Website Resmi Habib Segaf Baharun

Eksistensi seorang istri Shalihah dalam rumah tangga

Sebagaimana disebutkan pada bab sebelumnya bahwasanya kesalehan seorang anak baik laki-laki maupun perempuan, tergantung pada kesalehan seorang istri atau dalam hal ini ibunya. Karena seorang ibu adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Dimana seorang ibu akan mulai mendidik anak itu dari mulai semenjak anak itu dalam kandungannya, lalu menyusuinya, kemudian merawatnya hingga dia besar. Kesimpulannya seorang anak akan lebih banyak bersama ibunya dari pada bersama ayahnya. Karena seorang ibu mempunyai tugas tersendiri yang berbeda dengan tugas seorang ayah.  Yaitu menjaga harta suaminya, menjaga anak-anaknya serta mendidiknya dan mempersiapkan keperluan suami sebelum dan setelah dia datang dari tempat kerjanya.

Tatkala rumah tangga itu dilaksanakan dengan dasar demikian, maka akan terlaksana semua harapan dari pada suami istri. Dari kehidupan yang layak serta mencukupi, dan anak-anak yang menjadi harapan dan impian setiap orang tua untuk menjadi anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah. Adapun jika aturan yang telah ditentukan Nabi s tersebut ditentangnya sehingga seorang istri ataupun seorang ibu ikut-ikut berkarir seperti ayah dan suaminya, maka akan terjadi kelak malapetaka dan sesuatu yang tidak diharapkan oleh keduanya. Karena biasanya tatkala sepasang suami istri sibuk dengan karirnya masing-masing, maka anak itu akan ditinggalkan bersama seorang pembantu yang notabene adalah seorang yang jauh dari pada pendidikan yang cukup untuk menjadi seorang pendidik yang diharapkan. Walaupun  yang semacam ini tidak bisa dijadikan barometer. Karena bisa jadi seorang pembantu itu lebih bisa mendidik. Tapi umumnya, seorang pembantu adalah seorang yang minim pendidikannya. Sehingga anak tersebut akan terdidik dengan didikan pembantu itu, mau tidak mau. Karena setiap anak itu apalagi pada usia 3-6 tahun adalah usia dimana ia suka meniru apa yang dilihat dan apa yang didengarnya. Maka tak heran jika kedua orang tua yang semacam ini kemudian mendapati anaknya tidak seperti yang diharapkannya. Maka dari itu, guna menghasilkan dan mendapatkan anak-anak yang sholih dan sholihah yang menjadi investasi bagi keduanya, hendaknya masing-masing berada dalam posisinya yang telah ditetapkan oleh agama, dan jangan melebihi batas dari apa yang telah disyariatkan. Walaupun hal itu diperbolehkan asalkan dengan syarat-syarat tertentu. Sebagaimana telah dinyatakan dalam syariat islam ini dan seharusnya seorang istri yang berharap mendapatkan ridho Allah dan Rosulnya serta ridho suaminya, hendaknya dia menjadi istri yang sholihah, menjaga rumah suaminya, serta mendidik anak-anaknya, dan mempersiapkan kebutuhan suami sebelum dan sesudah dia pulang dari pada kerjanya. Itu akan lebih baik dan lebih menguntungkan dari segi materi, moral, keharmonisan, kebahagiaan, keberhasilan suaminya dan yang lain-lain. Dan jangan sampai seorang istri mempunyai pikiran bahwasanya apa yang dilakukannya itu tidak mengandung pahala yang sangat besar. Karena apa yang dilakukannya itu melebihi dari pada apa yang dilakukan oleh laki-laki di dalam ibadah apapun. Artinya seorang istri yang semacam ini menjadi seseorang yang paling banyak ibadahnya dan pahalanya serta paling mudah mendapatkan ridho Allah. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits Nabi berikut ini:

عن أسماء بنت يزيد الأنصارية قدمت الى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله إِنِّيْ وَافِدَةُ النِّسَاءِ إِلَيْكَ،  وقال النبي صلى الله عليه وسلم:مَاذَا وَرَاءَكِ؟ فقالت: بِأَبِيْ أَنْتَ وَأُمِّيْأَنَّ اَيُّ امْرَأَةٍ فِيْمَشْرِقِالأَرْضِ وَمَغْرِبِهَا تَعْرِفُ مَخْرَجِيْ هَذَا اليَوْمِ لَكَانَ لهَاَ مِثْل مَقَالَتِيْ، ثم قالت: إِنَّمَا بُعِثْتَلِلرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَآمَنَّا بِكَ وَبِإِلَهِكَ الَّذِيْ أَرْسَلَكَ، وَإِنَّا مَعَاشِرُ النِّسَاءِ مَحْصُوْرَاتٌ مَقْصُوْرَاتٌ، قَوَاعِد بُيُوْتِكُمْ، وَمُقْضِىْ شَهْوَاتِكُمْ، وَحَامِلَاتِ أَوْلَادِكُمْ، وَإِنَّكُمْ مَعَاشِرُ الرِّجَالِ فُضِّلْتُمْ عَلَيْنَا بِالجُمعَةِ وَالجَمَاعَاتِ، وَعِيَادَةِ المَرِيْضِ، وَشُهُوْدِ الجَنَائِز، وَالحَجِّ بَعْدَ الحَجِّ، وَأَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ الجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ إِذَا خَرَجَ حَاجّاً أَوْ مُعْتَمِراً أَوْ مُرَابِطاً حَفِظْنَا لَكُمْ أَمْوَالَكُمْ، وَغَزَلْنَا لَكُمْ أَثْوَابَكُمْ، وَرَبَيْنَا لَكُمْ أَوْلَادَكُمْ، فَمَا نُشَارِككُمْ فِيْ الأَجْرِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟
فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِلَى أَصْحَابِهِ بِوَجْهِهِ كُلِّهِ ثُمَّ قَالَ: هَلْ سَمِعْتُمْ مَقَالَةَ امْرَأَةٍ قَطُّ أَحْسَنَ مَسْأَلَتُهَا فِيْ أَمْرِ دِيْنِهَا مِنْ هَذِهِ؟ فَقَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ! مَا ظَنَنَّا أَنَّ امُرَأَةً تَهْتَدِيْ إِلَى مِثْلِ هَذَا؟ فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِلَيْهَا ثُمَّ قَالَ لَهَا: اِنْصَرِفِيْ أَيَّتُهَا المَرْأَةُ وَأَعْلِمِيْ مَنْ خَلْفَكِ مِنْ النِّسَاءِ أَنَّ حُسْنَ تَبَّعُلِ إِحْدَاكُنَّ لِزَوْجِهَا، وَطَلَبَهَا مَرْضَاتِهِ، وَاتِّبَاعَهَا مُوَافَقَتِهِ، يَعْدِلُ ذَلِكَ كُلِّهِ. فَأَدْبَرَتْ المَرْأَةُ وَهِيَ تُهَلِّلُ وَتُكَبِّرُ اسْتِبْشَاراً

Bahwasanya Asma’ bintu Yazid Al-Anshoriyah, sahabat wanita Nabi telah datang kepada Nabi s dan dia berkata, “Wahai Rasulullah… Aku adalah utusan semua perempuan kepadamu.” Maka kemudian  Rosulullah  menjawab, “Apa yang kau bawa?” Maka dia menjawab, “Demi ayah dan ibuku wahai Nabi… Sesungguhnya setiap perempuan baik di timur maupun di barat yang mengetahui sebab keluarku ini, pasti akan berucap seperti ucapanku dan ingin menanyakan seperti pertanyaanku. Padahal engkau telah diutus kepada laki-laki dan para wanita. Dan kami telah beriman kepadamu dan kepada Tuhan Yang telah mengutusmu. Sesungguhnya kami ya Rosulallah… sangat terbatas gerak-geriknya. Kami selalu melazimi rumah-rumah kalian, kami hanyalah pemuas hawa nafsu kalian, kami adalah pengasuh anak-anak kalian. Sedangkan kalian para lelaki, Allah utamakan dengan kewajiban sholat Jumu’ah dan sholat jama’ah, menyambangi orang sakit, mengantarkan jenazah, melakukan haji sesering mungkin. Dan lebih dari itu, telah diwajibkan kepada kalian jihad. Padahal jika seseorang dari kalian keluar dari rumahnya baik untuk haji, umroh maupun  jihad kepada Allah, kamilah yang menjaga harta-harta kalian, kamilah yang mengurusi pakaian-pakaian kalian, kamilah yang mengasuh anak –anak kalian. Apakah kami juga mendapatkan pahala apa yang kalian lakukan?” Maka kemudian Nabi s menoleh kepada sahabat-sahabatnya dengan seluruh badannya. Dan Nabi s berkata kepada mereka, “Apakah kalian mendengar seorang wanita bertanya lebih baik dari pertanyaan perempuan ini di dalam urusan agamanya?” Maka serentak mereka berkata, “Ya Rasulullah.. Kami tidak menyangka ada seorang wanita yang mendapatkan petunjuk untuk bertanya seperti pertanyaan ini.” Maka kemudian Nabi s menoleh kepada perempuan itu dan beliau bersabda kepadanya, “Pergilah engkau wahai perempuan. Dan beritahukan kepada siapapun dari kalangan para wanita dibelakangmu, bahwasanya kalau kalian benar-benar mengurusi suami kalian dan berusaha untuk mencari keridhaannya, serta selalu mengikuti kemauannya, yang demikian itu akan menjadikan kalian lebih baik dari pada pahala yang telah mereka dapatkan. Maka kemudian perempuan itu pulang dari Nabi s dalam keadaan bertahlil, bertakbir karena saking bergembiranya.

Coba kita renungkan dalam hadits tersebut di atas. Betapa mulianya, betapa agungnya dan betapa mudahnya seorang wanita mendapatkan ridho Allah dan mendapatkan pahala-pahala yang besar dan banyak hanya dengan ia melaksanakan semua perintah suaminya, serta menjaga anak-anak dan hartanya. Maka dari itu, hendaknya bagi setiap wanita muslimah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan dirinya sebagai istri yang sholihah bagi suaminya  dan hendaknya hal itu dijadikan sebuah amalan yang paling diandalkan nantinya di depan Allah, yaitu dengan menjadi istri yang sholihah Sebagaimana yang telah disebutkan sifatnya oleh Nabi s. Seperti di dalam hadits dibawah ini:

قال رسول الله :أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ المَرْءُ؟ المَرْءَةُ الصَّالِحَةُ الَّتِي إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ. رواه أحمد

Yang artinya:Bersabda nabi s “apakah kalian mau aku beritahukan dengan sebaik-baik simpanan dari seseorang, yaitu seorang istri yang sholihah setiap kali dia melihatnya akan menyenangkannya,dan jika diperintah selalu mentaatinya serta jika suaminya pergi darinya maka dia akan menjaganya .

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ألا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَاءِكُمْ فِيْ الجَنَّةِ كُلُّ وَدُوْدٍ وَلَوْد إِذَا غَضِبَتْ  أَوْ أُسِيْئَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا قَالَتْ هَذِهِ يَدِيْ فَيْ يَدِكَ لَا أَذُوْقَ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى

Yang artinya:Dari sahabat Anas d , bahwasannya Nabi s  bersabda apakah kalian mau ku beritahukan dengan perempuan ahli surga, yaitu setiap perempuan yang manja dan menyenangkan bagi suaminya dan suka melahirkan, jika dia marah atau suaminya marah kepadanya maka ia berkata: “ini tanganku berada di tanganmu aku tidak akan tidur sampai engkau ridho dan memaafkanku”

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives