Website Resmi Habib Segaf Baharun

Benarkah Adanya Manfaat Lapar?

Manfaat dari Rasa Lapar dan Bahaya dari Kekenyangan

Rasa lapar disini yang dimaksudkan bukanlah harus dengan melaparkan diri, akan tetapi makan secukupnya tidak berlebihan, tidak sampai kekenyangan dan sering berpuasa sebagaimana yang telah disunnahkan. Baik itu puasa dahr (puasa terus menerus) atau puasa dawud (satu hari berpuasa, satu hari berbuka) ataupun berpuasa setiap hari Senin dan Kamis, ditambah lagi dengan tiga hari ayyamul bidh yaitu pada tanggal 13, 14, 15 dan ayyamus suud yaitu pada tanggal 28, 29 dan 30.

Sedangkan faedah daripada membiasakan dan melatih diri daripada rasa lapar itu adalah beberapa hal berikut ini :

  1. Menjernihkan Hati Serta Membuka Mata Hati

Salah satu manfaat dari perasaan lapar yang paling dasar adalah menjernihkan hati dan membukanya. Sesungguhnya rasa kenyang pada seseorang akan menyebabkannya menjadi orang yang sulit untuk berpikir dan tidak cerdas, membutakan hati, dan memperbanyak uap di dalam perut yang akan membumbung tinggi hingga ke otak dan menyebabkan berat untuk melakukan suatu ibadah dan akan menyebabkan rasa kantuk yang tidak tertahankan. Dan hal itu dapat dibuktikan kepada seorang anak jika banyak makannya, maka akan sulit dia menghafal dan akan sulit dia berpikir serta akan sulit dia memahami dan menjangkau sesuatu yang diajarkan kepadanya.

Berkata Sulaiman Ad-Daroni, “Hendaknya engkau membiasakan diri untuk merasakan lapar. Karena sesungguhnya itu menghinakan hawa nafsu dan mengekangnya serta melenturkan hati nurani dan membukanya. Dan yang demikian itu akan menyebabkan seseorang mendapatkan ilmu laduni. Sebagaimana hal itu disebutkan didalam hadits-hadits berikut ini:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ : أَحيُوا قُلُوبَكُم بِقِلَّةِ الضَّحكِ وَقِلَّةِ الشَّبعِ ، وَطَهِّرُوهَا بِالجُوعِ ، تَصفُو وَتَرِقُّ  . (احياء علوم الدين)

Hendaknya kalian hidupkan hati-hati kalian dengan sedikit tertawa dan sedikit merasa kenyang. Dan sucikan juga hati itu dengan rasa lapar, maka niscaya hati tersebut akan menjadi jernih dan menjadi lentur karenanya. (Ihya’ Ulumuddin)

(قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم: “مَن أَجَاعَ بَطنَهُ عَظُمَت فِكرَتُهُ وَفَطِنَ قَلبُهُ”. (إحياء علوم الدين

Barangsiapa yang melaparkan perutnya maka akan mudah dia bertafakkur dan akan menjadi terbuka hati nuraninya. (Ihya’ Ulumuddin)

(قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ ، وَزَكَاةُ الْبَدَنِ الجُوعُ ” . (رواه ابن ماجه

Segala sesuatu itu harus ada zakatnya. Sedangkan zakat badan itu adalah dengan rasa lapar (melaparkannya dengan cara berpuasa). (H.R. Ibn Majah)

  1. Rasa lapar akan menyebabkan hati lentur dan jernih serta lunak

Jika hati kita telah jernih, lentur dan lunak maka hati itu akan menjadi siap untuk mendapatkan kelezatan dari kesabaran dan akan merasakan kelezatan dengan berdzikir kepada Allah SWT . Karena berapa banyak orang yang berdzikir dengan Lidah, bahkan berusaha untuk hadir hatinya akan tetapi hati itu tidak merasakan kelezatan serta tidak ada pengaruhnya pada dirinya. Seakan-akan antara dirinya dengan dzikir tersebut ada sebuah benteng hijab yang sangat kuat dari saking kerasnya hatinya. Akan tetapi kadang-kadang pada waktu-waktu tertentu dia sangat terkesan dengan dzikir dan merasakan kelezatan yang sangat besar didalam munajatnya. Dan pasti penyebab utamanya pada saat itu karena kosongnya perut kita. Sehingga pantas jika Abu Sulaiman Ad-Daroni berkata, “Paling nikmatnya ibadah yang aku lakukan, ketika perutku dalam keadaan kosong.”

Berkata Imam Junaid, “Ketika seseorang telah menjadikan sebuah penghalang antara dirinya dan hatinya dengan suatu penghalang yaitu perut yang kenyang, maka bagaimana mungkin dia akan merasakan nikmatnya bermunajat kepada Allah SWT?”

Berkata Abu Sulaiman Ad-Daroni, “Jika seseorang itu lapar dan haus, maka hatinya itu akan lunak dan jernih. Dan jika dia kekenyangan maka mata hatinya akan buta dan kabur.”

Manfaat daripada berpengaruhnya hati ketika bermunajat dengan Allah SWT  akan memudahkannya untuk bertafakkur dan mendapatkan ma’rifat dari Allah SWT yang merupakan karunia yang agung dari-Nya. Dan penyebab semua itu karena kosongnya perut dari makanan yang  mengenyangkan.

  1. Rasa lapar akan menyebabkan diri merasa hina serta hilang sifat sombong dan congkak

Dengan rasa lapar dan dahaga, maka akan mendapatkan dirinya itu merasa rendah serta hilang sifat sombong, sifat congkak, dan lain sebagainya yang merupakan pangkal dari segala macam kemaksiatan dan segala sifat yang menjauhkan antara manusia dan Allah SWT. Karena hawa nafsu tidak akan hina dan dina dengan suatu mujahadah kecuali setelah hina dan dina dengan rasa lapar. Di saat itulah maka nafsu itu akan tunduk dan lunak kepada Tuhannya. Karena sesungguhnya kebahagiaan seseorang itu adalah jika dia selalu merasa bahwasanya Allah selalu melihatnya dan mengawasinya, dan menyaksikan atau merasa bahwasanya dirinya adalah hamba yang hina yang sangat membutuhkan kepada karunia daripada Tuhannya dan semua itu karena sebab rasa lapar. Oleh karena itu pantas jika Nabi  menolak ketika dunia dan simpanannya disodorkan kepadanya. Bahkan beliau menjawabnya:

قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم : لَا بَل أَجُوعُ يَومًا وَاَشبَعُ يَومًا فَإِذَا جُعتُ صَبَرتُ وَتَضَرَّعتُ وَإِذَا شَبِعتُ شَكَرتُ . (رواه الترمذي)

Tidak, akan tetapi aku lebih memilih untuk lapar sehari dan kenyang sehari. Ketika aku lapar aku sabar dan aku memohon kepada Allah SWT. Dan ketika aku kenyang aku bersyukur kepada-Nya. (H.R. Turmudzi)

 

  1. Rasa Lapar Mengingatkan kepada ujian, cobaan dan siksa Allah SWT bagi yang menentang-Nya

Dengan rasa lapar yang dirasakan oleh seorang manusia, dia tidak akan lupa kepada ujian Allah SWT dan cobaannya serta siksa bagi yang menentangnya. Dan selalu mengingatkannya kepada mereka yang mendapatkan ujian dari Allah SWT dengan ujian-Nya, terutama yang berkaitan dengan kefakiran. Karena biasanya seorang yang sedang kenyang, maka dia akan melupakan orang yang sedang lapar. Dan orang yang merasa lapar, dia tidak akan lupa kepada orang yang sepertinya.

Padahal seseorang yang cerdas itu tidak akan menyaksikan suatu ujian dan cobaan yang dihadapi oleh orang lain kecuali pasti dia akan mengingat dengan adzab Allah SWT nanti di akhirat. Maka seorang yang cerdas itu akan mengingat dengan rasa dahaganya, dahaga manusia ketika berada di padang mahsyar. Dan ketika lapar, dia akan mengingat laparnya penghuni neraka ketika disiksa. Dengan begitu dia akan memberikan makan kepada orang yang membutuhkan dengan harapan dia dapat dibebaskan daripada adzab dan siksa kelak di akhirat karena kelalaiannya kepada perintah dan larangan Allah SWT. Karena biasanya seseorang ketika tidak ada kehinaan pada dirinya, tidak ada rasa sakit, tidak ada ujian dan cobaan, maka umumnya dia akan melupakan akhirat.

Maka seharusnya yang dilakukan oleh seorang hamba itu selalu mengingat dan  membandingkan cobaan dunia dengan cobaan akhirat. Sedangkan paling mudah untuk merasakan cobaan orang lain dan cobaan yang akan dirasakan kelak di akhirat adalah sifat lapar. Karena tatkala kita lapar, kita akan merasakan sendiri apa yang dirasakan oleh orang yang lapar yang tidak mempunyai makanan untuk dimakan. Dengan begitu akan lunak hatinya untuk bersedekah kepada mereka semua.

Sebagaimana dikatakan kepada Nabi Yusuf, “Kenapa engkau berusaha untuk lapar padahal didalam kekuasaanmu simpanan bumi yang sangat melimpah?” Maka dia menjawab, “Aku takut untuk merasa kenyang sehingga dengan begitu aku melupakan orang-orang yang sedang lapar.”

  1. Mematahkan dan menghancurkan syahwat untuk bermaksiat

Ini adalah manfaat yang paling besar. Karena pangkal daripada segala macam kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia itu adalah kekenyangan. Karena tidak mungkin seseorang akan mempunyai kekuatan kalau tidak karena makanan yang dikonsumsinya. Tatkala berlebihan, akan berlebihan pula syahwatnya. Dan ketika sedang, maka akan sedang pula syahwat yang datang kepadanya. Dan ketika kita melaparkannya, maka anggota badannya akan lemah untuk melampiaskan dorongan hawa nafsunya. Dengan begitu dia akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, yaitu mengekang dan mengendalikan hawa nafsunya. Sedangkan seorang yang celaka itu adalah seorang yang dikuasai oleh hawa nafsuya. Perumpamaannya ketika kita mempunyai kuda yang liar, maka ketika kuda itu dalam keadaan kenyang, keliarannya pun akan bertambah. Dia akan mengamuk, menerjang ke sana sini. Tapi tatkala dia sedang lapar, maka dia tidak akan banyak bergerak dan lebih mudah untuk dikekang dan diatur. Sebagaimana dikatakan oleh Dzunnun Al-Mishri, “Aku tidak pernah merasa kenyang kecuali aku berbuat maksiat atau terlintas untuk bermaksiat.”

Berkata sayyidah Aisyah , “Pertama kali bid’ah yang muncul setelah era Nabi adalah makannya seseorang hingga kenyang.”

Minimal yang akan didapatkan oleh seorang manusia ketika lapar daripada kemanfaatan adalah tidak akan timbul pada dirinya syahwat yang terkait dengan ucapan maupun kemaluan. Karena ketika seorang itu lapar, maka tidak akan bergerak syahwatnya karena dia lemah. Begitupula ketika seorang itu lapar, maka dia enggan untuk berbicara karena lemahnya badan.

  1. Rasa Lapar Dapat Mencegah Banyak Tidur dan Begadang

Karena biasanya orang yang kenyang itu akan minum banyak dan jika minumnya banyak, maka akan banyak pula tidurnya. Oleh karenanya ketika seorang syekh dihadirkan kepadanya makanan, maka dia berkata, “Wahai murid-muridku… Janganlah kalian makan banyak! Karena akibatnya kalian akan minum banyak. Dan jika kalian minum banyak, akan banyak tidurnya. Dan barangsiapa yang banyak tidurnya, maka dia akan banyak penyesalannya kelak di akhirat.”

Dan telah sepakat 70 ulama dari kalangan shiddiqin bahwasanya banyak tidur itu disebabkan karena banyak minum.

  1. Dengan Rasa Lapar Akan Mudah Baginya untuk Kontinyu dalam Beribadah

Karena banyak makan akan mencegah seseorang untuk banyak beribadah. Apalagi makanan itu tidak disiapkan oleh orang lain, maka akan menghabiskan waktu yang banyak. Dimana dia harus membeli bahan-bahan makanan yang akan dimasaknya, lalu kemudian memasaknya dan menghidangkannya serta menyantapnya kemudian. Sehingga waktu-waktu semua itu berlalu bukan untuk ibadah kalau tidak diniati dengan niat ibadah. Dimana andaikata waktu itu digunakan untuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah SWT serta melakukan ibadah-ibadah yang lainnya, alangkah beruntungnya dia.

Saya teringat kepada salah satu guru saya yang bernama syekh Jabir, salah satu pengajar di pondok As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Dimana dia ketika akan makan, nasinya itu dicampur dengan kuah, lalu kemudian dituang di atasnya pepsi, lalu diberikan lagi teh, kemudian ditambahkan lauk pauk, kemudian dihirupnya sampai habis. Maka tatkala kami bertanya, “Ya syekh… itu bukan cara makan kebanyakan orang.” Maka dia menjawab, “Apa bedanya dengan kalian? Kalian makan dulu. Setelah makan, minum pepsi. Setelah minum pepsi, minum teh. Itu membuang-buang waktu. Maka lebih baik seperti caraku ini. Kita campur kemudian minum sekaligus. Berarti kan sudah menghemat waktu yang banyak dan bisa digunakan untuk berdzikir kepada Allah SWT pada sisa waktu itu.”

Inilah gambaran daripada seseorang yang benar-benar menghargai waktu dan mengetahui bahwasanya waktu adalah modal utama yang datang daripada Allah SWT .

  1. Dia akan mendapatkan kesehatan badan dan jauh daripada berbagai macam penyakit

Segala macam penyakit sebab utamanya adalah banyaknya makan. Karena berbagai makanan yang kita makan mempunyai unsur-unsur yang jika unsur itu tidak dibutuhkan didalam diri manusia, maka akan membahayakannya dan menyebabkan suatu penyakit pada manusia itu.

Diriwayatkan suatu waktu kholifah Harun Ar-Rasyid mengumpulkan empat dokter yang paling ahli di bidangnya. Satu berasal dari India, yang kedua berasal dari Rum, yang ketiga dari Irak, yang keempat dari Arab. Maka dia minta dari setiap orang dari mereka untuk mensifatkan suatu obat yang tidak ada duanya dan tidak ada penyakit di dalamnya. Berkata dokter yang berasal dari India bahwasanya daun Ihlij itu salah satu daunan yang tumbuh di India dan banyak di Cina yang berwarna hitam, itu adalah sebuah obat yang tidak ada duanya dan tidak ada unsur penyakit didalamnya. Berkata dokter yang berasal dari Irak bahwasanya Jintan putih adalah obat yang tidak ada duanya. Berkata dokter dari Rum bahwasanya air yang hangat adalah obat yang tidak ada duanya dan tidak menyebabkan penyakit apapun. Kemudian dokter yang berasal dari kalangan Arab berkata bahwasanya daun Ihlij itu membuat keasaman daripada perut meningkat dan ini merupakan sebuah penyakit. Sedangkan jintan putih membuat licin perut besar dan ini juga merupakan penyakit. Dan air hangat itu membuat lentur perut besar dan ini juga penyakit. Maka mereka berkata, “Lalu apa menurutmu obat yang tidak ada duanya?” Maka dia menjawab, “Obat yang tidak ada duanya itu adalah kamu tidak memakan suatu makanan kecuali ketika kamu menginginkannya (lapar). Dan sebelum kamu kenyang, kamu berhenti dari memakannya.” Maka kemudian mereka setuju dan menyepakatinya.

Dan adapun Nabi kita Muhammad  telah memberikan batasan yang sangat bijak dan sangat berarti di dalam ilmu medis. Dia mengajarkan kepada manusia bagaimana cara makan yang cukup dan tidak membahayakan. Maka beliau berkata:

قال رسول الله ‏صلى الله عليه وآله وسلم : فَإِن كَانَ لَابُدَّ فَاعِلًا فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ . (رواه الترمذي)

“Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (H.R. At-Tirmidzi)

  1. Rasa Lapar akan Meringankan Nafkahnya

Karena yang biasa makan sedikit, akan cukup pula harta yang sedikit untuk menopangnya. Sedangkan sebaliknya, yang biasa makan berlebihan, maka tidak akan cukup harta yang sedikit untuk menopangnya. Sehingga barangkali kebutuhannya yang banyak itu akan menyebabkannya menerobos sesuatu yang dilarang sehingga dia akan terperosok dan terjerumus ke dalam dosa demi dosa. Sedangkan sebab kerakusannya kepada dunia itu yang paling utama adalah karena syahwat perut dan syahwat kemaluan. Dan sedikit makan adalah obat daripada dua hal yang disebutkan tadi.

  1. Rasa Lapar Akan Memberi Pengaruh Untuk Mengutamakan Orang Lain Dan Banyak Bersedekah

Dengan rasa lapar, dia dapat merasakan apa yang dirasakan orang-orang miskin dan para anak yatim sehingga akan menyebabkannya menyedekahkan hartanya. Dengan demikian, kelak ketika di akhirat dia akan dinaungi oleh shodaqohnya yang banyak itu. Berbeda dengan orang yang selalu makan berlebihan, biasanya dia tidak akan mengingat kepada orang yang lapar. Karenanya akan sedikit shodaqohnya. Oleh karena itu, disini kesimpulannya adalah hendaknya kita makan secukupnya atau dengan kata lain kita benar-benar menjalankan motto dari sebuah kesehatan, yaitu “Kita makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.” Dengan begitu, kita akan mendapatkan badan kita sehat jasmani maupun ruhani.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives