Website Resmi Habib Segaf Baharun

Omong Kosong Hanya Membuang Waktu

Ketahuilah bahwasanya keadaan kita yang terbaik adalah jika kita menjaga lidah dan mengekangnya untuk berbicara dengan yang tidak ada artinya apalagi ucapan yang mengandung unsur dosa seperti berghibah, mengadu domba, berbohong, berdebat, dan lain sebagainya.

Dan jika kita pikirkan dan kita renungkan, banyak ucapan-ucapan yang terucap dari Lidah kita berupa ucapan-ucapan yang tidak ada artinya. Artinya, diucapkan atau tidak, tidak membahayakan diri kita atau orang lain juga tidak menguntungkan diri kita atau orang lain. Itulah sifat dari kebanyakan ucapan yang terucap dari Lidah kita. Padahal waktu yang kita gunakan untuk berbicara dengan ucapan yang tidak ada artinya itu jika kita gunakan untuk bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir maka bisa jadi dengan setiap kalimatnYa Allah akan membangunkan untuk kita satu gedung di surga.

Maka perumpamaan orang yang semacam ini adalah seseorang yang mampu untuk mengambil simpanan yang terbuat daripada emas, tapi dia menggantinya dengan mengambil tumpukan tanah yang tidak bermanfaat.

Orang itu adalah orang yang merugi dengan kerugian yang sangat besar dan akan menyesalinya dengan penyesalan yang tidak ada akhirnya. Karena sesungguhnya seorang mu’min itu diamnya adalah merenung dan bertafakkur, merenungkan ibadahnya dan bertafakkur akan keagungan Alloh sebagai tuhannya. ketika dia melihat sesuatu, maka selalu dia mengambil pelajaran daripada apa yang dipandang dan dilihatnya dan tidak berucap kecuali berdzikir kepada Allah SWT  yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT Yang Maha esa.

Bahkan rosmal utama bagi seorang mukmin adalah waktunya. Maka alangkah ironisnya jika seorang manusia membuang-buang waktunya apalagi untuk sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, bahkan dengan begitu dia telah menelantarkan modal utama yang pernah dimilikinya. Sehingga pantas jika Nabi  bersabda dalam haditsnya:

عن أبي هريرة- رضي اللّه عنه- عن رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم قال: مِن حُسنِ إِسلَامِ المَرءِ تَركُهُ مَا لَا يَعنِيهِ . (رواه ابن ماجه)

Termasuk daripada kesempurnaan dari islamnya seseorang adalah jika dia meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. (H.R. Ibn Majah)

Bahkan telah diriwayatkan dalam suatu hadits yang berupa ancaman yang lebih berat daripada hadits tadi. Dimana ketika terjadi peperangan Uhud, Nabi  melihat seorang wanita sedang memandangi jenazah anaknya terlihat anak itu terikat diperutnya dengan satu batu untuk mengganjal rasa laparnya.  Maka kemudian ibunya itu mengusap debu yang menempel di wajahnya seraya berkata, “Beruntunglah engkau nak, dengan surga yang akan engkau tempati.” Maka Nabi  bersabda:

وقال أنس بن مالك قال صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدرِيكِ لَعَلَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ فِي مَا لَا يَعنِيهِ وَ يَمنَعُ مَا لَا يَضُرُّهُ . (رواه الترمذي)

Bagaimana engkau tahu hal itu akan terjadi kepada anakmu? Mungkin saja dia telah berbicara dengan pembicaraan yang tidak ada arti dan manfaatnya dan dia tidak mencegah dirinya dari sesuatu yang akan membahayakannya. (H.R. Tirmidzi)

Maka hadits ini berupa sebuah ancaman yang artinya walaupun seseorang mati dalam keadaan syahid, akan tetapi kalau seumpama dia menelantarkan dan membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak ada arti dan manfaatnya baik di dunia maupun di akhirat, maka kesyahidannya itu tidak akan membawa kemuliaan pada orang itu atau justru kesyahidannya akan dipalingkan daripada orang tersebut. Wal iyadzu billah…

Diriwayatkan, pernah suatu waktu, Nabi  berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Nanti akan masuk dari pintu masjidku ini seseorang yang termasuk daripada penghuni surga.” Maka masuklah sahabat Abdullah bin Salam. Kemudian banyak para sahabat mendekatinya dan memberi kabar gembira memberikan ucapan selamat kepadanya dan mereka bertanya, “Apakah amalan yang biasa engkau  amalkan yang engkau yakini mendekatkan dirimu kepada Allah SWT dan memasukkanmu ke dalam surga?” Maka dia menjawab, “Aku adalah seorang yang lemah, akan tetapi aku hanya bermodalkan kepada apa yang aku harapkan daripada Allah SWT berupa bersihnya hati dan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku.”

وقال أبو ذر قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم “اَلَا أُعَلِّمُكَ بِعَمَلٍ خَفِيفٍ عَلَى البَدَنِ ثَقِيلٍ فِي المِيزَانِ” قُلتُ “بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ” قال “هُوَ الصَّمتُ وَحُسنُ الخُلُقِ وَتَركُ مَا لَا يَعنِيكَ” . (رواه ابن أبي الدنيا)

Berkata sahabat Abu Dzar , “Telah bersabda kepadaku Nabi Muhammad , “Maukah engkau aku ajarkan suatu pekerjaan yang ringan dilakukan oleh badan tapi sangat berat timbangannya di atas timbangan amal.” Maka aku berkata kepadanya, “Baik wahai Rosul.” Kemudian Nabi  bersabda, “Yaitu banyak diam, berakhlak mulia, serta meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. (H.R. Ibn Abi Dunya)

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives