Website Resmi Habib Segaf Baharun

Maksiat itu tidak butuh niat

     Perlu diketahui bahwasanya niat tidak berlaku pada perbuatan maksiat. Karena niat itu adalah sebuah perantara untuk suatu menjadikan perbuatan yang wajib dan sunnah menjadi berlipat-lipat pahalanya, dan pekerjaan yang mubah menjadi pekerjaan ibadah. Lain halnya jika seseorang berniat ketika melakukan maksiat, maka niatnya itu tidak berfungsi dan tidak berguna sama sekali.

Sebagaimana seseorang tidak bisa mensucikan suatu benda najis ainy(setiap benda najis) misalnya air kencing, tidak akan bisa selama-lamanya untuk disucikan lain halnya air yang tercampur dengan air kencing, maka dapat disucikan airnya dengan ditambah dengan air 2 qullah.Adapun air kencing itu sendiri tidak dapat disucikan dengan dengan apapun.Begitu pula suatu perbuatan maksiat tidak dapat berubah menjadi sebuah amal ibadah dengan niat apapundan akan tetap berdosa karenanya bagaimanapun niatnya. Misalnya ketika seseorang berkumpul dengan teman-temannya yang sedang berghibah, lalu dia menimpalinya dan menambah ghibahnya atau dia tetap duduk bersama mereka dengan niat untuk menyenangkan hati mereka, maka niat itu tidak berguna dan tidak dapat berubah dosanya dan dia tergolong seperti mereka yang berghibah. Seharusnya jika dia tidak bisa amar ma’ruf nahi munkar di tempat itu, maka hendaknya dia jangan menjadi salah satu dari mereka dengan kemudian dia meninggalkan tempat itu. Jika dia tetap disana, maka dia termasuk salah satu daripada orang yang berghibah tersebut dan niatnya tidak berpengaruh apapun karena berghibah merupakan sebuah perbuatan dosa.

Contoh kedua ketika seseorang melihat sebuah kemungkaran tapi dia diam atau tidak amar ma’ruf yang seharusnya dia lakukan. Dan yang menjadikannya tidak melakukannya, dia mengaku karena berniat untuk menjaga diri daripada menyakiti hati seseorang secara langsung. Maka yang demikian itu berarti orang tersebut masuk kedalam dosanya dan termasuk orang yang melakukannya.

Begitu pula sama halnya jika niatnya itu bukan niat yang baik. Karena jika suatu tindakan, ucapan maupun lintasan akan mengandung pahala jika diniati dengan niat-niat yang baik, dan bukan berniat dengan niat yang buruk. Adapun jika seseorang berniat dalam tindakan maupun ucapannya tersebut dengan niat yang tidak baik walaupun tindakan dan ucapan tersebut baik, maka niat-niat yang buruk itu akan merusaknya dan akan menjadikan perbuatan yang baik tersebut menjadi perbuatan yang tidak baik.

Sebagaimana orang-orang yang melakukan amal soleh tapi diniati dengan niat-niat dunia, misalnya untuk mendapatkan harta atau mendapatkan jabatan. Seperti mereka yang sholat supaya dikatakan orang yang rajin sholat, dia berpuasa supaya dikatakan seorang yang sufi, dia melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar supaya banyak orang memilihnya dan memberikan jabatan kepadanya. Maka niat yang tidak baik tersebut menjadikan ibadah-ibadah yang dilakukannya menjadi hampa tanpa pahala, bahkan menjadi perbuatan-perbuatan maksiat atau dosa.

Maka dari itu, hendaknya kita berusaha sebelum melakukan suatuibadah untuk berniat meraih ridho Allah dan menggapai serta menjaring pahala-Nya. Dan ketika melakukan tindakan yang mubah, dengan niat untuk menggapai energi dan kekuatan guna melaksanakan ibadah kepada Allah SWT

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives