengan kebaikan dan mengarahkan kepada kebenaran. Maka barangsiapa yang mendapatkan lintasan semacam itu hendaklah ia mengetahui bahwa itu datangnya daripada Allah SWT dan hendaknya dia bersyukur kepada-Nya. Dan satu lintasan lagi yang datang dari musuh (syaitan) yang selalu memberikan janji dengan kejahatan dan keburukan, membohongkan kepada kebenaran serta mencegah dari perbuatan kebaikan. Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, hendaknya dia memohon perlindungan kepada Allah membaca firman Allah SWT, “Sesungguhnya syaitan menjanjikan kalian dengan kemiskinan dan memerintahkan kalian untuk berbuat kejahatan” (Al-Baqoroh:268). (H.R. Tirmidzi-Nasa’i)daripada syaitan yang terkutuk. Lalu Nabi

Berkata Imam Al-Hasan, “Bahwasanya selalu akan ada dua lintasan hati pada manusia, satu lintasan hati berasal dari Allah SWT dan satu lintasan lainnya berasal dari musuh (syaitan). Semoga Allah SWT merahmati seorang hamba yang selalu melaksanakan semua lintasan yang datang daripada Allah SWT dan selalu menolak serta melawan semua lintasan yang datang dari musuh.”

Pada dasarnya hati manusia dapat menerima lintasan yang diciptakan oleh syaitan maupun lintasan yang diciptakan oleh malaikat dengan kadar kesetaraan yang sama. Hanya saja terkadang manusia itu berbeda jika salah satu daripada dua sisi tersebut lebih kuat, misalnya lebih kuat untuk menerapkan tuntutan dan keinginan hawa nafsu maka berarti telah tampak pada dirinya penguasaan syaitan di dalam hatinya sehingga hati itu menjadi tempat berlalu lalangnya syaitan. Karena hawa nafsu merupakan ladang daripada syaitan itu dan tempat gembalanya. Akan tetapi jika seorang manusia selalu melawan hawa nafsunya dan tidak membiarkannya mengendalikan dirinya serta meniru akhlaknya para malaikat dan mengikuti ajakannya, maka jadilah hati itu tempat bersemayamnya para malaikat dan tempat berlalu lalangnya para malaikat itu. Dan tatkala hati itu belum lepas daripada hawa nafsu, marah, rakus, tamak dan panjang angan-angan serta yang lainnya daripada sifat manusia dan tabiatnya yang selalu tidak kenyang-kenyang mengikuti tuntutan hawa nafsunya, maka hati tersebut menjadi tempat wira-wirinya syaitan untuk merusak hati itu. Oleh karena itu Nabi bersabda:

 

قَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنْ الْجِنِّ ، قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ وَإِيَّايَ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ . (رواه مسلم وأحمد

Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali ada syaitannya. Maka para sahabat bertanya, “Walaupun engkau wahai Rosul?” Maka Nabi   menjawab, “Dan aku juga, hanya saja Allah SWT telah membantuku untuk mengatasinya sehingga aku selamat darinya dan dia tidak memerintahkan aku kecuali dengan kebaikan.” (H.R. Muslim-Ahmad)WT

Kesimpulannya tatkala hati manusia itu tidak terlepas daripada bermuaranya lintasan-lintasan syaitan (was-was) dan juga bermuaranya lintasan-lintasan malaikat (ilham), maka sebagaimana telah disebutkan didalam hadits Nabi jika kita itu memenangkan lintasan malaikat berarti kita menjadi manusia yang baik. Dan sebaliknya, jika kita mengikuti lintasan yang diciptakan oleh syaitan maka kita akan menjadi manusia yang jahat.

Untuk mengikuti lintasan malaikat dan melawan lintasan syaitan, membutuhkan dan memerlukan kepada sebuah ilmu berupa sebuah konsep untuk mengatasinya. Maka dari itu penting kiranya untuk kita mempelajari apa yang dijelaskan nantinya supaya kita lebih sigap hingga bersiap untuk melawan godaan hawa nafsu serta bisikan para syaitan dan akan selalu memenangkan lintasan dan bisikan malaikat ketika kedua lintasan tersebut beradu dan saling menjatuhkan. Karena selama manusia itu hidup, maka selama itu pula syaitan tidak akan mengalah dan tidak akan menyerah untuk selalu menggoda dan membisiki manusia. Sehingga pantas tatkala seseorang datang kepada Imam Hasan Al-Basri dan berkata kepadanya, “Wahai Aba Sa’id… apakah syaitan itu tidur?” Maka beliau tersenyum seraya berkata, “Kalau misalnya syaitan itu tidur, maka pasti kami akan rehat darinya.”

Tidak mungkin kita akan selamat dari bisikan syaitan akan tetapi disitu ada jalan untuk melawannya dan juga menguatkan serta memperbesar lintasan dan ilham dari malaikat sehingga dia terhindar dari bisikan dan mudah untuk mengendalikannya. Sebagaimana Nabi telah bersabda:

قال : إِنَّ المُؤمِنَ يُنضِي شَيطَانَهُ كَمَا يُنضِي أَحَدُكُم بَعِيرَهُ فِي السَّفَرِ . (رواه أحمد)

Sesungguhnya seorang mukmin dia akan mengarahkan dan melawan syaitannya sebagaimana seseorang dari kalian mengarahkan dan memaksa untanya didalam perjalanannya. (H.R. Ahmad)

Berkata Qays bin Hajjaj seorang sufi: “Telah berkata kepadaku syaitanku, “Ketika aku masuk kepadamu dalam keadaan aku seperti seekor unta yang sangat besar, akan tetapi sekarang aku menjadi kecil layaknya seekor burung emprit.” Maka aku berkata kepadanya, “Kenapa bisa terjadi hal yang demikian itu?” Lalu dia menjawab, “Engkau telah melelehkan aku dengan banyaknya engkau berdzikir kepada Allah SWT.”

Begitulah keadaan orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT, akan mudah baginya untuk menutup pintu-pintu masuknya syaitan dan menjaganya dengan penjagaan yang sangat kuat. Karena memang pintu-pintu masuknya syaitan sangatlah banyak sedangkan pintu masuknya malaikat hanyalah satu, dan pintu malaikat yang satu itu terkadang disarukan dan disamarkan serta ditumpangi oleh pintu-pintu yang banyak itu yang sengaja dibuat oleh syaitan.

Perumpamaan dari seorang manusia dengan hatinya yang selalu menjadi sasaran daripada was-was para syaitan dan ilham dari para malaikat seperti seorang yang melakukan sebuah perjalanan di suatu lembah yang banyak jalannya serta berliku-liku yang sulit untuk ditelusuri pada malam hari yang sangat gelap. Hampir saja dikatakan orang itu tidak akan selamat, karena tidak mengetahui dengan jalan yang sebenarnya kecuali jika dia mempunyai mata hati yang terbuka atau menunggu terbitnya matahari di pagi hari yang akan menyinari pandangannya. Hanya dengan dua jalan itu, dia akan mengetahui jalan yang tepat yang akan mengeluarkannya dari lembah itu. Maka disini mata hati itu adalah hati mereka yang telah dijernihkan dan dibersihkan dengan ketaqwaan. Sedangkan matahari yang menyinari yang akan membantunya untuk keluar dari lembah itu dari jalan-jalan yang berliku adalah sebuah ilmu yang berasal daripada kitab Allah SWT dan hadits Nabi yang diriwayatkan dari Imam Ad-Darimi: yang merupakan sebuah konsep menuju ke jalan yang benar, jalan yang disana ada kebahagiaan, keamanan, kesejahteraan dan kesentosaan.

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives