Website Resmi Habib Segaf Baharun

Haruskah Seorang Istri Menjadi Wanita Karir?

    Pertanyaan semacam ini sangatlah familiar di telinga masyarakat kita akhir-akhir ini. Haruskah seorang wanita menjalani wanita karir atau cukupkah seorang istri itu melaksanakan tugas utamanya dalam rumah tangganya sebagai penjaga rumah suami, penjaga harta suami, pendidik anak-anak serta merawatnya, dan menyiapkan kebutuhan suaminya baik di rumah, ketika akan berangkat atau sepulang suaminya dari kerja.

Sesungguhnya Allah  menciptakan manusia yang terdiri dari kalangan wanita dan pria. Dan masing-masing Allah  menciptakan tugas-tugas yang sesuai dengan kepribadiannya. Maka di dalam Al-Qur’an Allah  mensifatkan para wanita selalu berada di dalam rumah. Yaitu firman Allah  yang berbunyi:

“Dan hendaknya kalian berdiam dalam rumah dan janganlah kalian keluar dengan menampakkan aurotmu sebagaimana wanita pada zaman jahiliyah dahulu dan laksanakanlah sholat”.[2]

Maka jika dicermati dari ayat tersebut wanita itu identik dengan pekerjaan rumah. Dan itulah kodrat para wanita. Jangan anggap bahwasanya pekerjaan rumah itu adalah pekerjaan yang sangat enteng. Tentunya itu adalah pekerjaan yang sangat berat. Mulai dari tugas membersihkan, merapikan dan merawat rumah serta segala perkakasnya. Lebih-lebih di dalam mendidik anak-anak, yang semuanya itu dibebankan dan menjadi tugas bagi seorang istri atau seorang ibu. Sehingga pantas jika para ulama’ mengatakan:

“Ibu itu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya”.

Belum lagi seorang istri harus sibuk menyiapkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan suami ketika dia akan berangkat kerja. Begitu pula dia akan sibuk ketika menyambut suami tatkala pulang kerja. Dari mulai menyiapkan teh atau kopinya, lalu makanannya, sampai urusan-urusan yang berkaitan dengan hubungan suami istri yang semuanya itu membutuhkan kepada persiapan dan perencanaan.

Disinilah dapat kita bayangkan jika seumpama seorang istri kemudian juga sibuk bekerja di luar rumah. Maka siapakah yang akan merapikan rumahnya? Siapakah yang akan mendidik anak-anaknya? Dan siapa yang akan menyiapkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan suami sebelum dan sesudah pulang kerja?. Seharusnya pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh mereka yang menganut bahwasanya wanita bebas untuk berkarir.

Maka di sini saya katakan bahwasanya agama islam sama sekali tidak melarang para wanita untuk bekerja atau berkarir di luar rumah, asalkan dia benar-benar bisa melaksanakan pekerjaan rumahnya sebagai seorang istri terhadap suaminya, sebagai seorang ibu terhadap anak-anaknya dan juga sebagai penjaga harta dan rumah dari pada suaminya. Karena itulah fungsi dari pada  istri yang sesungguhnya.

Kemudian, marilah sama-sama kita renungkan, bagaimana kiranya ketika seorang istri baru pulang kerja bertepatan dengan pulangnya suami dari kerjanya. Disaat itulah sang suami meminta seorang istri membuatkan teh atau kopi, sedangkan si istri pada waktu itu dalam keadaan keletihan dan lelah karena baru pulang dari kerja. Sehingga  jika seorang istri kemudian menolak membuatkan teh atau kopi untuk suaminya, hal itu akan menimbulkan konflik atau sebuah perselisihan antara keduanya. Itu baru contoh yang kecil, lalu bagaimana dengan yang lainnya, misalnya seorang suami meminta kepada istrinya untuk berhubungan intim disaat istri kelelahan karena baru pulang dari kerja dengan alasan itu istri  menolaknya, akibatnya istri akan mendapatkan dosa besar. Sementara suami tidak akan terlampiaskan keinginannya. Dan itu menyebabkan suatu bahaya besar yang berhubungan dengan naluri kelelakiannya. Oleh karena itu, di sini dijelaskan bahwasanya agama islam tidak melarang seorang istri bekerja atau berkarir di luar rumah, asalkan dia tidak meninggalkan kewajibannya yaitu tugas-tugasnya sebagai sebagai istri terhadap suaminya dan sebagai seorang ibu kepada anak-anaknya. Jika dia dapat melakukannya maka hal itu  tidak dilarang oleh agama islam.

Kesimpulannya seorang istri tidak dilarang untuk menjadi wanita karir atau berkarir di luar rumah asalkan memenuhi syarat-syarat dibawah ini:

  1. Dia telah mendapatkan izin dari suami jika telah bersuami, atau dari walinya jika belum bersuami dan harom hukumnya bagi wanita jika tidak mendapatkan restu atau izin dari suami atau walinya.
  2. Hendaknya pekerjaan yang dia kerjakan merupakan sebuah pekerjaan yang cocok dengan kewanitaannya.
  3. Pekerjaannya tidak menghalanginya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri terhadap suaminya dan sebagai seorang ibu terhadap anak-anaknya. Maka jika pekerjaan di luar rumah menghalangi atau akan menyebabkan kelalaian atau keteledoran terhadap dua pekerjaan tersebut. Hukumnya dia telah berdosa dengan karirnya itu.
  4. Pekerjaan yang dilaksanakannya tidak terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom dan harom hukumnya seorang wanita yang berkarir yang menyebabkan dia harus bercampur dengan laki-laki yang bukan mahrom. Karena hal itu bertentangan dengan hukum islam.
  5. Pekerjaan tersebut tidak menyebabkannya melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Misalnya dengan menampakkan auratnya dengan memakai pakaian-pakaian yang tidak islami, atau tidak memakai kerudung, atau meninggalkan sholat 5 waktu dan jika ini terjadi, maka harom bagi wanita tersebut berkarir di luar rumah.
  6. Pekerjaan yang dilakukan oleh wanita karir itu telah diiringi dengan ketaqwaan kepada Allah sehingga yang mendorongnya untuk bekerja serta bagaimana dia bekerja dan dalam lingkungan apa, semua berdasarkan pada syariat agama islam yang mengaturnya. Adapun jika terdapat seorang wanita yang kurang ketaqwaannya terhadap Allah  jika dia menjadi wanita karir, dia akan meninggalkan dan menanggalkan syariat islam berkaitan dengan apapun maka harom baginya berkarir dalam keadaan semacam itu.
  7. Perlu diketahui, bahwasanya syarat-syarat tersebut di atas disyariatkan ketika wanita akan berkarir, tujuannya adalah untuk membatasi para wanita melaksanakan sesuatu yang bukan kewajibannya. Karena hukum asalnya seorang wanita bekerja di luar rumah adalah tidak wajib akan tetapi hanya mubah. Karena kewajiban dalam mencari nafkah dalam islam adalah kewajiban dari seorang suami. Dan ini merupakan apresiasi dan kemuliaan yang diberikan oleh islam kepada para wanita dengan mendudukkan para wanita hanya di rumah bagaikan para ratu dalam singgasananya dan hanya mengurusi anak-anaknya. Sedangkan hal yang berkaitan dengan keperluannya menjadi tanggungan suami dan bukan menjadi tanggung jawab bersama. Itulah kebijakan agama islam yang sangat bijak kepada para pemeluknya. Adapun contoh-contoh pekerjaan yang pantas dilakukan para wanita di luar rumah adalah sebagai berikut:
  8. Menjadi dokter yang berkaitan dengan kewanitaan. Seperti dokter rahim atau bidan, dokter spesialis kandungan dan kemaluan, dokter spesialis penyakit dalam dan sebagainya yang seharusnya ini banyak dari kalangan wanita. Yang pada zaman ini justru lebih banyak menjadi profesi dari kalangan laki-laki.
  1. Juru dakwah  untuk berseru menuju jalan Allah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dengan menjadi seorang ustadzah dan da’iyah. Dan ini juga sedikit kita temukan pada zaman ini. Yang lebih banyak adalah para ustadz dan para da’saw. sedangkan para ustadzah dan para da’iyah jarang sekali.
  2. Seorang pengajar yang khusus untuk murid-murid perempuan.
  3. Pekerjaan-pekerjaan sosial yang membantu masyarakat umum, baik ketika tertimpa musibah bencana yang komplek ataupun yang lainnya seperti dapur umum ataupun yang berkaitan dengan perawatan, dan sebagainya.
  4. Perkantoran yang khusus untuk perempuan.
  5. Salon yang khusus untuk wanita.
  6. Semua pekerjaan yang tidak terkait dengan laki-laki atau yang khusus untuk perempuan.
  1. Yang semacam ini contoh-contoh pekerjaan-pekerjaan dari para wanita di luar rumah. Adapun jika karirnya dilakukan dalam rumah maka tidak terbatas. Boleh dia membantu suaminya, atau berdikari sendiri di dalam rumahnya dengan tanpa batasan-batasan berkaitan dengan pekerjaan apapun.

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives