Website Resmi Habib Segaf Baharun

Jangan asal Berfatwa!

   Di antara sifat orang-orang sholeh, dia sangat berhati hati di dalam memberikan suatu fatwa apalagi sampai mengajarkan suatu ilmu tanpa didasari ilmu yang dipelajari dari guru-guru yang mumpuni di bidangnya, dan mendapatkan ijazah serta mendapatkan izin langsung dari gurunya untuk memberikan fatwa maupun mengajarkannya. Di mana di antara kebiasaan para ulama’ terdahulu, mereka tidak mengajar bahkan tidak memberikan fatwa, kecuali setelah mereka mendalami sedalam-dalamnya terkait dengan ilmu syariat. Dengan kata lain, mereka mengetahui apa yang diajarkannya danapa yang difatwakannya dengan dasar dalil-dalil yang dibawa oleh madzhab yang empat atau paling sedikit dengan madzhab yang dia tekuni atau dia lazimi. Sehingga mereka tidak memberikan fatwa, kecuali seperti perkataan seseorang di antara kita pada siang hari ketika ditanya, “Apakah sekarang siang ataukah malam?” Maka dengan mantab dan meyakinkan dia mengatakan, “Sekarang adalah siang.”

Jika dia mendapati fatwa yang akan di fatwakannya, jawaban yang akan suatu pertanyaan seperti jawabannya ketika menjawab siang ataukah malam hari, barulah dia akan memberikan fatwanya tersebut maupun menjawab pertanyaan itu.

Imam Malik apernah ditanyakan tentang 10 pertanyaan. Sembilan pertanyaan dia menjawab dengan jawaban ‘Wallahu A’lam’, sementara hanya satu yang dia jawab dengan ilmunya.Sehinggadia tidak menjawab sembilan pertanyaan tersisa, kecuali setelah muthola’ah dan bertanya kepada yang lebih tahu.

Berbeda dengan zaman sekarang ini, di mana banyak ustadz-ustadz dadakan dan mufti-mufti musiman yang bukan ahlinya dipanggilnya ustad, yang bukan di bidangnya dikatakan pakar. Sehingga kita dapatkan, ada seseorang yang basicnya sebagai pelawak ataupun sebagai anggota legislatif dan pejabat, tiba-tiba dalam waktu yang singkat sudah merubah dirinya menjadi seorang ustadz atau seorang da’i. Inilah zaman yang dinamakan oleh Nabi ydalam hadits yang berbunyi:

سَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ كَثِيْرٌ خُطَبَائُهُ قَلِيْلُ فُقَهَاؤُه)رواه البخارى(

“Bakal datang pada kalian suatu zaman di mana pada zaman itu banyak ahli pidatonya, tapi sedikit para Fuqoha’nya (orang alimnya).” (HR. Bukhori)

Oleh karena itu, di sini harus dibedakan antara da’i dengan orang alim. Setiap da’i belum tentu dia alim, dan setiap orang alim pasti dia seorang da’i. Karena arti da’i di sini adalah mengajak manusia dan berseru kepada mereka menuju ke jalan kebaikan dan menjelaskan kepada mereka tentang isi syariat yang sebenarnya. Sedangkan para ulama’ yang mengerti dalam ilmu agama itu, mereka sangat tahu dan faham dengan ucapannya. Baik dia yang berdiri di atas mimbar maupun hanya majelis yang diadakannya, begitu pula di dalam buku-buku yang dikarangnya. Berbeda dengan seorang orator yang hanya berserudari atas mimbar. Bisa jadi dia memang seorang orator ulung, tetapi dia tidak membidangi di dalam  agama. Berapa banyak mereka yang ahli orator, tetapi dia bukan seorang alim. Bahkan banyaknya ahli pidato dan orator yang semacam itu merupakan sebuah pertanda akan dekatnya hari kiamat sebagaimana tersebut dalam hadits di atas.

Imam Junaida, seorang alim, sufi yang telah memprakarsai ilmu tasawwuf, suatu waktu dia diperintahkan oleh gurunya untuk mengajar dan memulai memberikan fatwa. Maka beliau dengan cara yang baik dan halus menolaknya. Beliau berkata kepada gurunya, “Wahai guru, aku takut untuk memberikan pelajaran dan fatwa karena tiga ayat berikut ini.” Kemudian dia membaca ayat-ayat tersebut, yaitu:

وَمَا أُرِيدُ أَن أُخَالِفَكُم إلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْه)هود : 88(

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88)

كَبُرَمَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ)الصاف 61: 3(

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Hud 61: 3)

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ)البقرة : 44(

“Kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah : 44)

Maka kemudian setelah gurunya mendengarkan alasan daripada Imam Junaid, dia membiarkannya dan tidak memaksanya. Sehingga kemudian, sesaat setelah itu dia datang kembali kepada gurunya dan berkata, “Guru, aku siap untuk mengajar dan menggantikanmu untuk mengajar di dalam masjid.” Maka gurunya tersebut berkata kepadanya, “Kenapa tidak sejak tadi engkaumenyanggupinya, kok baru sekarang?” Imam Junaid menjawab, “Iya, tadi aku telah bermimpi Nabi ydan beliau memerintahkanku untuk mengajar dan menggantikanmu.” Maka gurunya berkata, “Masya Allah engkau Junaid, Engkau tidak mengajar sampai Nabi ysendiri yang memerintahkanmu.”

Berkata Imam Sya’ronia, “Pernah suatu waktu aku mengetahui seseorang yang dia itu mengajar terkait dengan ilmu tasawwuf, ilmu bathin, dan ilmu hakikat, yang berbicara tentang fana’ dan baqa’. Suatu waktu, dia mengikutiku dan melazimi pelajaranku. Maka aku memanggilnya dan bertanya kepadanya, “Apakah syarat sahnya wudhu’ dan syarat sahnya sholat?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah belajar ilmu terkait dengan fiqih.” Lalu aku katakan kepadanya, “Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya ibadah itu harus berlandaskan kepada kitab dan sunnah. Dan melandasinya serta mendasarinya dengan kitab dan sunnah itu adalah suatu perkara yang wajib menurut semua para ulama’. Sehingga jika seseorang tidak bisa membedakan antara perkara yang wajib dengan yang sunnah, yang haram dengan yang makruh, maka dia adalah seorang yang bodoh, dan orang yang bodoh itu tidak boleh diikuti, ditauladani. Baik dalam jalan yang zhohir (ilmu syariat) apalagi jalan yang bathin (ilmu hakikat).” Maka orang tersebut diam seribu bahasa dan tidak membantahku. Akan tetapi, kemudian dia meninggalkan majelisku dan selalu menghindariku.

Apalagi bahaya di dalam memberikan fatwa tanpa meyakini kebenarannya itu sangat berbahaya, berdasarkan firman Allah ldan hadits-hadits berikut ini:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا)الإسراء  17: 36(

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’ 17: 36)

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ)الأعراف 7: 33(

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan juga mengharamkan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) jika kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan), jika kamu  mengada-adakan atas nama Allah apa yang tidak kamu ketahui.”” (QS. Al-A’rof 7: 33)

Nabi ybersabda:

أَجْرَؤُكُمْ عَلَى الفَتْوَى أَجْرَؤُكُمْ عَلَى النَّار )رواه الدارمي(

“Paling cepat kalian memberi fatwa adalah paling cepatnya kalian masuk ke dalam neraka.” (HR. Ad-Daromi)

Wallahu A’lam..

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Streaming

Buku Karya Al Habib Segaf Baharun,M.H.I

JADWAL STREAMING

UMROH 2018

Video Ceramah

Audio Ceramah

KONTAK KAMI :

Archives